Alinea Bangun Rumah Mama Di Pesta Pinggiran 2026

7 hours ago 3

Partisipasi Alinea dalam Pesta Pinggiran 2026 melalui pameran Voice of Mama-Mama mendapat perhatian luas dari pengunjung. Pada hari pertama penyelenggaraan di Taman Ismail Marzuki, booth Voice of Mama-Mama didatangi pengunjung yang tertarik melihat, membaca, dan bahkan mengabadikan gambar.

Minat pengunjung tidak terlepas dari pendekatan visual booth yang menyalin suasana ‘Rumah Mama’ di Lembah Grime Nawa. Elemen-elemen sederhana, susunan ruang, ornamen, dan penataan karya menghadirkan kesan keseharian yang dekat, seolah pengunjung diajak bertamu, bukan sekadar mengunjungi pameran. Pendekatan ini membuat karya terasa membumi dan mudah diakses, tanpa kehilangan kedalaman ceritanya.

Nurul, pengunjung asal Sulawesi, mengaku tertarik karena booth ini “terasa jujur dan hangat.” Menurutnya, visual yang menyerupai rumah membuat cerita tentang Papua terasa lebih dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari. “Bukan seperti melihat Papua dari jauh, tapi seperti sedang mendengarkan cerita di ruang keluarga,” ujarnya.

Konsep booth Voice of Mama-Mama dikembangkan oleh Alinea bersama tim artistik Areta Raina dan Maria Rosari Amadea, yang menerjemahkan karya serta materi residensi di Lembah Grime ke dalam ruang pamer sekaligus berfungsi sebagai ruang temu.

Menurut Stebby Julionatan, sekretaris program, pendekatan ini dipilih sebagai upaya menghadirkan perjumpaan setara antara karya, pengalaman lapangan, dan pengunjung.

Ruang Temu di Rumah Mama

Stebby Julionatan menjelaskan bahwa konsep booth Voice of Mama-Mama

Saat sesi tur booth bersama kurator di hari pertama Pesta Pinggiran 2026, Stebby Julionatan menjelaskan bahwa konsep booth Voice of Mama-Mama dikembangkan melalui kerja kolaboratif Alinea bersama tim artistik Areta Raina dan Maria Rosari Amadea. Proses tersebut menjadi bagian penting dari upaya menerjemahkan pengalaman residensi ke dalam ruang pamer yang dapat diakses dan dirasakan oleh publik.

Menurut Stebby, yang juga menjabat sebagai sekretaris program, pendekatan ini berangkat dari gagasan ruang temu sebuah ruang yang memungkinkan perjumpaan setara antara karya, pengalaman lapangan, dan pengunjung. Ruang pamer, sebisa mungkin berperan sebagai ruang singgah yang membuka percakapan dan keterhubungan.

“Kesahajaan keseharian masyarakat adat Namblong menjadi rujukan utama dalam merancang booth ini,” ujar Stebby saat mempresentasikan konsep ruang. “Bagaimana ruang hidup dirawat, bagaimana cerita dibagikan, dan bagaimana pengetahuan diturunkan baik secara lisan maupun visual, semua itu kami upayakan hadir dalam pengalaman pengunjung.”

Pendekatan artistik tersebut, lanjutnya, berusaha merangkum pengalaman lapangan secara jujur dan berlapis, tanpa mengubahnya menjadi sesuatu yang artifisial. Dengan cara itu, Voice of Mama-Mama diharapkan dapat menjadi ruang perjumpaan yang tetap setia pada konteks asal cerita, sekaligus terbuka bagi tafsir dan dialog bersama publik.

Suara untuk Papua

Melvin, salah satu pengunjung membagikan suaranya mengenai Papua.

Di dalam ruang temu, pengunjung juga diajak berinteraksi melalui papan suara publik dengan pertanyaan terbuka: “Jika Papua Mendengarkan, kamu ingin bilang apa?” Beragam jawaban muncul, tentunya disertai empati dan sikap kritis pengunjung terhadap isu Papua.

Salah satunya datang dari Melvin, yang menuliskan, “Papua bukan tanah kosong. Pembangunan harus berjalan seiring dengan kehidupan masyarakat adat.”

Melalui pengalaman ruang, karya, dan interaksi, Voice of Mama-Mama menghadirkan pameran yang tidak hanya menampilkan hasil residensi, tetapi juga membuka ruang dialog yang hidup.

Kehadiran pengunjung yang antusias menunjukkan bahwa pendekatan otentik, kolaboratif, dan berangkat dari keseharian mampu menjembatani cerita dari akar dengan beragam lapisan yang lebih luas.(sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan