Pengakuanku: Tuhan Yesus Merespon Teriakku

4 hours ago 2

Oleh : Toga Tambunan

Puting beliung malapetaka amukan zaman,
Tragedi 1965/1966,
Kami dicampakkan ke kamp Jilatan,
di tebing lingkaran eksekusi,
Kuteriak putusasa : “Tuhan Yesus, kalau Kau benar ada,
kembalikan kacamataku”.
Seraya kuterjuni kali kecil Jilatan itu,
di posisi semula terperosok, ditengah banjir bandang tinggi kecoklatan,
Ujang jari kakiku menemukan,
diantara batu.
Kacamata-tebalku silinder minus empat setengah,
Tepat dititik garis tegak dari posisi terjatuh,
Padahal arus air sangat deras,
menghanyutkan.
Sungguh ajaib,
Sungguh ajaib,
Luar biasa aneh!
Diluar akali!
Realistis terbukti kongkrit,
Tuhan Yesus nyata ada,
merespon peduli putusasaku.
Mataku bisa kembali melihat jelas.

Kemudian aku di penjara tentara Martapura,
suatu saat mata terpejam seakan tiduran,
sudah lewat tengah malam.
Aku wisata,
singgah sebentar tepat depan rumah kami,
di Pematang Siantar.
Kulihat seberkas sinar emas, cahayanya teramat indah, mencengangkan,
tiada duanya,
turun dari langit,
mengusung peti mati cantik berukiran ornamen Toba,
berhenti tepat diatas atap rumah,
Aku sadar, ayahku mangkat.
Bahwa wisata itu ternyata keajaiban
menihilkan penjara Martapura aku dibui,
dan jarak laut darat ribuan km,
dengan Pematang Siantar,
secara supra-alami,
memberi tahu ayahku mangkat,
Karena kuasa ajaib Allah Yang Maha Kuasa.
Persis dengan isi telegram ayah wafat,
yang menyusul kuterima.

Tadinya aku tak peduli
ada tidaknya Dia.
Ternyata personal Yesus hanya tertulis dalam Alkitab,
tidak dalam kitab lain apapun,
Terbukti yang kualami,
Tuhan Yesus merespon nyata teriakku,
dengan fakta supra-alami,
Bukti keberadaanNya konkrit aktif,
Berkarya mengasihi manusia,
diriku.
Firmannya mencopot selubung penghalangi jiwaku,
merontokkan butir-butir pengetahuan semula,
Dentuman besar,
Homo erectus,
Survival of the fiftest,
Manusia itu homo contradiktus.
Tak kupercaya lagi segala teori itu,
Ternyata dahak di akalbudiku, jiwaku, hatiku,
kubuang bersih,

Alkitab memelekkan rohani,
tentang doktrin imperialisme menjajah dengan demokrasi,
dan tentang doktrin sosialisme untuk merdeka, dengan perjuangan kelas.
Keduanya sama-sama mengorbitkan rudal maut,
berujung maut,
Demi merebut level terpuncak,
memuaskan nafsu kedagingan,
tanpa batas,
dengan tehnologi,
sesaat usia belaka.
Ternyata rekayasa Lucifer, iblis, pembinasa keji,
berkontradiksi prima,
Terhadap Allah,
Mengingkari otoritas mutlak kuasa kedaulatan Kerajaan Allah,
yang tetap menata harmoni hidup manusia,
menulis FirmanNya di kalbu tiap orang,
demi penyambutNya,
pasti lolos melewati maut,
terus hidup melampaui usia di bumi.

Sungguh takjub menyadari,
sistem ajaib integrasi hormonal fisiologi,
proses peristaltik mekanisme metabolisme,
mekanisme otomatis organ-organ tubuh,
mekanisme jaringan syaraf hingga otak,
maupun mekanisme mandiri kinerja,
nyata melampaui akal manusia.
Takkan tertiru teknologi dunia sekalipun tercanggih,
sampai kapanpun.
Dia telah hibahkan sejak janin,
untuk tiap orang.
Juga kau pun diberkati tanpa berseru putus asa.
Kau tidak perlu berteriak mengulang kualami,
menagih keajaiban.
Mukjizat telah dianugerahkanNya pada tiap orang,

Aku belajar di jalanNya,
selaku penatua jemaat,
liturgis senandungkan pujian Tuhan,
dan menyandang panggilan Evangelis,
Sementara jungkir balik,
menata harmoni rumahtanggaku dan keluarga-besarku.
Bersamaan itu pula,
kusambut semarak bunga bertabur,
pujian berulangkali,
selaku agen asuransi jiwa,
diakui pandai bernegosiasi,
Sehingga mendongakkan kepalaku,
bermegah, posisi terhormat.
aku ikuti romantika paradigma duniawi,
bersandar kontradiksi dimodifikasi baru,
Sehingga solidaritasku berkawan sesama terpinggirkan itu,
Kuanggap sama dengan aktivitasku
mengasihi sesama di lingkungan jemaat,
seakan keduanya melayani Tuhan.
Untunglah aku sakit,
katarak dioperasi,
ginjal dibedah, cabut batu
akibatnya fungsi ginjalku lemah,
diabetes pula,
Maka sakitku bangkitkan kusadar:
Aku telah melenceng jauh,
dari kebenaran Kerajaan Allah,
RancanganNya bukanlah rancangan manusia.

Meski proses lama,
kulalui berbagai ujian lewat sukacita,
yang silih berganti ujian sakit dan derita parah,
Kutempuh bertobat total,
Kumohon ampun Tuhan Yesus,
Atas seluruh dosaku.
Aku mengakui sepenuh jiwaku, akalbudiku, kekuatanku,
Yesus itu Tuhan dan Allahku,
Raja diatas segala pemerintah dunia,
Yang tersalib dibunuh,
di Golgota,
Titik mula Dia kalahkan pembinasa keji,
hingga kedatanganNya kedua kali,
Dia yang berkuasa memusnahkannya,
dan juga terhadap penolakNya serta penghujat Roh Kudus,
Hingga kontradiksi prima iblis,
tuntas lenyap sempurna.

Kutolak menerbitkan antologi,
semua puisiku dan esaiku semula,
Kutolak riwayatku dibui,
dikreasi jadi film tontonan,
Kutolak nestapaku menjadi sarana,
pembangkit dendam membenci,
pribadi orba penjahat HAM,
Namun biarkan sejarah saja, mencatat murni lengkap
merinci tepat sempurna rangkaian jujur sesungguhnya,
untuk nalar kebenaran keadilan berbangsa.

Kejahatan harus diatasi,
namun pembalasan itu hakNya,
bukan olehku maupun peran kita penyintas korban kejahatan HAM,
Walau masih terasa,
kebengisan brutal
siksa sadis luarbiasa
oleh para penjahat HAM,
para interogator
juga penjahat HAM tertinggi
dan berdampak derita hingga kini,
Kurenungkan lama FirmanNya,
Meyakini KebenaranNya
mengampuni,
kumaafkan mereka semua,
Biarlah hukum memproses kejahatan mereka.
mengungkap kebenaran keadilan,
Tanpa dendam tanpa benci.
Tuhan Yesus telah ambil alih pikul seluruh bebanku,
dendam kesumat terpendam,
di hatiku hilang lenyap,
diusir Rohkudus, utusanNya, penginsyafku akan kebenaran Firman-Nya,
Kini batinku terasa lega,
langkahku ringan bebas nyaman,
mengimani kehendakNya,
amin atas keadilanNya.

Sambutlah Dia, Allah yang ajaib luarbiasa,
Kerajaan Allah terus
menganugerahkan rahmat-Nya,
membersihkan sistim lama berpikir
Rohkudus senantiasa menginsyafkan,
Nikmati air hidup Tuhan Yesus yang terus mengaliri hati,
sembah Tuhan Yesus,
percayai Tuhan Yesus,
cintai Tuhan Yesus sepenuh hati,
sepenuh kekuatan,
sepenuh akalbudi,
Satu-satunya Raja yang benar.

MetodikMu mempesona luar biasa Tuhan Yesus,
lebih dari segala kemegahan dunia,
Engkau mengasihi kami,
sehingga hidup sebagaimana
adanya,
Kusaksikan hikmatMu tak berkesudahan,
Kucintai Engkau, tulus sepenuh hatiku.
Aku mau dalam diriMu,
DiriMu didalam hidupku.

Selamanya kusembah Engkau Tuhan Yesus,
Kumohon ampun
atas seluruh dosaku.
Kusembah Engkau Juruselamatku,
Aku mau taat setia turut jalanMu,
Kumohon Engkau berkenan,
namaku terdaftar dalam Buku Kehidupan,
hingga kelak masuk Kerajaan Allah,
hidup kekal bersamaMu,
di Langit Baru Bumi Baru.
Haleluya.

Bekasi, 2025

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan