SHNet, Jakarta- Raden Ajeng Kartini masih hidup dalam ingatan masyarakat Indonesia, khususnya kaum wanita. Mengapa? perjuangan untuk emansipasi kaum wanita sangat dirasakan dan sekarang sudah terbukti. Banyak perempuan yang sederajat bahkan melebihi posisi kaum lelaki baik di pemerintahan, swsata, bidang pendidikan, sosial, dan teknologi.
Karena itu setiap bulan April, masyarakat merayakan hari kelahirannya 1 April 1879. Bukan saja bersamaan pada tanggal 21 tetapi di bulan April, masih diperingati kelahirannya dalam “Rangkaian Hari Kartini” seperti yang digelar akhir pekan ini di Taman Bacaan Masyaraat (TBM) Bukit Duri Bercerita yang terletak di kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selalatan.
Hampir 80 anak-anak dan remaja taman bacaan , baik perempuan maupun lelaki menyambut dengan antusias tinggi. Banyak dari mereka mengenakan pakaian kebaya dan pakaian adat/budaya. Acara yang merupakan kolaborasi dengan Permodalan Nasional Madani (PNM) Peduli ini bukan saja membangkitkan semangat perjuangan Kartini, tetapi menjadi ajang untuk mengingatkan generasi muda untuk belajar dan bekerja keras meraih kemajuan, seperti yang diinginkan Kartini.
Semarak peringatan Hari Kartii di TBM Bukit Duri Bercerita ini semakin meriah karena diisi lomba baca puisi tentang Kartini, lomba mewarnai wajah ikonik Kartini, dan penilaian atas pakaian yang mereka kenakan. Di sela lomba mewarnai, lagu Kartini tak henti diperdengarkan. Anak-anak dan remaja yang memadai taman bacaan pun ikut bernyanyi. Sejumlah orang tua yang engantar anak-anak mereka juga ikut hadir dan bernyanyi.
Anak-anak dan remaja, gembira mendapat bingkisan acara Hari KartiniPendiri dan pengelola TBM Bukit Duri Bercerita Safrudiningsih mengatakan, dirinya sangat gembira karena sambutan atau respons yang menyenangkan dari anak-anak dan remaja yang sangat luar biasa.
“Di luar dugaan, mereka menyambutnya dengan kegembiraan yang tinggi mendengar kita akan adakan peringatan Hari Kartini. Anak-anak perempuan berdandan dan mengenakan kebaya. Sedangkan anak lelaki banyak yang mengenakan baju budaya Betawi,” ujar Kak Ning atau Kak Ning-Nong, sapaan akrab Safrudiningsih.
Kak Ning-Nong bersama tim PNM Madani yang memandu acara ini, sekaligus juga bertindak sebagai juri lomba mewarnai, baca puisi, dan apresiasi busana terbaik yang digunakan.
“Semoga kita terus mengingat jasa dan perjuangan Kartini dan yang lebih penting mengikuti kebiasaan belajar Kartini dan menerapkan pola pikir kemajuan yang dicontohkan Kartini,” harap Kak Ning-Nong
Penyerahan hadiah kepada yang mengenakan busana adat/budaya, Fika dan Taymon oleh pengelola TBMBukit Duri Bercerita, Kak Ning-NongLuar Biasa
Di acara peringatan Hari Kartini TBM Bukit Duri Bercerita ini dihadiri beberapa tokoh. Salah satunya mantan Dirjen di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengurusi bidang kebudayaan, Bapak Hari Untoro Dradjat. Dia hadir sejak awal hingga akhir acara.
Dalam sambutannya, pejabat yang diberi kepercayaan mengurusi kebudayaan dan wisata dalam rentang waktu 2003 -2010 dan lanjut dipercaya sebagai staf khusus menteri hingga dipercaya sebagai salah satu tim percepatan pengembangan Candi Borobudur hingga era pandemi Covid-19 ini singkat menyatakan,”Acara Hari Kartini di sini luar biasa.”.
Lebih lanjut Hari Untoro mengatakan, acara merayakan Hari Kartini disambut anak anak Taman Bacaan Masyarakat Bukit Duri dengan penuh semangat, nyanyi, tari, mewarnai gambar, dan baca puisi tentang Kartini. Semangat untuk meraih cita cita pada masa depan, pada anak anak Bukit Duri Tanjakan, Tebet.
“Ini demikian luar bisa dibawah bimbingan Kak Ning-Nong dan Pak Suradi. Saya merasakan ada suasana luar bisa dalam kesederhanaan dan kebersahajaan, upaya pengembangan anak begitu kuat mewarnai perjalanan hidup dan kehidupan ini,” papar Hari Untoro. (sur)


















































