Hadir Saat Pelantikan, Rektor IMDE Totok Amin Soefijanto :Zohran dan Demokrasi Spartan

3 days ago 12

SHNet, New York”Kerja baru saja dimulai”, kata Zohran Kwame Mamdani. Dia menang pemilihan walikota New York, mengalahkan kandidat-kandidat yang didukung oligarki dan rejim politik mapan.

Pada 1 Januari 2026, tepat tengah malam, dia resmi menjadi walikota yang baru untuk periode 2026-2031. Ya, lima tahun, bukan empat tahun seperti masa jabatan Presiden AS.

Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE), Totok Amin Soefijanto, Ed.D, yang tengah berada di AS, hadir di nobar pelantikannya di aula Islamic Community NYC (ICNYC) yang dipimpin oleh Imam Khalid Latif.  Zohran meminta Imam Khalid memimpin doa bersama semua agama di panggung pelantikan.  “Keadilan bukan lagi sekedar slogan, tetapi menjadi struktur,” kata Imam Khalid dengan bersemangat.

Totok mengatakan, di tengah suhu di bawah nol derajat Celsius itu, pelantikan Zohran menghadirkan angin segar bagi kota berpenduduk 8,5 juta itu.  Salju yang turun di malam sebelumnya, menurut banyak warga New York menjadi pertanda alam akan perubahan yang lebih konstruktif bagi banyak orang, termasuk kelompok muslim yang selama ini termarjinalkan.

Semula banyak yang pesimis bahwa seorang Muslim bisa menang kontestasi politik di kota sebesar New York. Esensi puisi berjudul “Proof” dibacakan penciptanya Cornelius Eady adalah penerimaan atas keragaman. “Who said you were too dark?  Too Large, too Queer, too Loud?”  Sang penyair menutupnya dengan baris: “This moment is our proof”.

Ya, menang dan naiknya seorang Zohran adalah buktinya.  Kemenangan Zohran seperti riak gelombang yang akan melebar melampaui batas-batas lima boroughs (“kecamatan”) kota New York — Manhattan, Brooklyn, Queens, the Bronx, dan Staten Island — sampai ke seluruh Amerika Serikat, bahkan seluruh dunia.  Acara pelantikan kemarin jadi simbol itu: jumlah media yang meliput sangat banyak dan datang dari seluruh dunia.

Trump Akhir Berbaik dan Mengundang Zohran

Presiden Trump sendiri terpaksa menelan ludahnya dengan mengundang walikota terpilih tersebut ke Gedung Putih.  “I’ll be cheering for him”, kata Trump saat bertemu dengannya.

Tentu saja, karena Zohran sangat populer dan menang dengan 50,78% suara, mengalahkan Andrew Cuomo, mantan gubernur New York, dan Curtis Sliwa dari partai Republik. Trump menuduh dia komunis dan radikal, sebaliknya dia menuduh Trump “fasis”.

Stigma negatif apapun dari Trump tidak mempan selama kampanye hingga pemungutan suara 4 November 2025 lalu.  Zohran tetap kokoh dan melaju terus.Tidak mempan, karena Zohran sejak awal sudah membangun jejaring relawan hingga mencapai 100.000 orang, yang berkeliling mengetuk pintu dan mengumpulkan donasi kampanye.

Lebih lanjut Totok Amin Soefijanto memparkan, Zohran menyodorkan tema yang sangat dekat dengan kelas pekerja dan anak muda.  Usianya baru 34 tahun dan berani menawarkan kebaruan dalam perumahan, penitipan anak, bus gratis, dan peran pemerintah yang lebih besar dalam urusan publik.

Menurut Totok, Zohran  memang bangga sebagai aktivis kiri, sosialis, dan pro-pekerja.  Bernie Sanders, senator dari Vermont, menyebutkan: “Bukan radikal kalau mau menyediakan penitipan anak, mengendalikan sewa apartemen, dan menyediakan bus gratis agar para pekerja dimudahkan dalam mencapai tempat kerjanya.  Yang radikal adalah membiarkan 1% populasi menikmati kekayaan tanpa kontribusi nyata buat masyarakat.” Bernie Sanders dan Zohran memang sahabat sekubu dalam kelompok Democratic Socialists of America (DSA) yang beranggotakan 85.000 orang.

Kemenangan Zohran, menurut Bernie, adalah awal kemenangan demokrasi yang mengutamakan kepentingan publik dan peran pemerintah yang lebih besar dalam sistem pasar bebas. Pemerintahan Kota New York yang baru akan mengintervensi bisnis privat yang merugikan pekerja atau pemilik properti yang menelantarkan asetnya.

Isu-isu imigrasi juga akan lebih condong ke kelompok imigran yang selama ini diburu petugas ICE (Immigration & Customs Enforcement) sesuai instruksi Trump.  “Tidak di New York”, tegas Zohran yang juga datang ke AS sebagai imigran dari Afrika (lahir di Uganda dari ayah yang muslim dan ibu yang Hindu, dan pindah ke Afrika Selatan, sebelum akhirnya pada usia 7 tahun pindah ke New York).  Dia lulus dari SMA di Bronx dan meraih gelar sarjana dari Universitas Bowdoin di bidang kajian Afrika dan minor pemerintahan pada 2014. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan