Abraham Kuyper, Iman yang Menjelma Menjadi Gerakan

14 hours ago 5

Oleh: Alexander Theodore Duka Tagukawi, SH, STh

Pada 29 Oktober 1837, di kota kecil Maassluis, Belanda, lahir seorang anak pendeta yang kelak mengguncang sejarah bangsanya. Dia adalah Abraham Kuyper. Ayahnya, seorang pendeta sederhana, mungkin tidak pernah membayangkan putranya akan menjadi teolog, jurnalis, pendiri partai politik, rektor universitas, bahkan Perdana Menteri Belanda.

Sangat menarik, masa kecil Kuyper tidak langsung menunjukkan tanda kejeniusan. Gurunya sempat menganggap Kuyper sebagai anak yang lamban. Namun, sejarah sering kali menertawakan penilaian yang tergesa. Kuyper justru menembus Gymnasium di Middelburg, sekolah klasik bergengsi dengan tradisi humanistik yang kuat. Kemudian lulus summa cum laude dari Universitas Leiden dan Kuyper menjelma dari anak yang diragukan menjadi intelektual yang disegani.

Kuyper tidak berhenti pada prestasi akademik karena dia juga mendirikan surat kabar De Standaard dan De Heraut, mendirikan partai politik modern pertama di Belanda, yakni Anti-Revolutionary Party (Partai Anti Revolusi), mendirikan Vrije Universiteit di Amsterdam serta turut memelopori lahirnya Gereformeerde Kerken in Nederland. Hidupnya adalah jembatan antara mimbar gereja dan panggung publik.

Warisan terbesarnya bukan hanya institusi itu tapi keberaniannya mendorong orang Kristen membawa iman ke ranah publik. Kuyper menolak gagasan bahwa iman hanya milik ruang privat. Baginya, pertobatan hati pasti memancar keluar yang bisa mewarnai politik, pendidikan, seni, ilmu pengetahuan, dan seluruh sendi kehidupan.

Ia mengajarkan, Kekristenan bukan sekadar doktrin, melainkan sebuah wawasan dunia (worldview). Seorang Kristen sejati tidak cukup puas dengan keselamatan pribadi; tapi dipanggil memandang dunia melalui terang Alkitab dan memikirkan bagaimana Kristus berdaulat atas seluruh ciptaan.

Kuyper tidak berhenti pada teori karena juga praktisi yang membayar visinya dengan mahal. Pada perayaan 25 tahun kepemimpinannya di De Standaard (1897), ia menyatakan, satu hasrat telah menjadi gairah hidupnya: agar hukum dan prinsip Allah ditegakkan kembali dalam rumah tangga, sekolah, dan negara, meskipun harus berhadapan dengan perlawanan dunia.

Pada zamannya, gereja di Belanda mengalami kekeringan rohani. Agama terjebak dalam formalitas administratif. Sekolah-sekolah makin jauh dari Alkitab. Bangsa kehilangan denyut spiritualnya. Kegelisahan inilah yang melahirkan visi besar dalam diri Kuyper.

Kuyper terlibat dalam pergumulan zamannya sebagai benturan sistem kehidupan: antara modernisme yang berpusat pada manusia dan Kekristenan yang tunduk pada Kristus sebagai Raja. Peperangan ini, menurutnya, harus diperjuangkan secara terhormat, dengan prinsip melawan prinsip, bukan dengan keluhan atau pesimisme.

Kuyper menemukan kekuatan sistematis itu dalam tradisi Calvinisme tapi tidak memutlakkan masa lalu. Kuyper tidak menyalin sejarah secara beku. Ia kembali ke akar Calvinisme dengan membersihkan, menyiraminya dan merawat agar bertunas kembali secara relevan bagi zamannya.

Gerakan inilah yang kemudian dikenal sebagai Neo-Calvinisme, bukan penghancuran tradisi, melainkan pembaruan yang hidup.

Apa yang dapat dipelajari?

Di tengah dunia yang semakin memisahkan iman dari ruang publik, teladan Kuyper terasa amat aktual. Banyak orang Kristen merasa cukup dengan kesalehan pribadi, tetapi enggan terlibat dalam transformasi sosial.

Banyak orang yang mudah mengeluh tentang politik yang kotor, pendidikan yang sekuler, budaya yang merosot, namun sayang sekali karena enggan hadir sebagai garam dan terang di dunia.

Kuyper mengingatkan juga, Kristus tidak hanya Tuhan atas gereja, tetapi Tuhan atas seluruh kehidupan. Iman yang sejati tidak bersembunyi; ia bekerja, menulis, mendidik, membangun institusi, bahkan masuk ke gelanggang politik demi kebaikan bersama.

Teladan lain yang patut direnungkan adalah disiplin hidupnya. Dia sangat peka terhadap waktu karena siang dan malam dipenuhi kerja terarah pada visi ilahi. Ia memberikan tubuh, jiwa, dan roh bagi panggilan yang diyakininya. Tentu, di era distraksi digital dan budaya instan, komitmen seperti ini terasa langka.

Memang tidak semua orang Kristen dipanggil menjadi perdana menteri atau pendiri universitas. Namun, semua orang Kristen dipanggil untuk memiliki visi yang berakar dalam Kristus dan berdampak bagi dunia sekitar. Entah sebagai pendidik, pengacara, petani, pengusaha, pelayan gereja, atau mahasiswa karena setiap bidang adalah ladang kedaulatan Allah.

Kuyper pernah menyatakan, tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah kehidupan manusia yang tidak dapat diklaim Kristus sebagai milik-Nya. Pernyataan ini bukan slogan tapi deklarasi untuk menjadi panduan hidup.

Maka pertanyaan bagi orang Kristen hari ini: apakah iman itu hanya berhenti pada doa-doa pribadi, atau sudah menjelma menjadi gerakan yang menyentuh keluarga, gereja, dan masyarakat?

Sejarah tidak membutuhkan lebih banyak pengeluh. Sejarah menanti orang-orang seperti Kuyper, berani memimpikan bangsa yang tunduk pada Tuhan dan bekerja tanpa lelah untuk mewujudkannya.

Penulis, Alexander Theodore Duka Tagukawi, SH, STh adalah aktivis hukum dan peserta program magister theologi.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan