Viral! Teriakan “PKI” Menggema di Ruang Belajar, Ada Apa di Balik Sosialisasi K3 Bersama PT Vale Indonesia?

14 hours ago 5

KENDARIPOS.CO.ID-- Pagi begitu tenang, hilir mudik siswa berpakaian sekolah Pramuka dan rompi Palang Merah Remaja memasuki ruangan. Dengan sumringah mereka bersenda gurau, bercerita tentang rencana kegiatan yang akan diikutinya hari itu.

Kamis, 12 Februari 2026 ratusan pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa menyiapkan diri untuk mendapat asupan pengetahuan terkait Sosialisasi Berkendara dengan Aman dan Pelatihan Pertolongan Pertama dalam rangka Bulan K3 Nasional di Desa Tokalimbo, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

Tampak juga guru, aparat desa dan tenaga kesehatan puskesmas berkumpul. Bersiap mendengarkan. Kegiatan dibuka dengan diawali penyampaian maksud dan tujuan kegiatan dilaksanakan oleh Manager Health Safety Environment and Risk (HSER) Sorowako Growth PT Vale Indonesia (PT Vale), Murianti.

Dengan penuh semangat, Muri sapaan akrabnya menyapa para siswa yang hadir. Bercerita tentang tujuan kegiatan dilakukan agar mereka mendapatkan pengetahuan safety riding sebagai bagian kampanye keselamatan yang dijalankan perusahaan selama ini.

“Kehadiran kami disini untuk mengedukasi anak-anak kita di Loeha Raya agar adik-adik bisa memahami pentingnya memperhatikan keselamatan dalam berkendara juga cara pertolongan pertama pada kecelakaan. Tahun lalu ada lebih dari 25 kecelakaan. Kita mau hal itu tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Namun sayang, belum kelar materi diberikan, dari arah depan pintu masuk bermunculan sekelompok orang-orang yang menamakan dirinya kelompok Aliansi Petani Loeha Raya (APL). Mereka datang dan berteriak untuk membubarkan kegiatan. Microphone yang sedang dipegang pemateri direbut. Padahal saat itu, para siswa sedang fokus menyimak materi kedua yaitu Pertolongan Pertama. 

Materi ini sangat ditunggu, apalagi di awal sudah diberi info akan ada praktik langsung Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), Penanganan Patah Tulang, Penanganan Luka dan Pendarahan juga Teknik Penanganan Korban yang Pingsan. 

Wajah-wajah penuh semangat belajar berubah jadi muram. Mereka kesal, sedih tapi tak mampu berbicara. Materi yang begitu ditunggu-tunggu tak bisa dilanjutkan. Padahal sedari masuk ruangan, siswa-siswi berbisik penasaran melihat manekin yang di pajang di depan. Ada juga beberapa alat balut luka yang tersusun rapi. 

Generasi penerus bangsa ini terdiam bersama manekin dan alat peraga lain. Benda ini mati tak bisa berbicara dan mirisnya ia jadi saksi bisu bahwa anak manusia sedang direngut kebebasan belajarnya. 

Sekelompok orang yang masuk tidak peduli sama peserta, apalagi manekin yang dipajang dengan harapan akan bermanfaat untuk menyebarkan informasi. Sikap arogansi disaksikan ratusan anak-anak di bawah umur.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan