Empat tahun “Baca Di Tebet” Bersyukur dalam Keprihatinan

1 day ago 10

SHNet, Jakarta-Rasanya kurang pas merayakan sesuatu di tengah gelapnya situasi bernegara. Semenjak dua tahun belakangan kebebasan berpikir yang melahirkan kebebasan berekspresi di Indonesia mengalami pembungkaman serius. Hampir seribu orang dijadikan tersangka tanpa alasan jelas selain melontarkan kritik keras kepada pemerintah. Lalu 400 orang demonstran dinyatatakan bersalah. Mereka kebanyakan adalah mahasiswa, pelajar, penulis dan aktivis, dan pastinya para pembaca buku.

itulah ungkapan yang dilontarkan pendiri dan pengelola Baca Di Tebet, Kanti W. Janis akhir pekan ini ketika   merenungkan 4 tahun perjalanan Baca Di Tebet. Perpustakaan dan ruang temu yang dilengkapi sebuah cafe di lantar dasar, kini  telah menjelma menjadi sarana diskusi, pembahasan, dan pertukaran banyak ide, terutama dalam kaitan dunia kepenulisan dan berbagai hal yang terkait dengan itu. Banyak sastrawan, budayawan, penulis, dan penggiat literasi yang memanfaatkan tempat di kawasan Tebet Barat Dalam Raya ini untuk peluncuran dan bedah buku, dan pastinya diskursus yang menggairahkan.

Kanti W Janis mengaku gembira Baca Di Tebet trus berkipah untuk masyarakat tapi pada saat bersamaan, dia galau dan amat prihatin. Kenapa? Saat ini, katanya, banyak buku-buku bacaan disita dan dijadikan barang bukti. Medium ekspresi personal seperti media sosial pun saat ini tidak lepas dari intaian. Sementara puluhan ribu murid keracunan MBG (makan bergizi gratis)  tidak ada satu pun penyelenggaranya dijadikan tersangka. Selain itu KKN semakin membabi buta hingga menjadi normalisasi.  “Melihat itu semua sebenarnya kami nyaris tidak ingin mengadakan perayaan penanda apa pun pada ulang tahun kali ini sebagai bentuk keprihatinan mendalam,” katanya

Namun, bagaimana pun kata Kanti, keberadaan perpustakaan publik yang independen seperti Baca Di Tebet sebagai ruang merawat pengetahuan dan diskursus harus tetap ada untuk meniupkan semangat dan harapan di tengah zaman edan ini. Oleh karena itu, akhirnya, diputuskan tetap merayakan ruang ini meski dalam suasana lebih hening dengan syukuran kecil dan satu bincang literasi “Ekosistem Penulisan Baru dan Dunia Sastra di Era Digital”  yang menghadirkan pengelola ID Writers & Other Maps, Valent Mustamin, Jumat malam  (20/02/2026).

Di akhir percakapan, Kanti W Janis mengungkapkan, selama empat tahun ini kami sangat bersyukur bahwa kehadiran perpustakaan dan ruang temu Baca Di Tebet dapat diterima masyarakat luas. Tidak hanya sekedar menjadi tempat membaca, namun juga menjadi ruang aman, nyaman serta inklusif pertukaran gagasan dari banyak kalangan. Ruang aman akan melahirkan pemikiran-pemikiran otentik. Hal ini dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan jaman. “Harapan ke depannya tentu kami ingin terus meningkatkan kualitas layanan dan terus menjaga gagasan-gagasan brilian, merawat gagasan Indonesia,”ujarnya.

Sementara salah satu pengelola Baca Di Tebet, Wien Muldian mengtakan, setiap tahun, Baca Di Tebet selalu memilih tema peringatan HUT-nya. Di tahun 2026 ini Baca Di Tebet, dalam situasi saat ini menekankan pentingnya membaca tidak hanya sebagai kegiatan fisik, tetapi juga sebagai proses mental dan emosional.

Wien menjelaskan, pikir menegaskan pentingnya berpikir kritis dan analitis saat membaca, sehingga pembaca dapat memahami dan menginterpretasikan informasi dan juga pengetahuan dengan lebih baik.  Juga rasa menekankan proses membaca dengan empati dan perasaan, sehingga pembaca dapat terhubung dengan teks dan memahami makna yang lebih dalam.

“Membaca dengan pikir dan rasa menjadi cocok sebagai tema tahun 2026 dan menjadi bagian kampanye daya baca yang diusung Baca Di Tebet sejak berdiri 4 tahun yang lalu,”ujar Wien

Pendiri Idwriters.com, Valent Mustakim, kanan dipandu Wien Muldian dan Kanti W Janis dalam diskusi, Jumat (20/02/2026)

“Database” Penulis Indonesia

Dalam bincang literasi, pendiri https://idwriters.com/ Valent Mustamin, mengungkapkan dirinya sejak 12 tahun membangun situs yang menampung nama dan biodata penulis Indonesia. Semula terbatas pada tokoh sastra, tapi dalam dua tahun terakhir dikembangkan untuk tokoh atau penulis dari semua genre. “Masih belum banyak, baru sekitar 700-an penulis yang kami data dan masuk Idwriters,” katanya.

Tujuannya, untuk lebih mengenalkan para penulis Indonesia di jagad global. Dari sana diharapkan akan ada komunikasi dan pertukaran ide-karya dan idealnya, karya para penulis Indonesia dapat diterjemahkan dalam bahasa internasional sehingga karya itu bisa dinikmati masyarakat global. “Semua saya lakukan sendiri dan biaya sendiri. belakangan ada volunteer dan diaspora yang ikut bantu,”kata Valent.

Masih dalam kaitan basis data penulis ini, Valent juga menyebut situs lain yakni Other Map yang bisa disebut ‘anak’ dari Idwriters.com. Harapannya Others Map melahirkan banyak jurnal atau semacam majalah online dari penulis indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Ini juga bentuk pengenalan penulis Indonesia ke mancanegara.”Kalau ini kita berharap, embaca berlangganan. Beda dengan Idwriters.com yang gratis,” katanya.

Pemandu diskusi ini, Kanti W Janis dan Wien Muldian sangat menghargai upaya Valent yang dinilianya sangat luar biasa, apalagi dengan biaya mandiri.  Menurutnya, basis data penulis dan karyanya amat penting untuk membangun ekosistem dunia kepenulisan Indonesia. Sayangnya, selama ini Pemerintah kurang serius mengenai hal ini. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan