SHNet, Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif memperkuat ekosistem creative tech nasional melalui audiensi dengan East Ventures.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan komitmen kemitraan dengan East Ventures menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan perlambatan investasi global melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan sektor bisnis.
“Kami percaya ekonomi kreatif akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri dan investor menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem berbasis kekayaan intelektual,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026.
Pertemuan ini juga menjadi bagian dari program dana ekraf untuk pengembangan akses pendanaan, pembiayaan, dan investasi ekonomi kreatif, sekaligus tindak lanjut program Ekraf Tech Innovation Challenge. Audiensi tersebut menegaskan peran strategis modal ventura dalam mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif berbasis teknologi dan kekayaan intelektual.
Kehadiran East Venturer ini juga menjadi wujud sinergi hexahelix antara pemerintah, pelaku bisnis, dan ekosistem inovasi dalam menjawab tantangan pembiayaan industri kreatif.
“Kolaborasi hexahelix diperlukan agar inovasi teknologi dan talenta kreatif tetap memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan,” jelasnya.
(Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf)Partner East Ventures Melisa Irene menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi pasar utama investasi perusahaan modal ventura tersebut.
“Dari lebih dari 300 perusahaan portofolio East Ventures, sekitar 75 persen berada di Indonesia, sementara sebagian lainnya tersebar di Singapura dan negara ASEAN,” ujarnya.
Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa dan tingkat penetrasi internet mencapai 80,6 persen, Indonesia masih menjadi pasar potensial bagi pengembangan produk digital, khususnya di sektor e-commerce, fintech, dan layanan berbasis aplikasi.
Kontribusi startup lokal juga tercatat signifikan. Startup on-demand di Indonesia telah menciptakan sekitar 588 ribu lapangan kerja dan memberikan tambahan pendapatan rumah tangga hingga Rp33,2 triliun, menegaskan peran ekonomi kreatif digital sebagai pendorong kesejahteraan.
Peluang baru turut muncul dari berkembangnya sektor startup berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencatat nilai investasi sekitar US$ 542,9 juta pada 2024. Tren ini diperkuat oleh dukungan lintas kementerian dan lembaga melalui berbagai program penguatan ekosistem inovasi nasional.
Dalam audiensi tersebut turut hadir perwakilan East Ventures antara lain Government Relations Hasintya Saraswati, Business Development Martin Tanuwijaya, Director of Strategy Fore M. Fahmi Rachmattulah, Founder Compawnion Stephani Herman, dan Founder Amoda Robin Renardi Yovianto. Sedangkan Menteri Ekraf Teuku Riefky didampingi Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Muhammad Neil El Himam, serta jajaran terkait di lingkungan Kementerian Ekraf. (Stevani Elisabeth)


















































