Sutradara Riri Riza Berbagi Kisah Perjalanan Karirnya di Kampus IMDE Jakarta

10 hours ago 6

SHNet, Jakarta-Sutradara kenamaan Riri Riza berbagi kisah awal perjalanannya mengenal dunia film, khususnya karirnya sebagai sutradara di kampus Intitut Media Digital Emtek (IMDE) Jumat (17/04/2026). Ia mengungkapkan bahwa keputusannya menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta, jurusan perfilman, merupakan langkah yang tepat dan bahkan melampaui ekspektasinya.

Baginya, film adalah medium yang merangkum berbagai elemen seni, mulai dari visual, musik, hingga storytelling. Setelah lulus, ia bergabung dengan Miles Films dan terlibat dalam produksi film Anak Seribu Pulau, sebuah dokudrama yang menjadi pijakan awal dalam mengasah kepekaan riset dan observasi terhadap kehidupan nyata.

Sesi diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan untuk bertanya. Salah satu mahasiswa IMDE, Nazwa, mengangkat pertanyaan tentang bagaimana membagi porsi pemikiran antara sutradara yang berorientasi kreatif dan produser yang berfokus pada aspek administratif.

Riri Riza menjawab bahwa kunci utamanya adalah kesamaan visi dan misi. Ia mencontohkan kolaborasinya dengan Mira Lesmana, di mana hubungan pertemanan dan kebiasaan bertukar ide, baik dari bacaan, tontonan, maupun hal-hal sederhana, menjadi fondasi kuat dalam proses kreatif mereka.

Pertanyaan lain dari siswa SMAN 1 Jakarta membahas metode penyutradaraan aktor anak. Riri menjelaskan pengalamannya dalam film Laskar Pelangi, di mana ia tidak memberikan naskah secara langsung, melainkan membangun pemahaman karakter melalui bercerita dan pendekatan emosional kepada para pemain anak.

Sebagai penutup, Riri Riza menyampaikan refleksi personal yang menginspirasi. Ia menyebut bahwa menjadi sutradara adalah sebuah kesempatan luar biasa, karena memberinya posisi unik sebagai “penonton pertama”. Ia memiliki kendali untuk menentukan kualitas setiap adegan sebelum dinikmati oleh publik. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kreativitas sejati lahir dari proses yang reflektif, kolaboratif, dan tanpa batas, sejalan dengan semangat Dies Natalis IMDE tahun ini, “Creativity, Unlimited,”.

Foto bersama Riri Riza dan jajaran Pimpinan IMDE, usai acara

Kreatif Tanpa Batas

Perayaan Dies Natalis ke 28, Institut Media Digital Emtek tahun ini menghadirkan sebuah acara istimewa bertajuk “Creativity, Unlimited”, yang dikemas dalam format talk show inspiratif. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara praktisi industri kreatif dengan generasi muda, menghadirkan Dr. Riri Riza, S.Sn., M.A., sebagai narasumber utama dan dimoderatori oleh Adlino Dananjaya, M.Sn., selaku dosen IMDE. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa IMDE, siswa dari SMAN 1 Jakarta Barat, serta peserta umum yang antusias mengikuti jalannya diskusi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto,Ed.D., yang menyoroti jejak karya Riri Riza dalam perfilman Indonesia. Dalam sambutannya, ia menekankan bagaimana memori kolektif penonton terhadap karya-karya Riri menjadi bukti nyata bahwa kreativitas tidak memiliki batas. Perspektif tersebut menjadi pengantar yang kuat terhadap tema “Creativity, Unlimited,” yang tidak hanya berbicara tentang kebebasan berekspresi, tetapi juga keberanian untuk terus mengeksplorasi kemungkinan baru dalam berkarya.

Memasuki sesi utama, moderator membacakan profil perjalanan karier Riri Riza, mulai dari film panjang pertamanya Kuldesak (1998), sebuah karya omnibus bersama; Mira Lesamana, Rizal Mantovani dan Nan Achnas, hingga karya terbarunya Rangga Cinta (2025). Deretan karya penting seperti Ada Apa dengan Cinta? 2, 3 Hari Untuk Selamanya, Kulari Ke Pantai dan Laskar Pelangi turut disebutkan sebagai bagian dari kontribusinya terhadap industri film nasional. Setelah itu, Riri Riza dipersilakan naik ke panggung dan memulai diskusi yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna.

Sementara itu Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, Ed.D dalam sambutannya mengatakan, tema kita hari ini adalah “Creativity, Unlimited”. Mengapa? Karena di era digital saat ini, teknologi hanyalah alat. Jiwa dari setiap karya adalah ide yang merdeka.

Berbicara tentang kreativitas yang merdeka, kita tidak bisa berpaling dari sosok di tengah-tengah kita saat ini. Mas Doktor Riri Riza bukan sekadar sutradara; beliau adalah arsitek rasa dalam industri film Indonesia.

Jejak Langkah Sang Maestro

Perjalanan Mas Riri adalah bukti bahwa kreativitas yang tekun akan membuahkan sejarah. Kita tentu ingat:

  • Petualangan Sherina (2000):  Sebuah fenomena           yang membangkitkan kembali film Indonesia dari tidur panjangnya.
  • Gie (2005): Bukti kedalaman intelektualitas beliau dalam meramu sejarah menjadi visual yang puitis.
  • Laskar Pelangi (2008): Salah satu film terlaris sepanjang masa yang tidak hanya menghibur, tapi mengangkat harkat pendidikan di pelosok negeri.

Pencapaian beliau di ajang internasional, mulai dari Berlin International Film Festival hingga Singapore International Film Festival, membuktikan bahwa cerita lokal yang digarap dengan jujur akan selalu menemukan audiens globalnya.

Inspirasi dari Rekanan dan Dunia

Seorang maestro film Hollywood, Martin Scorsese, pernah berkata: “The most personal is the most creative.”

Hal ini sejalan dengan apa yang sering diungkapkan oleh rekan duet Mas Riri, produser Mira Lesmana, yang menyebut Mas Riri sebagai sosok yang “selalu gelisah untuk mencari cara baru dalam bercerita.” Kegelisahan itulah yang kita sebut sebagai api kreativitas.

Bahkan kritikus film internasional sering memuji karyanya sebagai potret Indonesia yang autentik—sebuah kualitas yang sulit ditiru jika kita hanya mengejar tren tanpa memiliki akar yang kuat.

Pesan untuk Generasi Muda

Untuk kalian, anak-anak muda dari SMA, SMK, dan mahasiswa IMDE:

Gunakan kesempatan hari ini untuk mencuri ilmu. Industri media digital bukan sekadar tentang pixel atau coding, tapi tentang bagaimana kalian menyentuh hati manusia melalui karya.

Dunia mungkin punya batas, tapi imajinasi kalian jangan pernah diberi pagar. Sesuai dengan semangat 28 tahun IMDE, kami terus berkomitmen menjadi wadah bagi lahirnya sineas dan kreator digital masa depan. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan