Bukber dan Edukasi Kesehatan, Keseruan Kolaborasi TBM Bukit Duri Bercerita-Ngabila Care-PAPRA

11 hours ago 6

SHNet, Jakarta- Kolaborasi jadi kata kunci keberhasilan suatu program atau kegiatan. Begitu pula saat kegiatan buka puasa bersama atau bukber, kolaborasi antara Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bukit Duri Bercerita, Ngabila Care, dan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba atau PAPRA, acara bukberpada akhir pekan ini (07/03/2026) berlangsung meriah, seruu, dan interaktif.

Acara kolaborasi ini diberi tajuk Talkshow AMR dan buka bersama dengan tema “What Actions Can We Do to Prevent AMR” dengan narsumber Fikriansyah – Apoteker (Global Company – Industri Farmasi) dan  Annisa Devi – Dokter hewan (PhD student Uni Melbourne). Lebih 100 orang terdiri  anak-anak, remaja, dan orang tua meramaikan acara ini. Hujan yang turun sejak siang tak menghalangi hadirin untuk datang. Untungnya menjelang acara, hujan berhenti.

Pendiri “Ngabila Care”, dr.Ngabila Salama menekankan pentingnya memperkenalkan bijak dan rasional memakai dan membeli obat sedini mungkin bahkan melalui nyanyian untuk anak-anak PAUD terutama untuk mencegah ancaman resistensi antibiotik di kemudian hari yang sangat membahayakan

“Jadi sangat dibutuhkan untuk bisa meminum obat sesuai indikasi, sesuai petunjuk, caranya benar, sesuai dosis, dan tentunya memantau efek samping,” ujar Ngabila Salama. yang kemudian bernyanyi bersama hadirin tentang minum obat yang dikatkan dengan simbol jari. Semua jari mulai kelingking hingga jempol diberi makna agar masyarakat lebih mudah mengingat pesan.

Sementara pendiri dan sekaligus pengelola TBM Bukit Duri Bercerita, Safrudiningsih mengatakan, dirinya gembira karena kolaborasi dengan Ngabila Care dan PAPRA ini berlangsung lancar, meriah dan sesuai target. Artinya pesan-pesan kesehatan yang disampaikan baik oleh narasumber dr. Ngabila maupun Fikriansyah dipahami hadirin.

“Masyarakat di Bukit Duri ini butuh edukasi kesehatan  yangmudah dicerna dan dipraktikkan oleh mereka. Dan dr. Ngabila Salama, Fikriansyah serta drg. Annisa  telah menyampaikannya dengan baik dan mudah dimengerti. Kami sangat gembira,” kata Safrudiningsih yang biasa disapa Kak Ning-Nong

Selain Fikriansyah  dan Annisa Devi, tim dari PAPRA yang datang cukup banyak yakni Donny – Apoteker (RS di Purwakarta), Ani – Perawat Kemenkes UPT RSCM), Ririn – Umum (dinas di basarnas), Ridwan – Guru (Pemprov DKI), Aldi – Akuntan (dinas di Kemenkop), Restu – Perawat gigi (RSUD di Jakarta), Age – Umum (dinas di Kemenhub), dan Fitria – Apoteker (Kemenkes UPT RSCM)

Fikiriansyah atau yang biasa disapa Bang Fikri, seorang apoteker yang peduli dengan isu kesehatan masyarakat, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara Talkshow AMR: “What Actions Can We Do to Preevent AMR” menjelaskan, langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah AMR.

Ia menekankan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan, hanya diperoleh dari tenaga kesehatan, penting untuk dihabiskan, tidak dibagikan ke orang lain, serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi. “Kita harus menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi AMR, bukan menjadi bagian dari masalah,” ujar Fikri.

dr. Ngabila Salama tengah memberikan materi, didampingi, pendri TBM Bukit Duri Bercerita, Safrudiningsih, dan pemateriapt. Fikriansyah serta moderator drh Annisa, duduk

Kesehatan dan Resistansi Antimikroba

Selain itu, Fikri juga mengajak peserta untuk lebih bijak dalam mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. Saat diskusi, topik vaksinasi juga menjadi sorotan, karena menjadi salah satu langkah kunci dalam pencegahan.

Sementara drh. Annisa Devi Rachmawati yang menjadi moderator acara ini, adalah PhD Student University of Melbourne, Australia. Dia mengungkapkan, Sabtu sore di bulan Ramadhan ini menjadi sangat spesial karena dia menghabiskan waktu dengan belajar bersama dengan teman-teman dari TBM Bukit Duri Bercerita . Sambil menunggu berbuka puasa, kami belajar tentang kesehatan dan resistansi antimikroba.

“Saya sebagai moderator acara dan perwakilan dari sektor kesehatan hewan turut berbagi cerita serta menjawab pertanyaan dari adik-adik serta ibu-ibu yang sangat antusias. Pada acara hari ini saya berbagi informasi tentang apa itu resistansi antimikroba, apa yang perlu diperhatikan saat membeli dan mengonsumsi obat, serta bahaya resistansi antimikroba,”katanya

Dia menyampaikan pentingnya untuk tidak memberikan obat-obatan manusia terutama antibiotik kepada hewan peliharaan di rumah karena hal tersebut dapat membahayakan hewan serta memicu terjadinya resistansi antimikroba.

Foto bersama di akhir acara

Salah satu panitia, Fitria Nur Hidayah menjelaskan latar belakang terbentuknya PAPRA. Dikatakan, di Indonesia, integrasi yang terbatas antara kelompok profesional, masyarakat, dan inisiatif kesehatan digital telah menghambat implementasi pengelolaan antimikroba (AMS) dan pencegahan serta pengendalian infeksi (IPC).

“Asosiasi untuk Pengendalian dan Aksi Resistensi Antimikroba (PAPRA) muncul untuk mengatasi kesenjangan ini melalui pendekatan yang digerakkan oleh masyarakat dan berorientasi pada inovasi,” katanya.

Lebih lanjut dikemukakan Fitria yang juga salah satu inisiator mengatakan, PAPRA berawal pada Mei 2019 sebagai Apoteker Peduli AMR, sebuah gerakan sukarelawan yang dipimpin oleh apoteker yang mempromosikan kesadaran AMR. Pada tahun 2021, PAPRA menyelenggarakan Bulan Aksi AMR nasional pertama di Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia dan pemangku kepentingan nasional.

Pada tahun 2022, PAPRA berkembang ke dalam subkelompok multi-profesional termasuk apoteker, dokter, dokter hewan, dan advokat AMR. PAPRA telah menerapkan program pendidikan masyarakat, peningkatan kapasitas profesional, dan keterlibatan pemuda yang dipandu oleh nilai-nilai organisasi KEREN (Kolaboratif, Edukatif, Responsif, Empatik, Nasionalis) (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan