
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Di era yang semakin menuntut dan kompetitif, banyak individu terutama kalangan muda mengalami tekanan mental yang tinggi akibat transisi hidup menuju dunia perkuliahan atau dunia kerja. Salah satu dampak yang sering dirasakan, namun jarang disadari secara serius, adalah overthinking, atau kebiasaan berpikir secara berlebihan.
Overthinking bukan sekadar merasa cemas. Ia bisa memengaruhi kualitas tidur, menurunkan fokus, bahkan mengganggu produktivitas sehari-hari. Pada malam hari, saat tubuh seharusnya beristirahat, justru banyak orang terjebak dalam pikiran yang berputar-putar. Hal ini sering berujung pada insomnia, kelelahan mental, dan kecemasan yang terus-menerus.
Apa Itu Overthinking?
Overthinking adalah kebiasaan berpikir berlebihan terhadap sesuatu baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Orang yang mengalaminya cenderung terus memutar ulang peristiwa masa lalu, atau terlalu memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di masa depan. Akibatnya, pikiran sulit tenang dan sulit mengambil tindakan yang konkret.
Kebiasaan ini bisa menimbulkan efek domino, mulai dari rasa takut memulai sesuatu, terlalu peduli pada pendapat orang lain, kecemasan sosial, hingga menurunnya kepercayaan diri. Jika berlangsung lama, overthinking dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti depresi ringan, gangguan kecemasan, dan burnout.
Apa Pemicunya?
Beberapa faktor umum pemicu overthinking antara lain:
- Tekanan akademik dan pekerjaan
- Pengalaman masa lalu yang tidak terselesaikan
- Rasa takut gagal
- Kurangnya kepercayaan diri
- Penggunaan media sosial yang berlebihan
- Trauma emosional
Pandemi COVID-19 juga turut memperburuk kondisi ini, karena isolasi sosial dan ketidakpastian masa depan memperbesar beban mental yang dialami banyak orang.
Dampaknya pada Keseharian
Overthinking sering kali menyebabkan gangguan tidur. Banyak orang akhirnya terjaga semalaman hanya karena pikiran yang tidak kunjung berhenti. Untuk mengalihkan perhatian, sebagian orang cenderung menggunakan ponsel sebagai "pelarian", namun ini justru memperburuk kondisi karena paparan cahaya biru dapat menekan produksi melatonin, hormon yang membantu tidur.
Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa menjadi pola bawah sadar, sehingga seseorang terbiasa hidup dalam ketegangan dan sulit menikmati momen saat ini.
Cara Mengatasi Overthinking
Mengatasi overthinking membutuhkan kesadaran dan latihan secara konsisten. Dilansir dari halodoc, beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
- Berpikir positif secara aktif
Latih diri untuk mencari sudut pandang positif dari situasi yang dihadapi. - Fokus pada apa yang bisa dikendalikan
Berhenti memikirkan hal-hal di luar kuasa kita, dan alihkan fokus pada langkah nyata yang bisa dilakukan. - Kurangi penggunaan ponsel sebelum tidur
Gantikan dengan aktivitas tenang seperti membaca buku atau meditasi ringan. - Menuliskan pikiran di jurnal harian
Menulis dapat membantu mengurai pikiran dan mengidentifikasi pola kecemasan. - Berbicara dengan orang terpercaya
Mendapatkan sudut pandang dari luar dapat meredakan tekanan internal. - Berlatih mindfulness atau meditasi
Teknik ini terbukti efektif mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesadaran diri.
Overthinking bukan gangguan mental, tetapi bisa menjadi kebiasaan yang merugikan jika dibiarkan tanpa penanganan. Memiliki kendali atas pikiran adalah langkah awal untuk hidup lebih tenang dan produktif. Setiap orang bisa mengalaminya, namun setiap orang juga bisa belajar untuk mengatasinya.(*)