Oleh: Diana Triwardhani
Dalam satu dekade terakhir, dunia bisnis dan pemasaran mengalami transformasi luar biasa yang didorong oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Perusahaan tidak lagi sekadar menjual produk atau layanan, melainkan menciptakan pengalaman pelanggan yang unik dan relevan. Personalisasi real-time—kemampuan menyesuaikan pesan, rekomendasi, dan layanan kepada individu secara instan—menjadi salah satu hasil paling signifikan dari pemanfaatan AI.
Namun, perkembangan ini hadir berdampingan dengan tuntutan baru dari konsumen: keberlanjutan (sustainability). Generasi muda khususnya, tidak hanya menginginkan layanan yang cepat dan relevan, tetapi juga menuntut merek yang peduli terhadap dampak sosial dan lingkungan. Pertanyaannya: bagaimana AI dan personalisasi real-time bisa sejalan dengan prinsip keberlanjutan?
AI dan Personalisasi Real-Time: Apa dan Bagaimana?
AI memungkinkan analisis data dalam jumlah besar untuk memahami perilaku, preferensi, dan kebutuhan konsumen secara mendalam. Dengan teknologi machine learning dan natural language processing, perusahaan dapat melakukan:
Pertama, Menyediakan rekomendasi produk instan – Seperti yang dilakukan Netflix atau Spotify, di mana algoritma menganalisis pola konsumsi pengguna dan memberikan saran personal.
Kedua, Mengoptimalkan komunikasi pemasaran – Email, iklan digital, dan konten media sosial kini dapat disesuaikan untuk setiap individu, bahkan dalam hitungan detik setelah interaksi pertama.
Ketiga, Meningkatkan pengalaman pengguna – Chatbot bertenaga AI mampu menjawab pertanyaan pelanggan secara cepat, 24/7, dengan jawaban yang sesuai konteks.
Personalisasi real-time tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga memperbesar peluang konversi. Data menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung membeli dari merek yang memahami kebutuhan mereka secara spesifik dibandingkan yang menggunakan pendekatan “satu pesan untuk semua”.
Tantangan Etis dan Sosial
Meskipun AI membuka peluang besar, ada tantangan etis yang tidak bisa diabaikan, yakni privasi data, bias algoritma dan ketergantungan pada konsumsi berlebihan. Pertama, Privasi Data: Konsumen khawatir data pribadi mereka digunakan tanpa persetujuan. Regulasi seperti GDPR di Eropa menekankan pentingnya transparansi dalam pengumpulan data. Kedua, Bias Algoritma: AI dapat mencerminkan bias sosial yang ada, misalnya diskriminasi terhadap gender atau kelompok tertentu dalam rekomendasi produk. Ketiga,Ketergantungan pada Konsumsi Berlebihan: Personalisasi real-time sering mendorong konsumen membeli lebih banyak, padahal di sisi lain ada dorongan global untuk konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Keberlanjutan sebagai Nilai Tambah
Keberlanjutan kini bukan sekadar jargon, melainkan nilai yang dicari konsumen. Generasi Z dan milenial menuntut merek bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Mereka ingin tahu: dari mana produk berasal, bagaimana diproduksi, dan apa dampaknya terhadap bumi.
AI berperan penting dalam mendukung keberlanjutan karena berkaitan dengan beberapa hal. Pertama, Efisiensi Rantai Pasok: AI dapat memprediksi permintaan sehingga produksi lebih tepat sasaran, mengurangi limbah bahan baku, dan menekan emisi karbon dari logistik.
Kedua, Optimasi Energi: Perusahaan menggunakan AI untuk mengatur konsumsi energi di gudang, toko, atau pusat data agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Ketiga, Pendidikan Konsumen: Melalui personalisasi, AI bisa mengarahkan konsumen ke pilihan produk yang lebih ramah lingkungan, misalnya dengan label khusus atau rekomendasi “green choice”.
Dengan cara ini, AI bukan hanya alat pemasaran, tetapi juga pendorong transformasi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
AI, Personalisasi, dan Keberlanjutan: Titik Temu
Jika dulu personalisasi identik dengan peningkatan konsumsi, kini ada peluang mengarahkan personalisasi menuju pola hidup yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Misalnya: Kesatu, E-commerce hijau: Platform belanja online dapat menampilkan rekomendasi produk dengan jejak karbon lebih rendah kepada pelanggan yang peduli lingkungan. Kedua, Fashion berkelanjutan: AI dapat memprediksi tren sehingga produksi pakaian lebih tepat, mengurangi fast fashion yang boros sumber daya. Ketiga, Transportasi cerdas: Aplikasi ride-hailing bisa menggunakan AI untuk mengarahkan pengguna ke pilihan transportasi bersama (carpool) demi mengurangi polusi.
Dalam skenario ini, personalisasi real-time bukan sekadar dorongan belanja impulsif, melainkan cara mengedukasi dan mengarahkan konsumen ke perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Studi Kasus
Beberapa perusahaan global sudah mencoba menggabungkan AI, personalisasi, dan keberlanjutan: Satu : Nike menggunakan AI untuk mengelola inventori agar produksi sesuai permintaan, mengurangi produk berlebih yang berakhir di tempat pembuangan. Dua: IKEA meluncurkan aplikasi AR berbasis AI yang memungkinkan konsumen mencoba furnitur secara virtual, mengurangi pengembalian produk (return) yang berdampak besar pada limbah logistik. Tiga : Unilever memanfaatkan AI dalam mengatur konsumsi energi pabrik, sekaligus menyesuaikan pesan iklan dengan nilai keberlanjutan yang mereka usung.
Meski peluang besar, integrasi AI-personalisasi-keberlanjutan menghadapi hambatan, yakni biaya investasi tinggi untuk membangun infrastruktur data dan sistem AI. Kemudian, resistensi internal perusahaan yang lebih fokus pada keuntungan jangka pendek ketimbang keberlanjutan jangka panjang, serta kurangnya literasi konsumen, karena sebagian masih lebih tertarik pada diskon instan ketimbang nilai keberlanjutan.
Masa Depan: Personalisasi yang Bertanggung Jawab
Masa depan personalisasi bukan hanya tentang menjual lebih banyak, melainkan menjual dengan cara yang lebih cerdas dan beretika. Perusahaan dituntut untuk:
Pertama, Mengutamakan transparansi data – Konsumen harus tahu bagaimana data mereka digunakan.
Kedua, Mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam personalisasi – Bukan sekadar “opsi tambahan”, tetapi sebagai default.
Ketiga, Berinvestasi pada AI etis – Menghindari bias, serta mengutamakan kepentingan sosial dan lingkungan.
Jika langkah ini dilakukan, AI dapat menjadi jembatan antara kepuasan konsumen, keberlanjutan lingkungan, dan pertumbuhan bisnis.
AI, personalisasi real-time, dan keberlanjutan bukanlah tiga hal yang saling bertentangan, melainkan bisa menjadi sinergi yang saling memperkuat. AI membantu menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih relevan, personalisasi real-time meningkatkan kepuasan dan loyalitas, sementara keberlanjutan menjaga agar semua itu dilakukan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Di masa depan, merek yang mampu memadukan ketiganya akan unggul dalam pasar yang semakin sadar akan teknologi sekaligus peduli pada bumi. Dengan demikian, keberhasilan bisnis bukan hanya diukur dari laba, tetapi juga dari kontribusinya bagi masyarakat dan planet ini.*
Penulis, Diana Triwardhani, SE.MM., Ph.D adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN Veteran Jakarta