KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Wakatobi tak hanya terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Daerah yang terdiri dari gugus pulau ini, kaya akan budaya yang tak kalah menarik. Seperti halnya kain tenunnya. Lima tenun yang menjadi andalan Wakatobi. Yakni tenun Boke Kaledupa, tenun Gelo Tomia, Sarung Paleka dan Leja dari Liya, tenun Sobi Motif Kuda Laut serta tenun Sobi Kaubarasa Liya.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kain tenun tradisional Boke dari Desa Pajam Kecamatan Kaledupa Selatan. Saking indahnya, kain Tenun Boke ini bahkan pernah dipromosikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pariwisata.
Kain tenun tradisional Boke dari Kaledupa Selatan tepatnya berada di Desa Pajam yang sebelumnya merupakan gabungan dari kampung Pale’a dan kampung Jamarakka. Kain tenun Wakatobi punya ciri khas tersendiri. Tenun Boke misalnya, tenun ikat ini memiliki tingkat kerumitan tersendiri. Karena menggunakan teknik khusus dan penggunaan bahan-bahan alami. Kata Boke sendiri memiliki arti ikat.
Di jantung Desa Pajam, sebuah tradisi menenun yang sudah diwariskan turun-temurun kini hadir kembali dalam bentuk karya seni yang memukau Tenun Boke. Setiap helai benang yang ditenun dengan teliti mencerminkan kekayaan budaya dan keterampilan tangan yang tak ternilai.
Menurut warga setempat Ilu Rubiah, Tenun Boke bukan sekadar kain. Ia adalah cerita, adalah jati diri dan simbol dari kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pajam yang penuh dengan kearifan lokal. Dengan motif khas yang penuh makna, Tenun Boke menggabungkan keindahan alam dan filosofi hidup yang mendalam, menjadikannya lebih dari sekadar kain, tapi juga sebuah karya seni yang hidup.
“Melalui setiap tenunan yang rumit dan setiap warna yang dipilih dengan penuh perhatian, Tenun Boke mengajak kita untuk lebih menghargai warisan budaya yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Tenun Boke, Warisan Budaya dari Desa Pajam". Keindahan dan keunikan Tenun Boke dari Desa Pajam, hasil karya tangan para perajin berbakat yang menjaga tradisi turun-temurun. Dengan motif khas yang sarat makna, Tenun Boke bukan hanya kain, tetapi cerita budaya yang hidup.
“Tenun tradisional gedokan yang masih terpelihara sampai sekarang di Desa Pajam sebagai warisan leluhur turun temurun yang luar biasa. Banyak motif dan pilihan warna untuk fashion kekinian kita. Menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan sekitar kita, juga ada warna sintesis,” tambahnya.
Rasakan keindahan budaya dalam setiap helai Tenun Boke dari Desa Pajam. Dibuat dengan cinta dan keterampilan tangan para pengrajin lokal, Tenun Boke memadukan motif tradisional yang sarat makna dengan kualitas yang tak tertandingi.
Keanggungan dan kekayaan budaya bisa ditemukan dalam setiap helai Kain Tenun Boke, hasil karya tangan terampil para pengrajin Desa Pajam. Setiap benang yang terjalin menceritakan kisah ketelatenan dan warisan turun-temurun yang dijaga dengan penuh cinta. Dengan motif yang khas dan warna yang memukau, Kain Tenun Boke tidak hanya mempercantik penampilan, tetapi juga menghubungkan dengan akar budaya yang mendalam.
Warisan Leluhur Kini Melenggang di Ajang Bergengsi
Tak main-main motif Tenun Boke Kaledupa bahkan melenggang di Indonesia Fashion Week (IFW) tahun 2023 lalu. Event yang berlangsung di Jakarta ini adalah ajang bergengsi bagi para desainer muda dalam berkarya mendesain kain tenun daerah menjadi kostum yang bergengsi dan berkelas. Dengan mengangkat dan mempromosikan kain tenun masyarakat lokal harapannya adalah agar tenunan yang diciptakan pengrajin dengan berbagai motif dapat di kenal oleh masyarakat secara meluas.
Pada ajang ini, Wakatobi mempromosikan motif Tenun Boke Kahedupa. Di desain secara eksklusif oleh desainer Defrico Audy, menjadikan kain motif boke menjadi baju dengan desain beda yang berkelas sesuai dengan ciri khasnya. Promosi desain Tenun Boke menjadi sangat penting. Ini setelah motif Boke telah sepenuhnya milik Wakatobi yang merupakan salah satu Hak Kekayaan Intelektual Pemerintah Daerah setelah di patenkan oleh Kemenkumham RI.
Ketua Dekranasda Wakatobi, Hj. Eliati Haliana mengatakan ttampilnya tenun Wakatobi di IFW 2023 sebagai ajang promosi. Dengan begitu, bisa lebih mengangkat nama baik Wakatobi ke arah yang lebih baik lagi.
“Harapan kita untuk motif tersebut bisa dikenakan di semua khalayak. Bukan hanya masyarakat lokal dan nasional, akan tetapi dapat di kenakan juga oleh khalayak luar negeri. Sehingga tenunan Wakatobo bisa mendunia,” ujarnya.
Tak hanya Boke, kain tenun tradisional lainnya juga kerap dipromosikan di berbagai acara besar. Sepeti halnya, sebanyak lima produk yang dipamerkan pada acara Halo Sultra. Yakni, berbagai kerajinan tenun khas daerah. Lima tenun itu terdiri dari Tenun Boke Kaledupa, Tenun Gelo Tomia, Sarung Paleka dan Leja dari Liya, Tenun Sobi Motif Kuda Laut serta Tenun Sobi Kaubarasa Liya.
Tenun Boke Terdaftar di HaKI
-Tiga Tenun Wakatobi Kantongi Sertifikat KIK
Tenun Boke yang berasal dari Desa Pajam Kecamatan Kaledupa Selatan kini sudah terdaftar pada Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Tidak hanya sampai di situ, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatob jugai telah mengantongi sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) untuk tiga tenun khasnya yang lain.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Wakatobi, Hj Eliati Haliana menjelaskan pihaknya sudah mengurus hal tersebut. Rupanya, untuk mendapatkan KIK itu prosesnya tidak memakan waktu lama. Bahkan ia menilai pengurusannya tidak sesulit yang dibayangkan orang selama ini.
“Kami mengirim beberapa dokumen story tenun boke (ikat) motif H, bokeh motif +(tambah) dan sobi lariangi (gambar timbul) yang dikombinasi dengan tenun ikat. Mudah-mudahan dengan adanya pengakuan-pengakuan tersebut, dapat menumbuhkan dan menggugah kreasi dan inovasi masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan hal ini penting dilakukan. Selain agar bisa mengantongi sertifikat KIK, seklaigus melindungi karya masyarakat Wakatobi. “Ini juga untuk melindungi karya masyarakat kita di daerah agar jangan diklaim oleh daerah lain. Contohnya Tenun Boke kita, karena ada masyarakat kita yang menenun di daerah lain,” tambahnya.
Ia menyadari masih banyak PR menanti setelah ini. Apalagi mengenai pengembangan kain tenun khas Wakatobi ini. Salah satu kendalanya di Wakatobi kata dia karena minimnya generasi milenial yang semangat untuk berkreasi yakni apa yang ada dalam benak dituangkan melalui karya seni. “Masih minim yang melihat bahwa tenunan ini adalah bisnis yang sangat bagus, jadi stockist misalnya,” tandasnya.