
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID --Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) menunjukkan komitmen kuat, dalam menyukseskan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), melalui optimalisasi pemanfaatan pangan lokal.
Hal ini ditegaskan Wakil Gubernur (Wagub) Sultra, Ir. Hugua, M.Ling., saat menggelar audiensi bersama Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia (HILPI) Sultra di Swiss-Belhotel Kendari, Jumat (29/8/2025).
Audiensi bertema “Optimalisasi Penyediaan Bahan Pangan Lokal Sumber Protein Hewani dan Nabati dalam Rangka Menyukseskan Program Makanan Bergizi Gratis” itu dihadiri Ketua DPRD Sultra, Staf Ahli Gubernur, sejumlah Kepala OPD, akademisi dari Universitas Halu Oleo dan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) serta para pengurus HILPI dan stakeholder lainnya.
Dalam arahannya, Wakil Gubernur Hugua menegaskan, pemenuhan kebutuhan protein, baik hewani maupun nabati, merupakan faktor kunci keberhasilan program MBG. Ia menilai Sultra memiliki sumber daya alam yang cukup untuk mendukung hal tersebut.
“Sulawesi Tenggara (Sultra) dianugerahi kekayaan alam luar biasa. Kita punya lahan pertanian yang luas, potensi peternakan menjanjikan, dan hasil perikanan melimpah. Jika dikelola secara optimal, kita tidak perlu bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujar Hugua dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/8/2025).
Mantan Bupati Wakatobi dua periode ini menyoroti potensi besar dari alokasi anggaran nasional sebesar Rp170 triliun, yang akan digelontorkan ke tingkat kecamatan dan desa pada periode September-Desember 2025. Menurutnya, dana ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat basis produksi lokal.
Wagub mengungkapkan, kebutuhan harian program MBG sangat besar, di antaranya lebih dari 960 butir telur, 8.000 ekor ayam, ikan, beras, hingga 300 dapur aktif per hari.
Ia melihat peluang besar bagi petani, peternak, nelayan, dan lulusan perguruan tinggi untuk terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan ini.
“Ini bukan hanya tentang makanan gratis, tapi bagaimana kita menggerakkan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Perkuat Kolaborasi dan Sinergi
Wagub Hugua menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah akan berperan sebagai fasilitator, akademisi dan peneliti sebagai penyedia inovasi, serta petani, nelayan, dan peternak sebagai pelaksana di lapangan.
“Kalau semua elemen bergerak bersama, maka program MBG bisa diwujudkan secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Audiensi ini juga diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret terkait strategi penyediaan pangan lokal secara berkelanjutan. Sekaligus menjadi masukan penting dalam penyusunan kebijakan daerah untuk mendukung program nasional MBG.
Tiga Fokus Strategis Pembangunan Pangan Daerah
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Hugua juga memaparkan tiga sektor utama, yang menjadi fokus arah pembangunan pangan daerah ke depan.
Pertama, Optimalisasi sektor pertanian dan peternakan, untuk menjaga stabilitas dan kualitas suplai pangan lokal.
Kedua, Pengembangan industrialisasi berbasis sumber daya alam, termasuk hilirisasi produk pangan lokal agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Ketiga, Penguatan sektor pariwisata, sebagai bagian dari upaya promosi dan pemasaran produk lokal.
Lebih jauh mantan anggota DPR RI menjelaskan, dukungan kebijakan melalui APBD juga akan diarahkan untuk memperkuat rantai penyediaan pangan. Mulai dari produksi hingga distribusi.
Termasuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, dan pasar, serta kolaborasi riset bersama perguruan tinggi dan HILPI.
“APBD kita harus berpihak pada penguatan sektor pangan. Kita ingin semua ekosistem, dari hulu ke hilir, bergerak bersama untuk menjamin keberlanjutan program ini,” imbuhnya. (b/ikp/ing).(*)
Ikuti KENDARI POS di Google News
Dapatkan update cepat dan artikel pilihan langsung di beranda Anda.