
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sering kali disebut sebagai “silent killer”, hipertensi kerap tidak disadari hingga menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, gagal jantung, hingga penyakit ginjal.
Menurut data Kementerian Kesehatan, hampir 34% orang dewasa Indonesia mengalami hipertensi, namun sebagian besar tidak mengetahuinya. Hal ini terjadi karena gejala hipertensi sering tidak muncul hingga kondisinya memburuk.
Tekanan darah dikategorikan tinggi ketika hasil pengukuran menunjukkan angka 130/80 mmHg atau lebih. Jika kondisi ini tidak segera dikendalikan, organ vital seperti jantung, ginjal, dan otak bisa rusak secara permanen.
Cara Membaca Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah terdiri dari dua angka:
- Angka pertama (sistolik): menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah keluar.
- Angka kedua (diastolik): menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat dan mengisi kembali darah.
Tekanan darah normal umumnya berada di angka 120/80 mmHg. Angka di atas itu sudah tergolong meningkat dan harus diwaspadai.
Gejala Hipertensi yang Sering Diabaikan
Meskipun banyak penderita tidak merasakan keluhan, ada beberapa gejala yang bisa menjadi pertanda tekanan darah sedang naik drastis:
- Sakit kepala hebat
- Mual dan muntah
- Mimisan
- Gangguan penglihatan
- Dada terasa nyeri
- Telinga berdenging
- Lemas atau mati rasa pada wajah dan anggota tubuh
Jika tekanan darah sudah mencapai 180/120 mmHg atau lebih, itu tergolong krisis hipertensi dan butuh penanganan medis segera.
Penyebab dan Faktor Risiko Hipertensi
Hipertensi dibedakan menjadi dua jenis:
- Hipertensi primer (tidak diketahui penyebab pasti, berkembang perlahan)
- Hipertensi sekunder (disebabkan oleh kondisi lain seperti gangguan ginjal, sleep apnea, kehamilan, atau konsumsi obat-obatan tertentu)
Faktor risiko utama meliputi:
- Usia di atas 65 tahun
- Obesitas dan kurang aktivitas fisik
- Pola makan tinggi garam
- Riwayat hipertensi dalam keluarga
- Konsumsi alkohol dan merokok
- Stres berlebihan
Pemeriksaan dan Diagnosis
Pengukuran tekanan darah secara berkala adalah kunci. Pemeriksaan harus dilakukan minimal setahun sekali, terutama bagi orang berusia di atas 40 tahun atau memiliki riwayat keluarga hipertensi.
Jika hasil menunjukkan tekanan sistolik di atas 130 mmHg, segera konsultasi ke dokter. Pemeriksaan lanjutan bisa berupa:
- Tes darah dan urine
- Pemeriksaan fungsi ginjal dan jantung
- Elektrokardiogram (EKG)
- USG ginjal atau CT scan bila diperlukan
Penanganan dan Obat Hipertensi
Penanganan hipertensi harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Umumnya melibatkan:
- Perubahan gaya hidup, seperti:
- Mengurangi garam dan makanan olahan
- Berolahraga rutin
- Menurunkan berat badan
- Mengelola stres
- Berhenti merokok dan membatasi kafein serta alkohol
- Penggunaan obat antihipertensi, seperti:
- ACE inhibitor (captopril, ramipril)
- ARB (losartan, valsartan)
- Diuretik
- Beta-blocker (atenolol, bisoprolol)
- Antagonis kalsium (amlodipine, nifedipine)
Obat hipertensi biasanya harus dikonsumsi seumur hidup, dengan dosis yang bisa disesuaikan secara berkala oleh dokter.
Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati
Meskipun tidak bisa disembuhkan total, hipertensi dapat dicegah dan dikontrol. Beberapa langkah pencegahan yang efektif antara lain:
- Mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat
- Menghindari konsumsi garam berlebihan (maksimal 1 sendok teh per hari)
- Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari
- Menghindari stres berkepanjangan
- Memeriksa tekanan darah secara berkala
- Menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan alkohol
“Kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pengelolaan hipertensi masih rendah. Padahal, kontrol tekanan darah bisa menyelamatkan nyawa,” kata dr. Iqbal Hidayat, SpPD dari RS Persahabatan.
Biaya Bukan Alasan untuk Abai
Sayangnya, banyak pasien menghentikan pengobatan karena alasan biaya. Padahal, biaya pengobatan komplikasi akibat hipertensi jauh lebih besar. Gunakan asuransi kesehatan pribadi atau perusahaan untuk menanggung biaya kontrol dan obat rutin.(*)