
KENDARIPIS.FAJAR.CO.ID--Di era hustle culture dan kerja tanpa henti, semakin banyak pekerja yang merasa hidupnya hanya berputar di layar laptop dan notifikasi email. Tapi, apakah hidup benar-benar harus seperti itu?
Bekerja keras memang penting. Namun, hidup yang seimbang antara dunia kerja dan kehidupan pribadi jauh lebih penting untuk jangka panjang. Konsep ini dikenal dengan istilah work life balance, dan kini bukan hanya sekadar tren, tapi sudah menjadi kebutuhan mental dan fisik setiap individu.
Work Life Balance: Bukan Soal Jam Kerja, Tapi Soal Keseimbangan Hidup
Work life balance bukan berarti Anda harus punya waktu kerja yang pendek. Bukan juga soal liburan mewah setiap bulan. Tapi soal kemampuan menikmati hidup di luar pekerjaan, menjalani hobi, menghabiskan waktu bersama orang tersayang, punya tidur cukup, dan tidak merasa bersalah ketika tidak membuka laptop saat weekend.
Keseimbangan ini memberi ruang untuk hidup yang lebih tenang dan bermakna.
Bahaya Terjebak Dalam Hustle Culture
Terlalu fokus pada kerja bisa membawa Anda ke zona berbahaya bernama burnout. Gejalanya antara lain:
- Terus merasa lelah dan tertekan
- Sulit konsentrasi
- Mudah marah atau frustasi
- Sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan tidur
- Menurunnya motivasi dan kreativitas
Lebih jauh, kondisi ini bisa memicu penyakit serius, seperti gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, bahkan penyakit jantung. Semua ini bukan karena kurang pintar, tapi karena tubuh dan pikiran Anda butuh waktu istirahat yang tidak didapat.
6 Cara Membangun Work Life Balance yang Sehat
Banyak orang tahu pentingnya work life balance, tapi bingung cara memulainya. Berikut langkah-langkah sederhana tapi berdampak besar yang dilansir dari alodokter, diantaranya:
- Tentukan Prioritas
Jangan biarkan semua tugas terasa penting. Buat daftar, tentukan mana yang harus diselesaikan duluan. Jika overload, jangan ragu minta bantuan atau negosiasi deadline. - Berhenti Menunda
Prokrastinasi bikin pikiran lelah sebelum kerja dimulai. Mulailah dari yang paling mudah, berikan jeda istirahat singkat, lalu lanjut ke tugas berikutnya. - Tahu Kapan Harus Berhenti
Waktu kerja punya batas. Jangan bawa pulang beban kantor ke rumah. Matikan notifikasi kerja, dan beri ruang untuk me-recharge energi Anda. - Kuatkan Hubungan Sosial
Waktu bersama keluarga dan teman bukan pemborosan. Itu kebutuhan emosional yang menjaga mental tetap sehat dan produktif. - Ambil Cuti Tanpa Rasa Bersalah
Cuti bukan kemewahan, tapi hak. Ambillah saat tubuh dan pikiran Anda mulai lelah. Gunakan waktu itu untuk benar-benar lepas dari beban kerja. - Utamakan Kesehatan Diri
Tidur cukup, olahraga ringan, makan sehat, dan hindari begadang. Pekerjaan bisa ditunda, tapi kesehatan tidak bisa diganti.
Work Life Balance Bukan Mimpi
Memang tidak semua orang punya privilege untuk langsung memiliki work life balance. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Mulai dari langkah kecil: tidur cukup, matikan laptop jam 7 malam, atau sekadar menikmati kopi tanpa membuka email.
Hidup ini bukan cuma soal bekerja. Ada hal-hal sederhana yang layak dinikmati dan Anda berhak untuk itu.(*)