
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Pembangunan Jembatan Lamonae di Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara (Konut) telah rampung dan bisa digunakan masyarakat.
Jembatan ini menjadi akses vital bagi warga setempat. Meski sempat dihantam isu miring, kontraktor pelaksana memastikan seluruh pekerjaan sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Direktur Utama CV Yama Surya, Yacobus Massang, menampik tudingan yang menyebut pembangunan jembatan ini "asal jadi" dan "asal tambal".
Menurutnya, perapian yang dilakukan pada sisi-sisi jembatan, terutama bekas cetakan kayu saat pengecoran, disalahartikan sebagai tambalan.
"Kalau ada yang bilang ada tambalan, itu semua tidak betul. Soal tambalan itu bagian dari perapian yang dilakukan oleh tukang," tegas Yacobus, kemarin.
Yacobus menjelaskan, setiap tahapan pekerjaan berpatokan pada gambar desain dan SOP yang berlaku. Untuk memastikan kualitas, material yang digunakan, seperti pasir dan split, didatangkan dari daerah yang jauh demi memenuhi spesifikasi teknis.
"Untuk pasir itu kita datangkan langsung dari Asera. Suplit juga kita ambil di luar. Sebenarnya, ada pasir yang dekat dari wilayah pekerjaan, tapi spesifikasinya tidak memenuhi syarat," jelasnya.
Jembatan dengan bentangan 14 meter ini, dikerjakan dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Lebih cepat dari target 180 hari yang ditetapkan.
Meskipun sudah diserahkan kepada pemerintah, Yacobus memastikan, jembatan masih dalam masa pemeliharaan selama enam bulan ke depan dan tetap menjadi tanggung jawab perusahaan.
Dengan rampungnya jembatan ini, mobilitas warga kini berjalan lancar. Kendaraan roda empat, termasuk truk pengangkut sawit, sudah bisa melewati jembatan tanpa kendala.
Yacobus menyayangkan tudingan negatif dari oknum warga dan menantang mereka, untuk mengecek langsung kondisi jembatan di lapangan.
Pembangunan Jembatan Lamonae menelan anggaran sekitar Rp3,058 miliar dari APBD Konut tahun anggaran 2025. Yacobus menegaskan, proyek ini murni hasil tender dan tidak ada campur tangan pihak luar. (b/min)