
Oleh : Heeryl (Manager Media Online dan Sosial Media Kendari Pos)
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID --
Ada api di Makassar.
BukanG api lilinG ulanG tahunG, bukanG api bakar ikanG, tapi api perlawananG yg menjilat Gedung DPR. Simbol kekuasaanG yg selama ini dianggap “wakil rakyat”, tapi entah mewakili rakyat atau kepentinganG temanG.
Di dunia One Piece, api sperti ini adalah awal dari Revolusi Monkey D. Dragon. Dan, jangan-jangan, Dragon versi lokal lahir dari Makassar. Namanya Daeng Dragon. Lahirr di bawah reruntuhan papan nama DPR yg terbakar, lalu d selimuti asap hitam kayak devil fruit Yami-Yami No Mi . Zea.. ha..ha..ha..
Dalam Anime One Piece, Mariejois adalah pusat kekuasaan World Government, tempat Celestial Dragons hidup d menara gading, makan enak, hidup mewah, sementara rakyat jelata di bawahnya berjuang sekadar bertahan hidup.
Bagi massa Makassar, Gedung DPR sudah menjadi Mariejois lokal.
Dindingnya kokoh, kursinya empuk, sidangnya joget-joget… rakyat hanya jadi penonton. Yo..ho..ho..ho...
Mereka melihat para “Celestial Dragons” sibuk dengan anggaran tunjangan, sementara ongkos hidup mencekik leher rakyat.
Maka ketika percikan api menyentuh dinding DPR, itu bukan sekadar amarah spontan. Itu adalah simbol Mariejois sudah retak.
Di dunia One Piece, Revolutionary Army berdiri karena satu alasan:
“Ketidakadilan yang dibiarkan akan melahirkan pemberontakan.”
Di Makassar, massa mungkin sudah lama diam, tapi diam bukan berarti setuju. Mereka marah bukan hanya karena satu isu, tapi karena rangkaian luka panjang yg masih menganga. Janji politik yang tak ditepati, aspirasi yang tak didengar, dan kebijakan yang terasa makin jauh dari suara rakyat.
Massa itu bukan perusuh, mereka adalah Revolutionary Army versi lokal, orang2 biasa yg sudah terlalu lama memendam marah.
Seperti kata Monkey D Dragon “Kalau dunia ini penuh ketidakadilan, maka sudah saatnya kita menciptakan dunia baru.”
Dalam One Piece, revolusi Dragon dimulai dengan satu ide sederhana, “Kalau langit ini tidak lagi melindungi kita, maka kita hrus menggantinya.”
Di Makassar, bara revolusi mungkin lahir di depan DPR, diantara asap, teriakan, dan bangunan yg terbakar. Sebab api tdk lahir dari udara kosong. Api lahir dari ketidakadilan yg terlalu lama disiram bensin kebijakan.
Setiap kali suara rakyat dibungkam,
setiap kali aspirasi mereka diabaikan,
mereka belajar satu bahasa universal, "api sebagai tanda protes".
Ada satu pelajaran dari One Piece, Luffy dan Dragon mungkin berbeda jalan, tapi mereka punya tujuan yg sama : KEBEBASAN!.
Luffy melawan penindasan dgn keberanian, Dragon melawannya dengan sistem dan revolusi. Massa Makassar mungkin tak punya Luffy, Tapi mereka meminjam semangatnya.
Mreka ndak lagi takut pda simbol kekuasaan, mereka nda lagi tunduk pada kursi empuk, mereka hanya ingin satu hal, KEADILAN!.
Kalo suara mreka tak lagi didengar,
maka bara di DPRD Makassar bukan episode final. Ini cuma ARC pembukaa, dan di depan sana, bisa saja lahir ARC Wano season 2.
Dalam One Piece, harta karun terbesar bukan emas atau permata, tapi kebebasan.
Rakyat juga nda mencari gedung mewah, mereka nda butuh kursi DPR yg empuk, mereka cuma menuntut hak konstitusionalnya: hidup layak, keadilan, dan suara yg didengar.
Kalo para “Celestial Dragons DPR” masih tak peka, jangan kaget kalau Makassar menjadi titik awal revolusi baru.
Karena sejarah selalu d mulai dari satu percikan api kecil.
Dan hari ini, APINYA SUDAH MENYALA!
(*)
- Heeryl
Ikuti KENDARI POS di Google News
Dapatkan update cepat dan artikel pilihan langsung di beranda Anda.