Jejak Kurikulum di Indonesia: Cermin Perubahan Zaman dan Kekuasaan

2 weeks ago 19
Ilustrasi

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi luar biasa sejak diperkenalkan pada awal abad ke-20. Awalnya, sistem pendidikan hanya menjadi bagian dari strategi penjajahan Belanda. Namun, seiring waktu, sistem ini tumbuh menjadi pondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Awal Mula: Pendidikan Sebagai Alat Politik Etis

Dilansir dari kompas.com, pada tahun 1901, pemerintah kolonial Belanda mulai memperkenalkan pendidikan formal bagi pribumi. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan Politik Etis, yang menekankan pada "balas budi" kepada masyarakat Hindia Belanda.

Namun, akses pendidikan saat itu sangat terbatas. Hanya anak-anak dari kalangan bangsawan atau pejabat pribumi yang diizinkan mengenyam bangku sekolah. Terdapat sistem tingkatan berdasarkan ras dan status sosial, seperti:

  • Europeesche Lagere School (ELS) – untuk anak-anak Eropa
  • Hollandsch Inlandsche School (HIS) – untuk pribumi terpilih
  • Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) – setara SMP
  • Algemeene Middelbare School (AMS) – setara SMA

Masa Pendudukan Jepang: Pendidikan Jadi Propaganda

Perubahan drastis terjadi saat Jepang menduduki Indonesia (1942–1945). Sistem pendidikan Belanda dirombak total. Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar resmi, dan diskriminasi berdasarkan kelas sosial dihapuskan.

Namun, pendidikan di masa ini lebih digunakan untuk kepentingan perang dan propaganda. Banyak guru dan siswa dialihkan ke medan tempur atau pelatihan militer. Jumlah sekolah pun menurun drastis dari 17.848 pada 1941 menjadi 15.069 pada 1945.

Setelah Merdeka: Menata Ulang Arah Pendidikan Nasional

Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran Republik Indonesia tahun 1947. Tugas mereka adalah merumuskan sistem pendidikan nasional yang demokratis dan merdeka dari warisan kolonial.

Beberapa rekomendasi utama:

  • Perubahan mendasar sistem pendidikan
  • Pengiriman pelajar ke luar negeri
  • Wajib belajar 10 tahun secara bertahap
  • Pendidikan tinggi diperluas seluas-luasnya

Hasilnya, pendidikan dibagi dalam empat tingkatan utama: pendidikan rendah, menengah pertama, menengah atas, dan perguruan tinggi.

Kurikulum: Cermin Zaman dan Kekuasaan

Perjalanan kurikulum Indonesia mencerminkan dinamika politik dan sosial negara. Sejak 1947 hingga kini, kurikulum telah berganti puluhan kali.

  • Orde Lama: Fokus pada ideologi dan semangat nasionalisme
  • Orde Baru: Penekanan pada Pancasila dan pembangunan
  • Reformasi dan Kini: Mengedepankan kompetensi, karakter, dan teknologi

Kurikulum berubah seiring zaman, dari Kurikulum 1947, 1968, 1975, 1984, hingga yang terbaru: Kurikulum Merdeka.

Struktur Pendidikan Saat Ini

Kini, sistem pendidikan nasional terdiri dari:

  • Prasekolah (TK): Usia 3–5 tahun, persiapan masuk SD
  • Sekolah Dasar (SD): Usia 6–11 tahun, wajib belajar
  • Sekolah Menengah Pertama (SMP): 3 tahun
  • Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA): 3 tahun
  • Perguruan Tinggi: Jenjang D3 hingga S3

Meskipun sistem sudah mapan, tantangan seperti kesenjangan akses, kualitas guru, dan transformasi digital masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Menatap Masa Depan

Transformasi pendidikan Indonesia tidak terlepas dari jejak sejarah panjang dari kolonialisme, perang, hingga kemerdekaan. Kini, dengan semangat Merdeka Belajar, bangsa ini berupaya menjadikan pendidikan sebagai alat utama mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar warisan masa lalu.

“Satu buku bisa membuka ribuan mimpi,” menjadi semangat baru untuk melanjutkan perjalanan panjang pendidikan Indonesia.(*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan