
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Sudah dua tahun sejak LRT (Light Rail Transit) Jabodebek resmi beroperasi pada 28 Agustus 2023. Sebagai moda transportasi terintegrasi di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, LRT Jabodebek tidak hanya mengurangi kemacetan di wilayah padat penduduk, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Jabodetabek.
Tujuan utama pembangunan LRT adalah mengatasi kemacetan lalu lintas yang menimbulkan berbagai dampak negatif seperti waktu tempuh yang lama, pemborosan bahan bakar, menurunnya produktivitas, tingginya polusi, dan risiko kecelakaan. Namun, LRT juga berperan penting dalam memajukan ekonomi daerah.
Terkait dampak ekonomi, ada dua pandangan utama: pertama, "transportation led growth" yang menyatakan bahwa pengembangan sarana transportasi akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi wilayah. Kedua, "growth led transportation" yang melihat pertumbuhan ekonomi sebagai pendorong kebutuhan transportasi yang semakin maju.
Dalam konteks LRT Jabodebek, keberadaan stasiun LRT telah memacu aktivitas ekonomi, khususnya pengembangan UMKM di sekitar stasiun. Jumlah UMKM yang besar di Jabodetabek dari sekitar 1,1 juta unit di Jakarta hingga puluhan ribu unit di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi makin bertambah seiring kemudahan akses transportasi.
Lebih lanjut, LRT membantu tenaga kerja menghindari kelelahan akibat kemacetan sehingga produktivitas meningkat. Hal ini sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi modern yang menekankan peran sumber daya manusia. Pertumbuhan ekonomi di Jabodetabek pada 2024 mencatat angka positif: Jakarta 4,9%, Bogor 5,15%, Depok 5,47%, Tangerang 5,04%, dan Bekasi 5,32%.
Selain itu, pembangunan stasiun dan aktivitas usaha di sekitarnya berdampak pada kenaikan harga lahan, dengan studi Polar UI (2025) menunjukkan kenaikan hingga 40-45% di sekitar stasiun.
Dampak positif lain berupa efisiensi biaya juga tercatat signifikan. Menurut studi yang sama, LRT menyumbang penghematan biaya kecelakaan hingga Rp4,6 triliun per tahun, efisiensi biaya infrastruktur Rp19,1 miliar, dan penghematan bahan bakar Rp114,5 miliar. Selain itu, penurunan emisi karbon juga bernilai Rp269 miliar per tahun.
Sebaliknya, pertumbuhan penduduk dan ekonomi Jabodetabek juga mendorong kebutuhan transportasi efisien sehingga tercipta fenomena “growth led transportation.” Data pengguna LRT Jabodebek dari Agustus 2023 sampai Maret 2025 mencapai lebih dari 30 juta orang. Dilansir dari kompas.com
Dengan tren pertumbuhan pengguna dan dampak positifnya, prospek LRT Jabodebek diperkirakan akan terus berkembang, menunjang mobilitas yang efisien serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah Jabodetabek.
Ikuti KENDARI POS di Google News
Dapatkan update cepat dan artikel pilihan langsung di beranda Anda.