
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Banyak orang mengira bahwa kepribadian introvert identik dengan sifat tertutup dan tidak suka bersosialisasi. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Seorang introvert tetap bisa berinteraksi dan membangun hubungan sosial, hanya saja mereka cenderung memproses pikiran secara internal sebelum berbicara dan lebih selektif dalam mengungkapkan pendapat.
Berbeda dengan ekstrovert atau ambivert yang umumnya spontan dan percaya diri saat berkomunikasi, introvert lebih nyaman berbicara empat mata, melakukan diskusi mendalam, dan berinteraksi dalam lingkup kecil. Penelitian menunjukkan, otak introvert cenderung lebih banyak menggunakan lobus frontalis, bagian yang berperan dalam perencanaan, pemecahan masalah, dan mengingat informasi.
Bagi sebagian orang, kegiatan seperti membaca, menulis, atau meneliti terasa lebih menyenangkan. Inilah mengapa introvert lebih sering memilih aktivitas yang memungkinkan mereka fokus pada ide dan ingatan dalam pikiran.
Meski begitu, menjadi introvert bukan berarti tidak bisa berkembang di dunia sosial. Dilansir dari alodokter, ada berbagai cara untuk melatih diri tanpa mengubah jati diri, seperti:
- Menulis tentang topik yang menarik dan membagikannya kepada orang lain.
- Mendalami bidang yang diminati hingga menjadi ahli.
- Melakukan interaksi sederhana, seperti menyapa dan menjalin percakapan singkat.
- Mengikuti latihan public speaking untuk meningkatkan kepercayaan diri berbicara di depan umum.
- Menikmati me time untuk mengisi ulang energi.
Perlu diingat, kebahagiaan seorang introvert mungkin berbeda bentuknya dibandingkan ekstrovert. Selama mampu mengenali diri sendiri dan mengembangkan potensi, introvert tetap bisa menjalani hidup dengan bahagia dan seimbang tanpa harus memaksakan diri menjadi orang lain.(*)