Akselerasi Pemuda, Menyala Asa Merah Putih

2 weeks ago 17

Oleh: Apt Andi Baso Amirul Haq, S.Farm (Pengurus DPD I KNPI Sultra, Sek OKK DPD Partai Gerindra Sultra dan Mantan Ketum BADKO HMI Sulawesi Tenggara)

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Delapan puluh tahun kemerdekaan. Sebuah usia di mana bangsa mestinya matang, tidak lagi gamang mencari arah. Dari parit-parit perjuangan mempertahankan proklamasi, dari serpihan puing yang disusun menjadi negara, dari riuh rendah reformasi yang mengguncang kursi kekuasaan, hingga gelombang revolusi teknologi yang tak menunggu mereka yang lambat bergerak. Indonesia telah menempuh jalan panjang, dan di setiap simpang, pemuda selalu berdiri di depan.

Dulu, musuh jelas, berseragam di balik senapan. Hari ini, musuh berwajah samar. Kemiskinan yang memeluk erat generasi muda. Pengangguran yang menguntit seperti bayang-bayang panjang di senja hari. Kesenjangan pendidikan yang memisahkan anak-anak sebangsa seolah mereka berasal dari planet berbeda. Ketertinggalan teknologi yang memagari mimpi bahkan sebelum ia sempat dirajut.

Sulawesi Tenggara mengenal semua rupa musuh itu. Mereka hadir di desa-desa yang kehilangan generasi mudanya karena merantau tanpa kepastian, di kota-kota kecil yang luluh lantak oleh lapangan kerja yang tak kunjung terbuka, di sekolah-sekolah yang kekurangan guru sekaligus kekurangan harapan.

Di atas kertas, perpres nomor 43 Tahun 2022 koordinasi strategis lintas sektor penyelenggara pelayanan kepemudaan, menjanjikan arah. Empat pilar yang tertulis rapi. Koordinasi lintas sektor dari pusat sampai daerah, rencana Aksi Daerah yang menjahit prioritas nasional dengan motif lokal, norma dan standar untuk menjaga mutu, serta nndeks pembangunan pemuda sebagai cermin tanpa basa-basi. Tetapi kertas di negeri ini sering kali lebih tegak daripada pelaksanaannya. Sering kita melihat pilar kebijakan yang kokoh di dokumen, tapi rapuh di lapangan. Seperti gapura yang megah di jalan desa yang penuh lubang.

Presiden terpilih Prabowo Subianto mengumandangkan visi Indonesia Emas 2045. Mandiri dalam pangan dan energi, membangun industri dengan kekuatan sendiri, mendidik karakter, membela negara. Panggilan ini mulia, tetapi sejarah negeri ini penuh dengan panggilan mulia yang kemudian tersandung di kaki birokrasi, anggaran yang bocor, atau sekadar semangat yang pudar usai seremoni.

Gubernur Andi Sumangerukka menggerakkan langkah di Sultra seperti SMA Garuda mencetak generasi berkarakter, ketahanan pangan desa dihidupkan oleh pemuda tani, klaster ekonomi dan UMKM dibuka, program MBG (Makan, Bergizi, Gratis) menggerakkan ekonomi lokal. Semua itu adalah langkah nyata, selama ia bukan hanya daftar panjang di papan ekspose pemerintah daerah.

Bayangkan jika Perpres 43/2022, visi nasional Prabowo, dan program daerah Andi Sumangerukka mengalir menjadi satu arus: gagasan strategis di pusat → kebijakan dan RAD di provinsi → program teknis di kabupaten/kota → aksi nyata di desa. Sultra akan melompat dari penonton menjadi pemain utama di panggung nasional, bahkan global. Tetapi sejarah juga mengajarkan, arus itu sering pecah sebelum sampai muara, tersumbat ego sektoral, tersendat tarik-menarik kepentingan, atau dibelokkan oleh ambisi pribadi.

Robert Putnam mengingatkan dalam Making Democracy Work (1993) bahwa pembangunan bukan sekadar kebijakan, melainkan modal sosial, jaringan, kepercayaan, dan hubungan timbal balik antara rakyat dan pemerintah. Tanpa itu, kebijakan adalah perahu indah yang tak pernah mengapung. KNPI Sulawesi Tenggara, jika ingin menjadi simpul yang berarti, harus menjadi penjahit yang menyatukan potongan-potongan kain besar ini, bukan sekadar penonton pesta pembangunan.

Tapi sejarah KNPI di banyak daerah tidak selalu membesarkan hati. Kadang ia menjadi panggung perebutan jabatan, bukan ruang lahirnya ide segar. Kadang ia menjadi barisan yang rapi di foto bersama, tetapi berantakan di medan kerja. Jika KNPI Sultra ingin memimpin akselerasi, ia harus mengubah kebiasaan “menunggu undangan” menjadi “mengirim undangan” menginisiasi, menggerakkan, menyalakan api, meski tanpa tepuk tangan.

Delapan puluh tahun lalu, pemuda mengibarkan Merah Putih di medan perang. Hari ini, benderanya harus berkibar di lahan pertanian, di bengkel industri, di kelas-kelas sekolah, di pasar inovasi, di laboratorium riset. Kemerdekaan adalah api yang hanya hidup jika dijaga.

Dan sejarah, seperti dulu, tak akan menulis kisah untuk mereka yang nyaman di bangku penonton. Ia hanya akan memberi panggung bagi mereka yang berani menyalakan asa, dan memastikan warnanya tetap merah putih.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan