Universitas Stella Maris Sumba Mengemban Tugas Mulia “Pompa” SDM Sumba

1 month ago 27

Tambolaka-Universitas Stella Maris (Unmaris) Sumba lahir dari kepedulian akan masa depan kualitas sumber daya manusia (SDM) anak-anak Sumba. Ketiadaan universitas di Pulau Sumba menyebabkan anak-anak Sumba harus menempuh pendidikan tinggi di Sumba. Hal ini dengan sendirinya membawa konsekuensi biaya yang tidk kecil.

“Kita ingin anak-anak tidak harus keluar pulau untuk melanjutkan pendidikan, karena biaya makin besar. Biaya pendidikan di Unmaris juga sangat terjangkau, karena memang kita tidak berorientasi bisnis. Bahkan, ada anak-anak yang setelah lulus belum melunasi biaya pendidikan, ya ini situasi yang ada,” jelas Rektor Unmaris Sumba, Drs. Alexander Adis, MM di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT, Sabtu (1/3/2024).

Menurut Alexander, gagasan awal untuk menghadirkan pendidikan tinggi di Sumba, karena minimnya sekolah tinggi di Pulau Sumba, sementara di satu sisi, anak-anak Sumba harus ke berbagai daerah untuk melanjutkan pendidikan. Untuk itu, katanya, pada tahun 2014, didirikan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STIMIKOM) Stella Maris Sumba sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 555/E/O/2014.

Namun, tuntutan dan kebutuhan akan program pendidikan yang berkembang mau tidak mau direspon dengan mengupayakan perubahan STIMIKOM menjadi universitas. Upaya ini berhasil mendapat perhatian pemerintah pusat, sehingga peralihan bentuk dilakukan pada tahun 2023 sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nomor 985/E/O/2023. “Sudah ada dua kali wisuda sarjana,” kata Alexander.

Untuk itu, jelas Alexander, saat ini Unmaris memiliki tujuh program studi, yakni Manajemen Informatika (D3), Teknik Informatika (S1), Teknik Lingkungan (S1), Pendidikan Teknologi Informasi (S1), Bisnis Digital (S1), Administrasi Rumah Sakit (S1) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (S1). Khusus mengenai program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, jelas Alexander, merupakan satu-satunya program S1 yang ada di NTT. Program pendidikan  yang ada, katanya, sengaja untuk mengisi kekosongan yang ada, sebab kalau membuka program studi yang sudah di lembaga pendidikan lain, maka akan berpotensi kurang positif dalam pengembangan pendidikan yang ada.

Mengenai biaya pendidikan, jelas Alexander, berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3,5 juta yang dibayar dengan cara mencicil, guna memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk bisa melanjutkan pendidikan. Biaya pendidikan ini relatif kecil kalau dibandingkan dengan anak-anak harus sekolah di luar Pulau Sumba. Hanya saja, meski dengan biaya yang rendah tidak serta merta semua anak mampu membayar tepat waktu.

Sedangkan untuk biaya pendaftaran awal dikenakan Rp 2.000.000 dan mahasiswa tidak dipungut biaya pembangunan. Dengan kemudahan ini, anak-anak akan memiliki akses untuk melanjutkan pendidikan di Sumba tanpa harus ke luar Sumba, yang dengan sendirinya membutuhkan biaya transportasi, tempat tinggal dan sebagainya.

Secara kualitas intelektual, kata Alexander, anak-anak Sumba tidak kalah dengan anak dari daerah lain. Namun, sesuai pengalamannya sebagai dosen, anak Sumba selalu kesulitan ketika berbicara masalah ekonomi untuk biaya pendidikan, sehingga ada yang terpaksa meninggalkan bangku kuliah.

“Mengenai biaya pendidikan, kalau saya lihat masalah mendasar ada pada beban sosial yang terkait adat dan budaya, sehingga pendidikan anak bukan menjadi prioritas pertama. Saya kira hal ini harus ada perubahan, sehingga pendidikan menjadi yang utama. Kalau tidak, kita akan jadi penonton di Sumba yang sangat potensial ini. Satu-satunya cara, ya kita mempersiapkan pendidikan anak-anak sebaik mungkin. Ini membutuhkan peran semua pihak terkait,” kata Alexander.

Kampus Universitas Stella Maris Sumba, NTT. (foto: ist)

Menurutnya, jumlah mahasiswa Unmaris terus mengalami peningkatan dan saat ini berjumlah 2.000 lebih mahasiswa. Selain itu, secara perlahan pihak kampus berusaha untuk melengkapi sarana dan prasarana perkuliahan, termasuk memfasilitasi pendidikan lanjutan dosen sebagai pilar penting untuk meningkatkan kualitas lulusan.

“Kami sedang berusaha agar pada saatnya memperoleh akreditasi unggul bagi semua program studi. Kami juga senang, karena mendapat  dosen berkualitas dan berpengalaman seperti Dr. Kebamoto, tentu ini akan membawa pengaruh dan semangat mahasiswa untuk belajar. Kami tahu banyak orang Sumba yang di dunia pendidikan yang berada di luar Sumba,” jelasnya.

Alexander menuturkan, pihaknya memiliki harapan agar kualitas lulusan Unmaris mampu bersaing dalam baik di tingkat lokal, nasional maupun global. Hal ini, hanya bisa dicapai dengan fokus kepada kualitas pendidikan sehingga bisa menghasilkan lulusan yang juga berkualitas.

“Kampus ini didirikan dengan niat baik untuk berkontribusi dalam menyiapkan kualitas SDM, sehingga dengan niat itu dengan sendirinya akan selalu memperoleh kemudahan. Tidak bisa mengelola pendidikan dengan lebih berorientasi bisnis. Ini yang selalu jadi pegangan,” tegasnya.(dd)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan