Catatan Sepakbola : Ada Apa dengan Suporter Kita?

1 month ago 37

Oleh : M. Nigara

BELAKANGAN INI, sepakbola kita, Liga 1, Liga 2, Liga 3 atau Liga Nusantara, EPA, dan Liga 4 (tingkat propinsi), terus dan terus diwarnai kerusuhan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, ada pembakaran gawang, _Eboard_, tengah-tengah lapangan, hingga ada juga penyerbuan rumah sakit, sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.

Ya, ada beberapa fasilitas rumah saki Panti Rahayu, yang rusak akibat tawuran dua kubu suporter. Anehnya, kedua suporter di Purwodadi yang berlaga di Liga-4 itu, dari kubu yang sama.

Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi separah itu. Kalau pun ada kerusuhan, tidaklah hingga menyerbu rumah sakit. Ada satu pergeseran yang luar biasa sedang terjadi di lingkup suporter kita.

Dari Jawa Timur, Stadion Tuban Sport Center jadi saksi sekaligus korban pengrusakan suporter Persela Lamongan yang tak puas akibat tim kesayangannya kalah 0-1 dari Persijap, Jepara.

Hancurnya harapan mereka untuk kembali bisa berlaga di Liga-1, pupus sudah. Untuk itu, meski tidak dibenarkan dalam khasanah apa pun, stadion tumpangan (catatan: Sejak dua tahun lalu, stadion Surajaya, markas tim Jaka Tingkir, belum juga rampung), jadi korban.

Pembakaran di lakukan di banyak sektor. Maka kepulan asap seketika memenuhi segala sisi stadion. Tanda-tanda mereka akan berbuat rusuh sesungguhnya sudah terlihat sejak awal. Ya, sejak mereka mulai menyalakan _flair_ dalam jumlah yang sangat banyak ketika laga sedang berlangsung.

Kerusuhan lainnya juga terjadi bahkan dari suporter klub-klub Liga-1. Jadi, sebagai wartawan yang sudah bergelut di kompetisi-kompetisi berbagai tingkat sejak Desember 1979, sungguh tidak masuk di akal saya mengapa saat ini terjadi hal-hal yang tidak masuk di akal itu.

Segala kekecewaan bahkan kesenangan, sering diwarnai oleh tindakan-tibdakan yang berbuntut pada kerusuhan. Padahal, sejak kasus Kanjuruhan, 1 Oktober 2022 (jujur, Aremania adalah korban bukan sebaliknya) FIFA sengaja berkantor di Jakarta. Mereka menjadi lebih peka pada pergerakan suporter sepakbola kita.

Klub dirugikan

Sahabat saya Ferry Indra Syarif, pernah sama-sama menjadi bagian dari klub Persija Jakarta, belasan tahun lalu, bertanya terkait hukuman pada suporter. Sebagai sahabat, saya jelaskan bahwa prilaku supoeter pasti berdampak pada klub.

“Ingat kasus hooligan Liverpool di kasus Stadion Heysel, Brussels,Belgia?” tulis saya dalam WA. Ya, kala itu, Rabu *29/5/1985). Tak ada yang menduga, kerusuhan pecah. Hooligan dari Liverpool bertempur dengan tifosi Juventus jelang laga final Piala Champiobs Eropa. Dari data wikipedia, 600 terluka ringan hingga berat, 39 orang meninggal.

Pertanyaannya, mengapa UEFA (badan sepakbola Eropa) yang kemudian diperkuat FIFA, menjatihkan sanksi pada seluruh sepakbola Inggris, FA. Salahny the Three Lions julukan timnas Inggris? Begitu juga mengapa MU, Arsenal, Chelsea, City, dan yang lainnya? Mereka dihukum dua tahun tidak diperkenankan untuk berpartisipasi di segala lapisan Eropa dan dunia.

Itu dampak yang tak bisa dihindarkan ketika UEFA menjatuhkan sanksi. Tidak ada kompromi. Apa lagi, kisah rusuhnya para hooligan memang sudah semakin membahayakan sepakbola.

“Jadi, prilaku suporter dapat berdampak langsung pada klub. Misalnya dihukum tanpa penonton untuk beberapa kali, partai usiran. Belum lagi denda material dari yang kecil hingga miliaran rupiah. Semua tertuang dalam regulasi ” sambung saya.

Maka, tolonglah para mania di segala lapisan. Betul kalian juga yang menghidupi klub karena partisipasi dengan membeli tiket, betul kaluan juga yang ikut memicu para produsen untuk beriklan pada klub, tapi, di tangan kalian juga nasib klub untuk.bisa menjadi baik atau buruk.

Dulu, ya di Inggris, Italia, Jerman, Perancis, dan banyak negara Eropa lainnya, kalah adalah bencana. Tapi, saat ini tidak lagi. Sepakbola adalah kenikmatan hidup, sepakbola adalah satu-satunya kegembiraan yang bisa dinikmati banyak lapisan secara bersama-sama.

Saatnya para mania di tanah air menyadari hal itu. Secara tegas hanya sepakbolalah (timnas) yang dapat mempersatukan kita. Partai, piligan presiden, gubernur, bupati, walukota, bisa berbeda . Tapi, begitu duduk untuk menyaksikan timnas, semua perbedaan runtuh.

Ayoo para mania, kuta jadikan sepakbola sebagai kenikmatan dan kebahagiaan…….
Bravo paramania…

(Penulis adalah wartawan sepakbola senior)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan