KENDARIPOS.CO.ID -- Zona Megathrust di Indonesia terkini berubah menjadi 14 titik. Hal ini tertera dalam pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Peta terbaru ini menunjukkan potensi bahaya yang lebih tinggi dibandingkan yang dirilis pada 2017 silam. Salah satunya ditandai dengan kian rapatnya kontur bahaya di sejumlah wilayah.
Penambahan zona Megathrust di Tanah Air turut menjadi sorotan ahli Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan zona Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.
"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (29/1/2026)
Menurut Heki, meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana. Ia menekankan peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.
"Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelasnya.
Heki juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang kerap muncul sebelum gempa besar. Meski bergerak sangat perlahan, fenomena ini dinilai berpotensi menjadi indikator awal.

















































