SHNet, Jakarta– Bertempat di Humble Baker, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (14/3/2026), Desainer Nina Nugroho meluncurkan koleksi terbaru untuk Ramadan dan Hari Raya tahun 2026.
Pada koleksi Ramadan tahun ini, Nina Nugroho mengeluarkan lini abaya profesional yang tampil lebih modern dengan empat pilihan warna pastel yang lembut dan elegan.
Abaya tersebut menggunakan bahan jenis satin dengan gramasi yang cukup, sehingga tidak terlalu jatuh atau “goyor”, namun tetap nyaman dikenakan.
Sementara itu, koleksi Raya 2026, Nina mengusung warna-warna tone yang hangat dan elegan. Tema yang diangkat dalam koleksi tahun ini adalah “Kembali”.
Tema tersebut memiliki beberapa makna antara lain;
1. Kembali ke keluarga
Momentum Lebaran diharapkan menjadi waktu untuk berkumpul kembali bersama keluarga dengan busana yang serasi.
2. Kembali mengingat UMKM
Tahun ini kami berkolaborasi dengan pengrajin tenun bulu Garut dari UMKM. “Kami ingin mengajak pelanggan dan pelaku industri fashion untuk kembali peduli pada perajin lokal, bukan hanya menggunakan bahan impor,” ujarnya.
3. Kembali pada makna Lebaran
Yaitu kehangatan, kebersamaan, dan rasa syukur atas momen Hari Raya.
Koleksi ini tidak hanya ditujukan untuk perempuan, tetapi juga menghadirkan konsep couple. Nina menghadirkan 7 koleksi untuk perempuan dan 7 koleksi laki-laki. Atensi masyarakat terhadap koleksi ini pun sangat luar biasa.
Melalui koleksi ini, Nina Nugroho juga ingin mengingatkan kembali kepada para pelanggannya bahwa brand Nina Nugroho hadir sebagai salah satu busana kerja yang turut mengembalikan semangat pemberdayaan perempuan.
Pada koleksi Raya 2026, bahan utama yang digunakan adalah bulu Garut. Pilihan warna yang ditawarkan antara lain navy, coklat, gold lembut, dan maroon. Menariknya, pada tahun ini warna coklat dan maroon justru menjadi warna yang paling diminati. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh tren warna viral, yaitu warna coklat.
Nina Nugroho mengikuti tren warna tersebut dengan menghadirkan warna solid yang tetap mencerminkan karakter elegan sekaligus memberdayakan perempuan Indonesia.
Koleksi ini juga menghadirkan konsep mix, seperti model aurora lepas dan two in one. Dalam proses produksinya, terdapat bahan yang digunakan sebagai material utama sehingga tidak terbuang. Untuk potongan busana, Nina Nugroho menghadirkan berbagai cutting seperti tunik dan dress, dengan mayoritas koleksi berupa dress yang menggunakan bahan limited edition. Secara harga pokok produksi (HPP), bahan yang digunakan memang cukup mahal dan tinggi.
Dalam proses produksinya, Nina Nugroho juga bekerja sama dengan para pengrajin bulu Garut serta pengrajin perempuan. Kerja sama ini menjadi wadah bagi para perempuan pengrajin untuk menerima pesanan dari Nina Nugroho. Selain itu, proses penenunan sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan satu bahan dapat memakan waktu hingga satu bulan.
Meskipun perencanaan produksi sudah dilakukan dengan baik, tantangan tetap muncul. Pada minggu kedua Ramadan, koleksi ini sudah mengalami sold out. Keunikan warna dan motif menjadi salah satu daya tarik utama. Tenun Garut yang digunakan memiliki motif garis, segi empat seperti ketupat, serta kotak-kotak. Warna dari kain Garut sendiri cenderung lebih matang dan kuat, termasuk salah satu item dengan warna-warna bulat yang khas.
Pada minggu pertama peluncuran saja, koleksi sudah habis terjual. Nina Nugroho kemudian berusaha mengadakan kembali produksi tambahan. Namun, para pengrajin hanya mampu melakukan repeat produksi hingga tiga kali dari desain yang sudah ada. Hal ini menunjukkan pentingnya perencanaan produksi sejak awal, terutama dalam penggunaan kain wastra Indonesia.
Pentingnya perencanaan yang matang
Di sisi lain, Nina Nugroho juga menjelaskan bahwa bisnis kuliner sebenarnya merupakan usaha sang suami. Ia sendiri berperan untuk mendorong dan mendukung. Sang suami memiliki mimpi untuk membangun lini bisnis sebagai sebuah ekosistem, seperti kantor konsultan, kanal YouTube, hingga kafe sebagai tempat pertemuan.
Dalam ekosistem tersebut, fashion juga menjadi bagian dari dukungan terhadap berbagai usaha yang dijalankan.
(Dok. SHNet/Stevani)Dalam menghadapi kondisi ekonomi global maupun geopolitik, Nina Nugroho menekankan pentingnya perencanaan yang matang. Strateginya adalah tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, baik di bidang fashion maupun bisnis lain yang dijalankan. Meskipun harga bahan baku meningkat, mereka tetap berusaha menjaga harga dengan mengambil sebagian dari margin keuntungan sebagai strategi sambil menunggu kebijakan pemerintah.
Selain itu, Nina Nugroho juga melakukan transformasi dengan kembali mengangkat wastra Indonesia. Menurutnya, jika brand berhasil berkembang, maka para pengrajin juga ikut merasakan dampaknya. “Ekosistem ini dibangun dengan cara sederhana, yaitu membeli langsung karya para pengrajin tanpa meminta secara gratis. Dengan demikian, para pengrajin tetap mendapatkan nilai ekonomi dari karya mereka”, ujarnya.
Harga koleksi Raya Nina Nugroho tahun ini dibanderol sekitar Rp1 juta untuk tiga look, belum termasuk hijab. Hal baru yang juga diperkenalkan adalah koleksi busana pria.
Menariknya, pada momen Hari Raya justru perhatian terbesar datang dari pelanggan pria, bahkan jumlahnya lebih banyak dibandingkan perempuan. Tidak jarang satu pelanggan membeli satu warna sekaligus.
Busana pria dalam koleksi ini didesain dengan detail yang sederhana, tidak terlalu ramai, namun tetap menampilkan kesan elegan. Secara umum, desain Nina Nugroho memang dikenal sederhana dan elegan, tetapi tetap memperlihatkan unsur wastra yang kuat, karena setiap bahan memiliki filosofi tersendiri.
Motif yang dihadirkan juga memiliki makna mendalam. Dalam setiap tenunan bulu Garut, terdapat kisah tentang perempuan-perempuan penenun yang memanjatkan doa agar dapat memperbaiki ekonomi keluarga dan memberdayakan diri mereka. Nilai inilah yang ingin diangkat kepada masyarakat, bahwa perempuan dapat saling mendukung dan memberdayakan satu sama lain.
Di akhir, Nina Nugroho juga menegaskan bahwa hijab bukan sekadar tren, melainkan sebuah pilihan. Bagi sebagian orang, hijab berkaitan dengan spiritualitas dan menjadi cara seseorang menghargai dirinya di ruang publik. (Stevani Elisabeth)


















































