Jaga Nutrisi Anak Pasca Bencana, Kader Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Edukasi Ibu Korban Banjir Agam Cara Seduh Susu yang Tepat

9 hours ago 4

SHNet, Jakarta-AGAM — Menyeduh susu adalah hal yang dianggap sepele tapi sering keliru dilakukan ibu-ibu yang memiliki balita. Kelihatan mudah, cukup mencampur air dengan susu, aduk merata dan susu pun siap diminum oleh anak. Yang sering terlewatkan adalah urutan air atau susu, suhu air dan proses mengaduk yang salah dapat merusak nutrisi penting di dalam susu, sehingga manfaatnya untuk tumbuh kembang anak jadi berkurang. 

Hal itulah yang menjadi salah satu perhatian Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah (Makes PPA) saat melakukan edukasi gizi untuk masyarakat korban banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Kabupatan Agam, Sumatera Barat. Dalam sesi edukasi yang dilakukan baru-baru ini, kader Aisyiyah setempat dengan didampingi pimpinan wilayah dan  Makes PPA, mengajarkan ibu-ibu warga Huntara Salareh Aia cara menyeduh susu pertumbuhan anak yang benar, sehingga nilai gizi tidak berkurang. 

“Yang penting diperhatikan adalah kebersihan tangan sebelum menyiapkan susu, lalu suhu air yang digunakan adalah air hangat 70 derajat, atau kita di sini bilang air hangat-hangat kuku,” ujar kader sambil mendemokan membuat susu di dalam gelas. Selain itu, peserta edukasi yang sebagian besar membawa balita juga diajak berdiskusi seputar susu dan pemberian pangan yang menjadi asupan makanan anak selama ini. 

Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa yang turut hadir mengatakan edukasi gizi untuk masyarakat terutama di daerah bencana perlu untuk terus dilakukan. “Pentingnya edukasi gizi pasca bencana bagi para ibu yang memiliki balita ini karena ketika masa bencana, banyak sekali bantuan masuk yang sifatnya darurat berupa makanan instan, seperti mi instan atau susu. Berdasarkan dialog kami dengan ibu-ibu korban bencana di sini, mereka ternyata juga menerima susu kental manis dan menganggapnya sebagai susu. Padahal, itu sebenarnya bukan susu,” ujar Chairunnisa.

Majelis Kesehatan PP Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menaruh kepedulian besar pada fase transisi ini. Menurut Chairunnisa, membiarkan anak terus-menerus mengkonsumsi makanan instan dan produk tinggi gula seperti kental manis pasca bencana dapat berdampak fatal bagi masa depan mereka.

“Karena sekarang sudah memasuki masa pasca-bencana, kami memiliki kepedulian untuk menjaga supaya tumbuh kembang anak jangan sampai terganggu akibat asupan gizi yang keliru. Jika pola instan ini terus-menerus diberlakukan dan menjadi kebiasaan, anak akibatnya bisa kekurangan gizi. Bagi anak di bawah usia dua tahun, kekurangan gizi kronis ini akhirnya bisa memicu stunting,” tambahnya.

Untuk memastikan anak mendapatkan manfaat optimal dari asupan nutrisi hariannya, para kader Majelis Kesehatan PP Aisyiyah memberikan demonstrasi langsung mengenai tata cara penyiapan gizi yang benar di posko pemulihan. Salah satu fokus utamanya adalah pemahaman mengenai pentingnya susu pertumbuhan bagi balita, sekaligus edukasi mengenai cara penyajiannya yang tepat agar kandungan gizinya tidak rusak.

Berikut adalah cara menyeduh susu pertumbuhan yang benar agar tidak merusak kandungan gizi di dalam susu: 

  • Gunakan Air Hangat, Bukan Air Mendidih: Air yang terlalu panas (mendidih) dapat merusak kandungan protein, vitamin, dan zat besi yang ada di dalam susu pertumbuhan. Gunakan air matang yang sudah didinginkan sejenak hingga bersuhu suam-suam kuku (sekitar 40°C).
  • Pastikan Kebersihan Wadah: Di area pasca-bencana, higienitas adalah kunci. Pastikan botol atau gelas anak dicuci bersih dengan air mengalir dan disterilkan jika memungkinkan untuk mencegah risiko infeksi saluran pencernaan atau diare.
  • Takaran Harus Sesuai Petunjuk: Jangan mengurangi atau melebihkan takaran sendok takar yang tertera pada kemasan. Susu yang terlalu encer membuat anak kekurangan kalori, sedangkan susu yang terlalu kental bisa memberatkan kerja pencernaan anak.

Melalui edukasi intensif ini, PP Aisyiyah berharap para ibu di Agam dapat lebih selektif dan tepat dalam mengolah bantuan makanan yang diterima, demi memastikan anak-anak mereka tumbuh sehat dan terbebas dari ancaman gizi buruk serta stunting di masa depan.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan