Menggeliatkan Raksasa Tidur: Strategi Hilirisasi Maritim Baubau di Era Ekonomi Biru

11 hours ago 4

KENDARIPOS.CO.ID-Secara geopolitik, Kota Baubau memiliki peran sebagai episentrum jalur pelayaran dan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia khususnya wilayah Barat dan Timur. Kondisi ini, menjadikan BauBau sebagai simpul konektivitas maritim yang vital. Dengan strategisnya posisi Baubau sebagai jalur pelayaran dan perdagangan, menjadikan wilayah ini begitu penting dalam pembangunan nasional.

Kota Baubau masuk dalam kawasan jalur ALKI II (Alur Laut Kepulauan Indonesia II) yaitu jalur konektivitas dari Laut Sulawesi yang melintasi Selat Makassar, Laut Flores dan berakhir di Selat Lombok. Keadaan ini, membuat Baubau tidak hanya menjadi penonton, akan tetapi menjadi pemain kunci dalam alur distribusi barang dan jasa secara nasional sesuai amanat PP No. 37 Tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan melalui Alur Laut Kepulauan yang Ditetapkan.

Selain itu, Baubau menjadi titik persimpangan ALKI II dan ALKI III (perairan Laut Banda) yang menjadi alur distribusi logistik ke wilayah Maluku dan Papua. Sumber daya kelautan dan perikanan Baubau menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan perekonomian yang begitu penting. Dengan posisi wilayah yang strategis di topang dengan sumber daya kelautan dan perikanan yang besar, harapan kesejahteraan dan kemajuan daerah di masa depan terbuka lebar. Tinggal bagaimana semua stakeholder terkait dapat mengagregasi semua potensi yang ada agar tetap dalam koridor memberikan kesejahteraan dan kemajuan yang berkelanjutan.

Salah satu data acuan yang bisa dijadikan referensi misalnya, data BPS Sultra Tahun 2024 tentang hasil perikanan tangkap pada perairan laut di Kota Baubau. Data tersebut menjelaskan bahwa volume perikanan tangkap sekitar 19,37 ribu ton dengan nilai lebih dari Rp. 454 Miliar. Kondisi ini secara nyata menjadikan Baubau sebagai lokomotif ekonomi kemaritiman di kawasan bukan sekedar angka statistik biasa.

Meskipun demikian, nilai 454 Miliar hanya akan menjadi potensi di atas kertas jika tidak dikelola melalui sistem agregasi yang mampu menembus berbagai hambatan di pasar ekspor. Beberapa potensi sumber daya lainnya diantaranya kerang mutiara di Palabusa, ada rumput laut di Bone-Bone, ada ikan pelagis (tuna, cakalang, tongkol, dll), ada ikan demersal (ikan kakap, kerapu, dll), ada kerang-kerangan, semua ada di daerah ini.

Ada banyak sumber daya kelautan dan perikanan yang harus diberdayakan. Potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar ini, adalah raksasa tidur yang perlu diberi atensi secara serius.

Selain itu, posisi daerah-daerah di sekitarnya (Buton Utara, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Wakatobi, Muna, Muna Barat) sangat berperan penting dalam menciptakan ekosistem ekonomi terpadu yang menempatkan posisi Baubau sebagai simpul (hub) konektivitas dan akselerasi di kawasan Sulawesi Tenggara wilayah kepulauan.

Baubau dalam posisinya tidak bisa berdiri sendiri, dia membutuhkan daerah-daerah sekitarnya membangun satu kesatuan yang utuh yang saling mendukung dalam aktivitas ekonomi khususnya sektor kelautan dan perikanan.

Dalam semangat ekonomi biru, Baubau dan daerah sekitarnya merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling memberi nilai tambah dimana kekuatan logistik Baubau bersinergi dengan kekayaan sumber daya daerah-daerah sekitarnya.

Di era kekinian, Blue Economy (ekonomi biru) menjadi tiket emas sekaligus tantangan khususnya bagi Indonesia dalam ekosistem perdagangan antar negara (ekspor). Negara-negara importir saat ini sangat mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya yang jadi komoditi ekspor.

Ekonomi biru merupakan konsep dimana tidak hanya mengambil atau menangkap sebanyak-banyaknya sumber daya yang ada di laut, namun pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara ekonomi harus sejalan dengan lestarinya kesehatan ekosistem laut.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Baubau serta daerah-daerah sekitarnya untuk menyiapkan diri, jika komoditi sumber daya pesisir dan laut kita ingin bertarung di perdagangan ekspor dalam jangka panjang. Lalu, bagaimana kesiapan kita soal ini?

Ekspor perdana yang dilakukan beberapa pekan lalu yaitu Rabu tgl 28 Januari 2026 menjadi penanda bahwa raksasa maritim yang sedang tidur kini telah bangun dari tidur lelapnya. Komoditi yang diekspor adalah ubur-ubur.

Ubur-ubur selama ini kita anggap tidak memiliki nilai ekonomi, namun di negara lain seperti negeri Tirai Bambu dianggap seksi dan memiliki nilai jual. Nilai transaksi ekspor ubur-ubur tidak main-main dengan volume puluhan ton mencatatkan transaksi ekonomi yang signifikan.

Hal ini, menjadi kabar bagi stakeholder bidang kelautan dan perikanan Baubau dan daerah sekitarnya bahwa saat ini pintu gerbang perdagangan antar negara (ekspor) sudah terbuka. Bisa dibayangkan selama ini komoditi perikanan dan kelautan hanya singgah sementara di Baubau kemudian di kirim lagi ke daerah lain misalnya Surabaya atau Makassar.

Dengan diekspor langsung dari Baubau ke negara importir ini menjadi babak baru yang menguntungkan untuk perputaran ekonomi di kawasan Sulawesi Tenggara wilayah kepulauan.
Meskipun peluang perdagangan antar negara(ekspor) sudah terbuka, namun berbagai tantangan juga ada di depan mata. Hal ini disebabkan karena perdagangan ekspor bukan sekedar memindahkan barang dari gudang ke pelabuhan, namun lebih dari itu berbagai persyaratan ekspor yang rumit dan kompleks harus disiapkan untuk memenuhi standar negara tujuan ekspor.

Berbagai sertifikasi kelayakan produk harus dipenuhi jika tidak, maka produk yang akan dikirim bisa kena reject ataupun ditolak di negara tujuan dan ini menjadi kerugian bagi pelaku usaha maupun daerah kita. Selain itu, persyaratan mutu internasional yang berlapis dan protokol keamanan ketat yang diwajibkan oleh negara tujuan juga harus dipenuhi, dan ini sifatnya wajib.

Literasi ekspor menjadi penting bagi pelaku usaha lokal jika benar kita mau bersaing di pasar internasional. Tanpa literasi ekspor yang cukup, dipastikan kita tidak akan mampu bersaing di pasar internasional.

Hilirisasi

Komoditi perdagangan pada sektor kelautan dan perikanan di era ini, tidak cukup lagi hanya mengandalkan bahan mentah sebagai transaksi ekonomi. Penguatan nilai tambah atau hilirisasi dari produk mentah menjadi keharusan demi meningkatkan nilai ekonomi serta daya saing produk di pasar internasional. Selain itu, hilirisasi bisa membuka peluang investasi dan peluang kerja baru yang bisa menopang perekonomian kita. Hal ini juga bisa membuat negeri ini memiliki bargaining position yang kuat pada perdagangan internasional.

Hilirisasi disektor komoditi kelautan dan perikanan masuk dalam salah satu kebijakan strategis nasional. Kondisi ini, harus disambut di daerah dengan melakukan langkah-langkah strategis. Pertama, pemerintah daerah tidak hanya menjadi pemberi izin namun harus bertransformasi menjadi fasilitator investasi.

Masyarakat lokal diharapkan menjadi pemain utama dalam investasi di sektor kelautan dan perikanan agar nilai ekonomi berputar di Baubau dan daerah sekitarnya tidak lari keluar wilayah lain. Para pelaku usaha lokal diharapkan bisa mengambil peran penting dalam rantai pasok transaksi ekonomi di sektor kelautan dan perikanan.

Bila ini bisa berjalan dengan baik, maka kesejahteraan dan kemajuan daerah akan bergerak lebih cepat. Kedua, infrastruktur penunjang yang mendukung kegiatan ekspor daerah. Misalnya perbaikan fasilitas pelabuhan, jalan, cold storage dll perlu diberi atensi serius. Diharapkan dalam jangka panjang ekosistem bisnis ekspor akan terbentuk menjadi kekuatan kolektif yang membanggakan kita semua.

Kolaborasi

Perdagangan antar negara(ekspor) bukan sekedar mengantar barang dari gudang ke Pelabuhan Murhum, bukan juga dilakukan oleh segelintir pelaku usaha. Namun kegiatan ekspor adalah kerja-kerja kolektif dari berbagai pihak, pemerintah daerah, pelaku usaha, praktisi ekspor, dan yang lainnya membangun harmoni kolaborasi yang kuat sehingga kegiatan ekspor bisa berjalan dengan baik. Keberhasilan ekspor komoditi perikanan dan kelautan tidak di tentukan oleh satu atau dua pelaku usaha, namun kekuatan ekosistem kolaboratif.

Aktivitas ekspor memerlukan integrasi antara pelaku usaha lokal, praktisi ekspor (pengusaha muda), jaminan standarisasi mutu dan akses pasar global yang terpadu agar komoditas kita bisa berdaya saing yang tak tergoyahkan di pasar internasional. (*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan