Kendaripos.co.id — Produksi kakao Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi 635 ribu ton pada tahun 2026 dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare, menandai titik balik penting bagi kebangkitan sektor kakao nasional. Kenaikan ini terjadi di tengah penguatan harga kakao global dan permintaan pasar internasional yang terus meningkat.
Peran Vital Pekebun Rakyat dan Kontribusi Daerah
Hampir seluruh kebun kakao di Indonesia, sekitar 99 persen, dikelola oleh pekebun rakyat yang jumlahnya mencapai 1,50 juta kepala keluarga. Mereka menjadi tulang punggung produksi kakao nasional dengan kontribusi lebih dari 616 ribu ton pada 2024. Sulawesi menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sekitar 60 persen atau 378 ribu ton, diikuti oleh Sumatera yang menyumbang sekitar 164 ribu ton, khususnya dari Lampung dan Sumatera Utara.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas melalui peremajaan kebun, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif bagi pekebun rakyat. "Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus memperkuat hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri," jelasnya.
Strategi Hilirisasi dan Peningkatan Nilai Tambah
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menambahkan bahwa lonjakan harga kakao domestik pada 2025 sejalan dengan penguatan harga biji kakao fermentasi di pasar internasional, membuka peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. "Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang mengalami penguatan signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. Karena itu, kami mendorong peningkatan kualitas, terutama fermentasi, agar harga di tingkat pekebun bisa optimal," katanya.


















































