Sukses Berkat “Warisan” Disiplin, dan Kejujuran dari Ayah

1 month ago 29
Prof. Armid, S.Si., M.Si., M.Sc., D.Sc. Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UHO

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Punya ayah yang berprofesi guru menjadi nilai plus bagi seorang Prof. Armid, S.Si.,M. Si.,M.Sc.D.Sc. Ayahnya yang kala itu menjabat Kepala SMPN Lampeapi, Kabupaten Konawe Kepulauan, “mewariskan” nilai-nilai kedisplinan, kejujuran dan kerja keras kepada Prof.Armid.

“Ayah saya adalah sosok pekerja keras yang bahkan saat menjabat sebagai Ketua Rayon Penerimaan Siswa SMP di Sulawesi Tenggara, bekerja hingga dini hari demi memastikan transparansi dan kejujuran dalam seleksi siswa,” kisah Prof.Armid kepada Kendari Pos, Minggu (2/3/2025).

Ibu Prof.Armin yang seorang ibu rumah tangga punya andil dalam membentuk kepribadiannya. Sang ibu di mata Prof.Armid adalah sosok tegas dalam mendidik anak.

“Saya anak ketiga dari 5 bersaudara. Saya tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yang penuh disiplin dan nilai kejujuran kuat yang ditanamkan ayah dan ibu,” tuturnya.

Nilai-nilai yang diadopsi dari kedua orang tuanya membentuk karakter Prof. Armid sebagai sosok tangguh, mandiri, jujur dan pekerja keras. Nilai-nilai itu dipegang teguh Prof.Armid sejak belia hingga kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Universitas Halu Oleo (UHO).

Sejak kecil, akademisi UHO kelahiran Kendari, 18 Juni 1975 itu, supel dalam bergaul. Ia bergaul dengan siapa saja. Mulai dari lingkungan yang religius hingga pergaulan yang lebih “liar”. Kendati bergaul dalam atmosfer yang “liar”, Prof. Armid muda tak terbawa arus negatif. “Saya berteman dengan ustaz, saya juga berteman dengan yang paling nakal, tapi saya tidak ikut-ikutan,” katanya.

Menempuh pendidikan tinggi di universitas adalah pilihan kedua Prof. Armid muda. Setamat pendidikan jenjang SMA, Prof.Armid ingin mewujudkan citacitanya sejak kecil, menjadi prajurit TNI. Ia mendaftar seleksi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), kini Akademi Militer (Akmil). “Nasib berkata lain. Saya gagal dalam tes kesehatan Akabri,” ujar Prof.Armid.

Selain membidik jadi taruna Akabri, Prof.Armid muda mencoba peruntungan dengan mendaftar ke berbagai akademi dan sekolah kedinasan bergengsi seperti Akabri, Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN), dan Akademi Ilmu Statistik (AIS). “Harapan saya ketika itu adalah bisa kuliah tanpa membebani orang tua,” imbuhnya.

Dengan segala ikhtiar yang dilakukan, Prof.Armid diterima sebagai mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 1994. “Saya ambil Bidang Ilmu Kimia di Unhas melalui program cangkokan atau program beasiswa CD Plus (CIDA),” ungkapnya.

Usai kuliah S1 tahun 1999, Prof.Armid melanjutkan studi jenjang magister (S2) ke Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2001 dan lulus tahun 2003. Tahun 2005, Prof.Armid terbang ke Jepang untuk kuliah S2 bidang Marine Chemistry di University of the Ryukyus. Ia menuntaskan S2 di Jepang pada tahun 2007. Setahun kemudian, tepatnya tahun 2008, Prof.Armid melanjutkan studi doktoral (S3) Marine and Environmental Science di almamater yang sama, University of the Ryukyus dan lulus tahun 2011.

Meskipun sang ayah telah berpulang sebelum ia melanjutkan studi ke Jepang, nilai-nilai yang diajarkan tetap menjadi pegangan hidupnya. “Ayah saya pernah memberikan sebuah buku catatan sebelum berangkat kuliah S1di Unhas. Ada 2 pesan sederhana yang dituliskan di dalamnya yakni jaga salat dan nama baik keluarga. Pesan sederhana ini menjadi prinsip yang terus saya pegang hingga saat ini,” ucap Prof Armid.

Dalam perjalanan karier sebagai akademisi di UHO, Prof. Armid berhasil meraih jabatan fungsional sebagai guru besar atau Profesor. Kini, dengan berbagai pengalaman dan nilai yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil, Prof. Armid terus berkontribusi dalam dunia pendidikan dan akademik. Ia meneruskan prinsip kedisiplinan, kejujuran dan kerja keras yang diwarisi dari sang ayah.

“Banyak nilai-nilai yang ditanamkan orang tua sangat mempengaruhi saya. Saya tidak bisa jadi orang lain. Saya harus jadi diri sendiri dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tua sejak kecil,” tegas Prof. Armid.

Saat kuliah di Jepang, Prof. Armid menyalurkan hobi bermain sepak bola. Ia menjadi striker utama Ryudai Gaku FC. Meski tak berkarier secara profesional, ia menikmati perannya di lapangan hijau dan mendapatkan pengalaman berharga dalam dunia olahraga. “Saat bermain bola di Jepang, saya mendapat panggilan khas dari rekan-rekanyakni Mido, karena pelafalan nama Armid sulit bagi orang Jepang,” pungkasnya. (win/b)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan