balitribune.co.id | Denpasar - Ada perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia hidup dalam warna, dalam bentuk, dan dalam ruang sunyi di antara sapuan kuas dan kanvas. Di sanalah seniman Bali Ni Wayan Sutariyani, yang dikenal dengan nama NiWay, menemukan suaranya. Mulai 3 Juli hingga 31 Agustus 2026, Sudakara ArtSpace di Sudamala Resort Sanur menghadirkan Unconditional Love, pameran tunggal NiWay yang menjadi salah satu karya paling personal dalam perjalanan kreatifnya.
Pameran yang menghadirkan rangkaian karya figuratif-abstrak ini mengajak pengunjung menyelami dunia cinta, keyakinan, kenangan, dan hubungan antarmanusia yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual. Pameran karya seni NiWay yang bertema Kasih ini terbuka bagi tamu resor maupun masyarakat umum.
Melalui karya-karyanya, NiWay mengolah emosi, memori, iman, dan pengalaman hidup menjadi narasi visual yang melampaui batas budaya, status sosial, dan agama. Pameran ini merefleksikan keyakinannya bahwa seni adalah jembatan yang menghubungkan manusia melalui pengalaman batin, rasa, dan spiritualitas.
Karya-karya NiWay tidak menuntut penikmatnya untuk memiliki latar belakang, keyakinan, atau pengalaman hidup yang sama dengannya. Yang dibutuhkan hanyalah keterbukaan untuk merasakannya.
Melalui warna-warna yang berani dan bentuk-bentuk yang kaya makna, lukisannya menjelajahi berbagai sisi pengalaman manusia, kelembutan dan kehilangan, harapan dan kerinduan, spiritualitas dan keseharian.
Salah satu karyanya, Last Supper 3, menghadirkan kembali simbol-simbol universal melalui sudut pandang yang personal dan kontemplatif, mengingatkan pada tradisi seniman besar dunia seperti Frida Kahlo dan Georgia O'Keeffe yang menjadikan pengalaman batin sebagai bahasa yang mampu berbicara kepada siapa saja. "Melalui warna dan bentuk, saya merayakan cinta, harapan, iman, dan keindahan hubungan antarmanusia,” ujar NiWay.
Melalui pameran NiWay, dimana karya-karya seorang seniman perempuan Bali mampu berbicara melampaui batas geografis, Sudamala Resorts kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung talenta kreatif lokal, memperkuat ekosistem seni Indonesia, dan memperkenalkan mereka kepada dunia. "Bagi saya, seni adalah praktik spiritual sekaligus ruang dialog. Sebuah doa visual yang memungkinkan kita saling terhubung, bahkan tanpa kata-kata," imbuhnya.
Kata dia, Unconditional Love adalah sebuah percakapan. "Di Sudamala Resorts, kami percaya bahwa perjalanan yang bermakna tidak hanya tentang menikmati keindahan destinasi atau kenyamanan akomodasi. Yang lebih penting adalah perjumpaan dengan budaya, manusia, dan kisah-kisah yang hidup di dalamnya," katanya. Dari keyakinan inilah Sudakara ArtSpace lahir sebagai ruang budaya yang menghadirkan dialog antara seniman Indonesia kontemporer dan perspektif global dalam satu wadah.


















































