KENDARIPOS.CO.ID -- Di tengah rumah yang rusak akibat perang dan serangan militer Israel, aroma kue Idul Fitri tetap tercium di Gaza.
Samira Touman, seorang ibu tujuh anak, berjuang mempertahankan tradisi dengan membuat kue khas Lebaran meski dihadang keterbatasan.
Bersama anak-anaknya, Samira menyiapkan kaak dan maamoul di hari-hari terakhir Ramadan 2026.
Untuk informasi, kaak merupakan kue kering tradisional khas Timur Tengah dan Arab yang terkenal berbentuk cincin, menyerupai donat, atau lonjong, sering kali ditaburi wijen dan beraroma rempah kuat seperti mahlab, kayu manis, atau kapulaga.

Sementara maamoul tak berbeda dengan kaak, kue kering tradisional khas Timur Tengah yang lembut dan lumer di mulut, umumnya diisi dengan kurma halus (pasta kurma), pistachio, atau kenari.
Proses dilakukan manual, mulai dari menguleni adonan hingga memanggang menggunakan tungku kayu karena kelangkaan gas memasak.
"Ini musim Idul Fitri, musim penuh berkah. Memang tidak semeriah sebelum perang, tapi kami tetap berusaha,” ujarnya seperti dilansir dari Aljazeera dikutip dari Suara.com, Jumat (20/3) 2026).
Kondisi semakin berat setelah penutupan perbatasan yang memicu lonjakan harga bahan pokok. Tepung, gula, hingga kurma kini harganya melonjak tajam, membuat banyak keluarga harus berpikir ulang untuk merayakan Lebaran.
"Alhamdulillah, permintaan masih ada. Orang-orang ingin merasakan sedikit kebahagiaan Lebaran,” katanya. Namun ia mengakui, kebahagiaan di Gaza kerap terasa tidak pernah utuh.


















































