
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup digital, anak muda Indonesia dihadapkan pada tantangan serius yang sering kali luput dari perhatian yaitu rendahnya literasi keuangan. Meski mereka tumbuh dalam era informasi yang serba cepat, pemahaman dasar tentang cara mengelola uang justru masih sangat terbatas.
Dilansir dari admin kubu.id, Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan dari OJK pada 2019 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai angka 38 persen. Artinya mayoritas penduduk masih belum memahami cara kerja keuangan pribadi. Fakta ini lebih mencemaskan lagi ketika dikaitkan dengan generasi muda yang akan menjadi motor penggerak ekonomi bangsa.
Mengapa Literasi Keuangan Anak Muda Masih Rendah
Ada banyak faktor yang menyebabkan pemahaman keuangan di kalangan generasi muda masih tertinggal. Mulai dari sistem pendidikan yang belum menyentuh materi keuangan secara menyeluruh hingga budaya konsumtif yang dipacu oleh media sosial dan tren gaya hidup instan.
Kesadaran akan pentingnya literasi keuangan juga belum tumbuh kuat. Banyak anak muda yang merasa topik keuangan terlalu rumit dan membosankan. Akibatnya mereka lebih tertarik pada pengeluaran jangka pendek ketimbang perencanaan masa depan.
Faktor lain adalah kurangnya akses pada informasi keuangan yang kredibel. Di tengah banjirnya konten digital justru banyak informasi menyesatkan yang memperparah kebingungan. Belum lagi minimnya teladan dari keluarga yang juga tidak terbiasa mengelola keuangan dengan bijak.
Dampak Serius yang Harus Diwaspadai
Rendahnya literasi keuangan tidak hanya berdampak pada keseharian anak muda tapi juga pada masa depan mereka secara keseluruhan. Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan mengelola pendapatan, terjebak utang, atau bahkan takut untuk berinvestasi karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Tanpa pemahaman keuangan yang memadai mereka menjadi lebih rentan terhadap krisis keuangan pribadi. Bahkan mimpi untuk memiliki rumah, pendidikan tinggi, atau usaha sendiri bisa gagal hanya karena tidak punya perencanaan finansial yang baik.
Lebih dari itu dampaknya juga terasa secara nasional. Kurangnya literasi keuangan menghambat pertumbuhan investasi pribadi dan melemahkan kekuatan ekonomi dari lapisan paling muda dalam masyarakat.
Langkah Meningkatkan Literasi Keuangan Anak Muda
Untuk mengatasi persoalan ini diperlukan pendekatan yang lebih aktif dan kreatif. Edukasi keuangan harus dimulai sejak dini dan disesuaikan dengan kebutuhan serta cara belajar anak muda masa kini.
Platform digital seperti kursus online, aplikasi pengelola keuangan, podcast, dan komunitas finansial dapat menjadi alat yang efektif untuk belajar. Anak muda juga disarankan mulai menerapkan ilmu secara langsung misalnya dengan membuat anggaran bulanan, menabung secara rutin, dan mencoba instrumen investasi sederhana.
Belajar dari pengalaman langsung atau bimbingan dari profesional juga bisa sangat membantu. Hal yang terpenting adalah mulai membangun kebiasaan mengelola uang dengan sadar dan konsisten.
Membangun Masa Depan Finansial yang Lebih Cerdas
Masalah literasi keuangan bukan hanya persoalan pengetahuan tapi juga kebiasaan dan pola pikir. Dengan pendekatan yang tepat anak muda Indonesia bisa tumbuh menjadi generasi yang mandiri secara finansial. Ini bukan hanya baik untuk diri mereka sendiri tapi juga untuk masa depan ekonomi negara.(*)