Oleh: Syarif Ali
Setelah UU TNI Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas UU Nomor 34 Tahun 2004 yang memperluas penempatan TNI aktif di Kementerian/lembaga memantik kontraversi, masyarakat kembali dibingungkan oleh rencana kementerian pertahanan yang akan mengadakan pelatihan komponen cadangan (komcad) bagi 4.000 Aparatur Sipil Negara (ASN).
Sejauh ini, publik belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengapa kebijakan ini perlu direalisasikan dalam konteks situasi nasional saat ini. Apalagi di tengah upaya Presiden Prabowo Subianto memangkas anggaran. Maka, patut dipertanyakan efektivitas program pelatihan Komcad.
Marwah pelatihan untuk menjadikan ribuan ASN dalam pelatihan semi militeristik itu bertentangan dengan fungsi utama ASN. Fungsi ASN adalah Pelaksana Kebijakan Publik, Pelayan Publik, dan Perekat dan Pemersatau Bangsa.
Fungsi ini hanya dapat dijalankan dalam ekosistem yang demokratis. Nilai – nilai pelayanan akan tergradasi dalam sistem kerja berbau komando.
Rencana pelatihan ASN menjadi komcad dibeberkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat menjadi materi kepada anggota persatuan wartawan Indonesia (PWI) di Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026). Pelatihan akan melibatkan 4.000 ASN dari 49 kementerian dan lembaga di Jakarta.
Menurut Menhankam pelatihan ASN menjadi komcad untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air dalam mengabdi kepada negara.
Namun, publik masih mempertanyakan tujuan program pelatihan komcad itu sendiri, dan apakah kegiatan tersebut terbukti bisa efektif mencetak pegawai yang memiliki komitmen dan loyalitas kepada negara sehingga dapat mereduksi permasalahan nasional, seperti pencegahan korupsi.
Sejarah Program Komcad
Komponen Cadangan tersebut terbentuk sebagai hasil implementasi Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara beserta turunannya yakni Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2021.
Kata ‘komponen’ di sini menandai salah satu dari tiga aspek pengelolaan sumber daya pertahanan negara: Komponen utama mengacu pada Tentara Nasional Indonesia sebagai kekuatan utama, Komponen cadangan mengacu pada warga negara, sumber daya dan Sarana dan Prasarana Nasional yang siap dikerahkan setiap saat untuk membantu Komponen Utama dan Komponen pendukung merujuk pada Polri, Kepolisian Khusus, dan Rakyat terlatih lainnya Komponen cadangan yang dimaksud berfungsi untuk menambah kekuatan pengganda dan mendukung langsung komponen utama apabila dibutuhkan memperkuat ketahanan internal institusi terhadapa ancaman nirmiliter, serta membangun disiplin dan etos kerja.
Mengapa ASN Perlu Dilatih Komcad?
Carut marut kondisi birokrasi menjadi alasan untuk “membersihkan” birokrasi tersebut melalui program komcad. Masalah utama birokrasi di Indonesia meliputi lambannya pelayanan, prosedur berbelit-belit, budaya kerja kaku (feodal), serta tingginya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Patologi birokrasi tersebut bertentangan dengan gerakan pengabdian kepada negara. Karena itu, pelatihan ASN dalam komcad menurut Kementerian Pertahanan ditujukan untuk menumbuhkna jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air.
Diharapkan manfaat pelatihan komcad meningkatkan semangat ASN untuk melayani masyarakat dan negara bisa semakin tinggi pula.
Output pelatihan ini tidak akan menjadi pengganti dalam mengisi tugas TNI, apalagi menjadi ujung tombak keamanan negara.
Melayani Bukan Melalui Militerisasi Sipil
Pada umumnya, kegiatan komcad meliputi kegiatan jasmani dan pembinaan mental. Kegiatan jasmani bertujuan menjaga kesehatan fisik agar siap siaga melaksanakan aktivitas sehari-hari. Peserta diharapkan memiliki kompetensi kebugaran jasmani yang mencakup komposisi tubuh ideal, kelenturan, kekuatan otot, daya tahan jantung dan paru, hingga pola hidup sehat.
Di samping itu, dalam aktivitas fisik, ada pula kegiatan baris berbaris guna meningkatkan rasa disiplin, kerjasama dan partisipasi dalam tata upacara sipil. Peserta diharapkan dapat menerapkan kaidah etika keprotokolan.
Sementara pembinaan mental lebih tentang mendapatkan arahan terkait modal intelektual, modal emosional, modal sosial, modal ketabahan, dan modal etika atau moral. Peserta diharapkan memiliki kesadaran tentang makna hidup, kesehatan berfikir, dan pentingnya pengendalian diri.
Efektivitas Pelatihan Komcad
Hingga kini alumni pelatihan komcad berjumlah 1.333 ASN Kemenhan namun belum pernah dilakukan evaluasi terhadap outcome dan impact pelatihan. Pelatihan ini seharusnya dilakukan secara transparan. Publik berhak mengetahui bagaimana anggaran program ini dialokasikan dan apa parameter keberhasilannya. Jangan sampai di satu sisi pemerintah berbicara efisiensi, tetapi di sisi lain justru membuka ruang pemborosan baru.
Pelatihan ASN seharusnya difokuskan pada aspek penguatan kapasitas pelayanan publik, ketahanan nasional non-militer serta peningkatan respons terhadap kondisi darurat seperti bencana.
Efektivitas komponen cadangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah peserta, melainkan pada kejelasan doktrin, konsistensi latihan, integrasi dengan sistem, tata kelola yang transparan hingga dukungan anggaran berkelanjutan.
Cinta tanah air bagi ASN dapat mewujudkan nilai komcad dengan mencapai target uraian tugas sesuai dengan jabatan. Kualitas-kualitas kerja itulah yang harus dicapai oleh ASN
Di samping target dan capaian, penilaian perilaku dalam bekerja yang terdiri dari orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, kerjasama, inovasi ide, dan kepemimpinan juga bisa menjadi indikator komcad.
Pentingnya Role Model
Perubahan perilaku pasca komcad itu sendiri harus dicontohkan pula oleh para pemimpin atau petinggi di lingkungan organisasi kementerian / lembaga. Peran pimpinan sebagai role model untuk mempraktikan komitmen komcad menjadi sangat penting.
Pimpinan yang menolak parcel lebaran, mengembalikan honor puluhan ribu bahkan jutaan yang diduga tidak patut, mudah memaafkan, murah senyum, tegas, pintar, berani mengambil resiko, merupakan contoh kecil hasil komcad, namun sangat bermakna.
Terakhir, untuk memastikan efektif atau tidaknya pelatihan komcad ASN, evaluasi pasca pelatihan oleh lembaga independen penting untuk dilakukan.
Penulis, Syarif Ali adalah Penulis dan Pendidik


















































