PARIS-Hari ini 1 April 2026, enam orang sineas independen menjejakkan kaki kembali di tanah air setelah 14 hari lawata di Prancis. Lawatan itu dilakukan untuk mengantar karya mereka, film Bisikan Perjamuan Terakhir, menghadiri Festival Film di kota Tours, Prancis.
Film ini menjadi salah satu film yang dinominasikan oleh para juri dalam Festival International Cinéma Asiatique di kota Tours (FICAT), Perancis dan di putar di pusat cinema kota itu untuk mendapat penilaian publik dan terpilih sebagai salah satu dari empat film terbaik yang dipresentasikan dalam festival ini.
Bagi para sineas indonesia ini, penilaian juri itu menjadi kebanggan tersendiri karena film ini mampu bersanding dengan film-film berbagai negara; Jepang, Korea Selatan, India yang telah terkenal sebagai negara penghasil karya-karya sinema dunia.
Setelah Festival, para sineas ini kemudian melakukan perjalanan ke Rennes untuk berjumpa dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Rennes yang menggelar acara nonton bareng dan diskusi film Bisikan Perjamuan Terakhir bertempat di Rennes Bussines School (RSB). Kebanyakan penonton adalah anak muda dan banyak bertanya tentang masa depan industri film dan demokrasi di Indonesia. Di Rennes, para sineas ini diterima menginap di rumah salah satu diaspora Indonesia yang merintis usaha jasa logistik.
Selanjutnya Daniel Rudi dan rombongannya meneruskan perjalanan ke Aix-la-Chapelle. Disana mereka diterima oleh asosiasi setempat yang menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi di kantor mereka.
Pemutaran film dan diskusi di selenggarakan juga di Paris, yaitu di Théâtre Pixel dan di La Maison d’Indonésie. Théâtre Pixel adalah sebuah tempat pertunjukan théatre dan film yang di kelola oleh seorang diaspora Indonesia, disini juga ada kursus bagi yang ingin menekuni dunia seni peran. La Maison d’Indonesie (LMDI) merupakan sebuah lembaga usaha yang mempromosikan produk dan tourisme Indonesia. LMDI memberi ruang promosi budaya Indonesia dengan bekerjasama dengan pihak lain, baik asosiasi maupun individu.
Pemutaran dan diskusi di dua tempat ini dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Réseau Indonésie. Pemutaran di Théâtre Pixel dihadiri oleh 45 penonton melebihi jumlah kursi yang tersedia. Tetapi di La Maison d’Indonésie penonton tak sebanyak jumlah yang mendaftar.
Di setiap pemutaran baik di Aix-la-Chapele ( Achen) maupun Paris, kesempatan diskusi tak disia-siakan oleh yang hadir bertanya tentang Indonesia, baik sejarah dan budaya yang melatari berbagai simbol-simbol dalam film ini, juga tentang situasi kontemporer indonesia dalam segi ekonomi, sosial dan kemajuan demokrasi.
Tentang Film Bisikan Perjamuan Terakhir
Bisikan Perjamuan Terakhir adalah karya bersama beberapa pekerja film idependen dari Indonesia. Disutradarai oleh Daniel Rudi Haryanto, film ini membutuhkan waktu tujuh tahun lebih hingga akhirnya dirilis dalam program world premiere pada akhir 2025 di Jogyakarta Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2025.
Film ini menyajikan kisah tentang dampak Operasi Militer Trisula di masa awal pemerintahan rejim Orde Baru di Blitar Selatan, Jawa Timur, Indonesia terhadap tiga orang korban yang ditangkap dan ditahan tanpa proses peradilan. Mereka adalah Mbah Talam, Mbah Sukiman, Mbah Yatman.
Sebagaimana sebagian besar wilayah selatan pulau Jawa, Blitar Selatan merupakan wilayah pegunungan kars yang tandus. Sebelum digelar Operasi Trisula (1968-1969) wilayah ini mengalami kekeringan hebat dan masyarakat setempat mengingat tentang adanya hama tikus yang menghancurkan lahan pertanian mereka.
Testimoni yang mengalir melalui bisikan-bisikan para korban menggambarkan trauma panjang yang masih hidup bersama para korban hingga hari ini. Daniel Rudi Haryanto menggunakan kemampuannya sebagai pelukis untuk menggambarkan lebih dalam pergolakan batin para korban untuk saat peristiwa itu berlangsung dan sesudahnya. Gambar-gambar, arsip dan video wawancara itu kemudian disempurnakan dengan pengerjaan efek visual oleh Oscar Herry dan Firman Sasongko dari team Dreamcatchers Studio, dan desain suara dikerjakan oleh Resky Machyuzar.
Film yang diproduseri oleh Daniel Rudi Haryanto bersama Rolando Octavio Purba dan Yolinda Puspitarini ini dibuat untuk menggalang kepedulian bagi para korban tindak kekerasan negara. Bagi para sineas ini dibentuknya kementrian Hak Asasi Manusia oleh presiden Prabowo harus dipandang sebagai langkah positif yang harus didukung untuk memberikan keadilan bagi korban kekerasan negara di masa lalu. Hal ini penting untuk terciptanya rekonsiliasi nasional serta mengingatkan kepada setiap generasi agar peristiwa kejahatan atas kemanusiaan tidak terjadi lagi di masa depan.(*)


















































