SHNet, Denpasar-Sejumlah masyarakat di Bali termasuk mahasiswa khawatir larangan terhadap produksi dan distribusi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di bawah 1 liter berpotensi menimbulkan kesulitan akses air putih bagi mereka. Jika tubuh sampai kekurangan air putih, itu bisa mengganggu kesehatan utamanya ginjal.
Para mahasiswa adalah satu satu pihak yang sangat dirugikan dengan adanya pelarangan produksi dan penjualan AMDK di bawah 1 liter oleh Gubernur Bali I Wayan Koster.
I Made Satya Dwipaya, mahasiswa Fakultas Kedokteran Prodi Fisioterapi Unud mengatakan masih sangat membutuhkan air minum kemasan yang dilarang itu selama menjalani perkuliahannya. Alasannya menurut dia, air minum yang ukuran satu liter agak berat membawanya selain harganya juga yang lebih mahal. “Apalagi seringkali ada kegiatan lain sehabis kelas kuliah dan di Fakultas kita belum tersedia air galon guna ulang atau semacam tap water,” ujarnya.
Mahasiswa lainnya di Fakultas Kedokteran Unud, Kelvin Deonisius Marselo, juga mengeluhkan hal serupa. Dia memilih AMDK di bawah 1 liter itu karena lebih efisien dan praktis. “Kalau minum dari kemasan satu liter itu kan sulit bawahnya karena ukurannya yang besar. Selain itu, harganya juga lebih mahal bagi kami yang masih berstatus sebagai mahasiswa,” katanya.
Senada dengan rekan-rekannya yang lain, Kannon, yang juga dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Prodi Pendidikan Dokter Unud, menyampaikan masih membutuhkan air mineral kemasan di bawah satu liter. “Kalau saya sih jujur belum punya tumbler sekarang karena belum punya duit untuk membelinya. Jadi, saya masih butuh air mineral yang ukuran dibawah satu liter ini karena harganya lebih terjangkau,” katanya.
Sejumlah wisatawan lokal juga mengeluhkan kebijakan Gubernur Bali yang melarang AMDK di bawah 1 liter ini. Wawan, seorang wisatawan lokal asal Jakarta mengungkapkan kehadiran AMDK di bawah 1 liter itu sangat membantunya saat berlibur ke Bali. “Apalagi saya membawa anak-anak. Bisa dibayangkan betapa repotnya jika saya harus membawa beban berat seperti air minum ukuran satu liter. Begitu juga jika harus membawa-bawa tumbler, repot jadinya. Tujuan kita berlibur itu kan untuk santai-santai, bukan untuk bawa yang berat-berat. Apalagi Bali itu cuacanya juga sangat panas, capek kalau bawa-bawa berat,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Srini asal Depok yang juga sering membawa anak-anaknya berlibur ke Bali saat liburan sekolah. Dia juga mengatakan tidak mau repot dengan membawa tumbler saat pergi liburan. “Yang namanya liburan itu kan ingin bersenang-senang dan nyaman. Tapi, kalau harus membawa tumbler saat wisata itu kan agak merepotkan. Apalagi saat jalan-jalan di Bali yang udaranya sangat panas sambil bawa barang yang berat-berat, bisa dibayangkan betapa sengsaranya kita,” cetusnya.
Menyikapi keluhan masyarakat ini, Pakar Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Unud, Dr. dr. I Ketut Suarjana, S.Ked.,MPH, mengingatkan soal bahaya kesehatan yang bisa terjadi jika tubuh kekurangan minum air putih. Apalagi, menurutnya, Bali memiliki cuaca yang sangat panas.
Dia mengatakan jika masyarakat kekurangan minum air putih, itu bisa menyebabkan tubuhnya kekurangan cairan. Seperti diketahui, tubuh manusia pada dasarnya terdiri dari 80% air pada bayi, dan 60% air pada orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh sangat membutuhkan kandungan air yang banyak setiap harinya.
Disampaikan, dalam kondisi normal, orang dewasa membutuhkan minum air putih sebanyak 2 liter perhari. Itu berarti tubuh manusia itu harus memiliki asupan air mineral sebanyak 1-2 liter perhari. “Kalau dalam kondisi cuaca panas seperti Bali, tentunya jumlah air yang dibutuhkan tubuh itu lebih banyak lagi,” tuturnya.
Jadi, lanjutnya, jika sampai terjadi kekurangan minum air putih, manusia cenderung merasakan haus yang disertai mulut kering dan kelelahan. Bahaya lebih lanjut, kata dia, bisa menyebabkan pusing dan kurang konsentrasi. “Nah, kalau sudah berlanjut lagi nggak dapat cairan, efeknya baru ke organ-organ kita, terutama akan mengganggu fungsi ginjal kita. Jadi, kekurangan cairan tubuh itu sangat berbahaya,” ungkapnya.
Praktisi Kesehatan dr. Hartati B Bangsa juga mengutarakan hal yang sama. Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) ini mengatakan orang yang mengalami kekurangan air putih dalam tubuh akan akan mengalami gejala-gejala seperti munculnya rasa haus, fisik terasa lemah dan lesu, bibir pecah-pecah, dan urin berwarna coklat atau pekat. “Kalau dalam sehari mungkin tubuh masih bisa menoleransi dengan deposit air dalam tubuh. Tapi pada kondisi 2-3 hari sampai betul-betul kekurangan air sama sekali, itu sudah harus langsung dengan penanganan petugas medis yang di fasilitas kesehatan,” tukasnya.
Pakar Pangan dan Gizi dari Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ASAGI), Nazhif Giffari, menuturkan orang yang kekurangan minum bisa menyebabkan terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh. “Orang yang kekurangan air dalam tubuhnya biasanya akan lemas dan bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan ginjal dan saluran pencernaan,” katanya.
Ketua Komisi Advokasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Fitrah Bukhari, juga menyoroti kebijakan Gubernur Koster yang melarang penggunaan AMDK di bawah 1 liter di Bali. Dia mengatakan kebijakan ini berisiko menghilangkan hak konsumen untuk memilih produk sesuai kebutuhan. “Pelarangan ini berdampak langsung terhadap preferensi konsumen. Dalam UU Perlindungan Konsumen, hak untuk memilih produk adalah hak dasar yang wajib dihormati,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya membatasi pilihan konsumen, tetapi juga membebani dari sisi biaya dan kepraktisan. Terutama bagi masyarakat termasuk mahasiswa yang mengandalkan air kemasan kecil. “Konsumen dipaksa membeli air dalam kemasan besar, yang tidak selalu praktis. Ini kan jelas-jelas membatasi hak konsumen,” katanya.