KENDARIPOS.CO.ID -- Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk menggelar pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat (AS), meskipun proposal Washington untuk mengakhiri konflik saat ini tengah ditinjau oleh otoritas tertinggi di Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan komunikasi yang terjadi melalui mediator tidak dapat diartikan sebagai negosiasi langsung dengan AS.
"Pertukaran pesan melalui mediator tidak berarti negosiasi dengan AS," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Kamis (26/3/2026).
Sebagai bentuk penolakan, Iran kembali melancarkan serangan baru ke wilayah Israel pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat. Serangan ini membuat sirene peringatan serangan udara di wilayah tengah, Yerusalem, dan sebagian wilayah utara, meraung.
Dilansir Antara dari Anadolu, harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan, rudal terdeteksi dari Iran menuju wilayah Israel tengah dan kawasan Yerusalem.
Sirene peringatan serangan rudal dan roket diaktifkan di seluruh Israel bagian tengah, wilayah Yerusalem, serta di sejumlah bagian wilayah pendudukan Tepi Barat.
Peringatan tambahan juga terdengar di wilayah utara, termasuk kota Ortal dan Ein Zivan di Dataran Tinggi Golan, serta di komunitas Gonen, Lehavot HaBashan, dan Shamir di wilayah Galilea Panhandle.
Dilaporkan pula, sejumlah orang mengalami luka-luka dan sebuah bangunan mengalami kerusakan akibat jatuhnya proyektil di wilayah Kafr Qasim, Israel bagian tengah.
Laporan media menyebutkan sebuah amunisi dengan muatan sekitar 100 kilogram bahan peledak menghantam pusat kota. Akibatnya, kerusakan signifikan pada bangunan dan kendaraan. Ledakan terdengar di berbagai wilayah Tel Aviv seiring laporan militer Israel mengenai gelombang serangan rudal yang datang dari Iran.


















































