
Dinamika Perilaku Konsumen di Era Digital
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), FOPO (Fear of Other People's Opinions), dan YOLO (You Only Live Once) kini semakin memengaruhi pola konsumsi masyarakat di era digital.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEI) Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Nisrina Hamid, S.P.,M.P., CMA mengatakan perilaku konsumen telah mengalami perubahan drastis, terutama sejak pandemi Covid-19.

"Jika dulu transaksi dilakukan secara konvensional, dengan bertemu langsung antara penjual dan pembeli, kini semuanya telah bergeser ke arah digital. Transaksi dan interaksi lebih sering dilakukan secara virtual melalui media streaming atau platform media sosial seperti e-commerce, Facebook, dan Instagram," ujar Nisrina Hamid dalam diskusi di podcast Kendari Pos Chanel yang dipandu Wakil Direktur Kendari Pos, Awal Nurjadin, Senin (20/1/2025).
Nisrina mengungkapkan, perubahan ini terjadi karena tuntutan zaman yang membuat konsumen dan pelaku bisnis harus beradaptasi. "Sekarang, menawarkan barang atau jasa tidak lagi secara langsung. Semuanya bisa dilakukan melalui platform digital," katanya.
Namun, perubahan ini tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga memunculkan fenomena perilaku konsumsi baru yang sering kali tidak rasional. Nisrina memaparkan tiga fenomena utama yang menjadi fokus risetnya: FOMO, FOPO, dan YOLO.
FOMO, atau Fear of Missing Out, mengacu pada rasa takut seseorang untuk ketinggalan sesuatu yang viral atau populer. Nisrina mencontohkan tren seperti boneka Labubu yang sempat viral dan membuat banyak orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mendapatkannya.
"FOMO membuat konsumen merasa harus menjadi yang terdepan, tidak boleh ketinggalan tren. Ini juga berlaku pada produk lain seperti skincare, di mana orang merasa cemas jika tidak memiliki produk tertentu yang sedang populer," tutur Nisrina.
Fenomena FOMO ini sering kali berujung pada pembelian impulsif atau impulsive buying, di mana konsumen membeli barang tanpa perencanaan matang hanya karena dorongan sesaat.
Selain FOMO, FOPO atau Fear of Other People's Opinions menjadi faktor lain yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat. FOPO berarti ketakutan terhadap penilaian orang lain, yang membuat seseorang membeli atau menggunakan suatu produk demi menjaga citra sosial.
"Misalnya, seseorang membeli barang tertentu karena ingin diterima di lingkaran pertemanan atau komunitas. Pendapat orang lain, termasuk keluarga, teman, atau kelompok sosial, menjadi pertimbangan utama dalam konsumsi mereka," jelas Nisrina.
Fenomena YOLO, singkatan dari You Only Live Once atau "Hidup Hanya Sekali," mendorong seseorang untuk menikmati hidup sepenuhnya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Laman: 1 2