Menemukan Hukum Sosial Bermakna, Bermanfaat, dan Berdampak untuk Kehidupan Manusia

3 weeks ago 21

SHNet, JAKARTA – Sejatinya, ilmu sosial itu kembali pada semangat asli: Menemukan hukum sosial bermakna, bermanfaat, dan berdampak untuk kehidupan manusia. Dicapai melalui observasi mendalam, keterlibatan etis, dan pemahaman utuh terhadap realitas.

Alkisah, Ilmu sosial kontemporer kerap terjebak dalam statistikisme. Yakni dominasi statistik sebagai metode utama dan satu-satunya ukuran keilmiahan. Realita ini perlu ditilik ulang. Perlu mempertanyakan asumsi tersebut dengan menggali akar historis dan epistemologis dari positivisme Comte. Yang aslinya justru bertujuan mendalami keteraturan sosial melalui observasi holistik dan pendekatan moral.

Dengan mempertimbangkan kritik dari pemikir seperti Habermas, Flyvbjerg, dan Gould, kita perlu menyodorkan argumen bahwa ilmu sosial harus direhumanisasi, dengan statistik sebagai alat bantu, bukan fondasi tunggal. Artinya, perlu digelorakan pengembaliannya pada semangat asli positivisme. Yakni, menyelamatkan ilmu sosial dari penyempitan makna manusia dan penciptaan hukum masyarakat yang semu.

Pendahuluan

Ilmu sosial, sebagai bidang yang mempelajari interaksi manusia dan dinamika masyarakat, saat ini menghadapi tantangan signifikan dalam pendekatan dan metodologi penelitiannya. Di tengah tuntutan untuk mengadopsi metode yang semakin ilmiah dan objektif, banyak praktisi terjebak dalam apa yang dikenal sebagai statistikisme pendekatan yang mereduksi kompleksitas sosial menjadi sekadar angka dan korelasi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang esensi ilmu sosial itu sendiri dan bagaimana kita memahami tindakan serta makna di baliknya. Auguste Comte, sebagai pelopor positivisme, membayangkan ilmu sosial sebagai sebuah disiplin yang berupaya menemukan hukum sosial melalui observasi holistik yang mencakup dimensi moral dan historis.

Namun, dalam praktik modern, banyak peneliti yang beralih ke pendekatan kuantitatif yang sempit, mengabaikan konteks dan makna yang menjadi jantung dari ilmu sosial. Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi pergeseran dari positivisme ke statistikisme, mempertanyakan validitas pendekatan kuantitatif yang dominan, dan menawarkan argumen untuk mengembalikan ilmu sosial kepada semangat asalnya yang lebih humanistik.

Dengan demikian, diharapkan ilmu sosial dapat berkembang sebagai panduan yang lebih bermakna untuk memahami dan memperbaiki masyarakat.

Ilmu sosial masa kini seoertinya menghadapi krisis epistemik. Di satu sisi, ada tuntutan untuk semakin ilmiah, objektif, dan terukur. Di sisi lain, pendekatan kuantitatif yang dominan justru mengikis kedalaman makna sosial yang menjadi jantung ilmu sosial itu sendiri.

Fenomena ini sering disebut sebagai statistikisme. Yakni reduksi terhadap realitas sosial menjadi sekadar angka dan korelasi. Ironisnya, pendekatan ini kerap mengklaim dirinya sebagai penerus warisan positivisme Comte. Padahal justru menyimpang dari semangat aslinya.

Untuk itu, perlu kelapangan untuk menjawab kegalauan fundamental berikut: (i) Apakah regresi statistik bisa menggantikan pemahaman tindakan sosial? (ii) Apakah mungkin tetap ilmiah tanpa statistik? (iii) Apakah pendekatan kuantitatif modern merupakan bentuk penyimpangan dari epistemologi positivisme? (iv) Bagaimana seharusnya ilmu sosial ber(di)kembangkan berdasarkan positivisme Comte?

Positivisme Asli Versus Statistikisme

Dalam Cours de Philosophie Positive, Auguste Comte membayangkan ilmu sosial (sociologie) sebagai cabang ilmu yang mempelajari keteraturan sosial sebagaimana ilmu alam mempelajari hukum alam. Namun keteraturan sosial tidak pernah bersifat mekanistik. Ia lahir dari proses historis, moral, dan institusional. Oleh karena itu, bagi Comte, observasi sosial harus mencakup dimensi moral dan historis, bukan semata korelasi numerik.

Ironisnya, dalam praktik modern, positivisme direduksi menjadi semata penggunaan statistik. Proliferasi regresi linear, model struktural, dan indeks-indeks sosial (acap tidak memahami konteks kultural dan makna tindakan) kemudian mengubah ilmu sosial menjadi mesin pengukur, bukan penafsir.

Ian Hacking (The Taming of Chance) menunjukkan bagaimana statistik mengubah cara kita memahami probabilitas sosial. Yakni dari sesuatu yang reflektif menjadi instrumen kontrol dan klasifikasi. Sejatinya, bukan ini asa dan jalan yang diinginkan Comte.

Regresi Statistik dan Tindakan Sosial

Regresi statistik, sebagaimana metode kuantitatif lainnya, hanya mampu menjawab pertanyaan “berapa banyak” dan “seberapa kuat hubungan antar variabel.” Ingat, ia tidak mampu menjawab “mengapa manusia bertindak demikian” atau “apa arti tindakan tersebut bagi pelakunya.”

Weber, dalam kerangka Verstehende Soziologie (Sosiologi yang Memahami), menekankan urgensi memahami makna subjektif dari tindakan sosial. Mengganti ini dengan model statistik berarti berpotensi menafikan intensi dan interpretasi manusia.

Stephen Jay Gould (The Mismeasure of Man) menunjukkan bahwa penggunaan statistik secara membuta bisa membawa bias ideologis yang sistemik. Termasuk rasisme ilmiah dan determinisme biologis. Ini yang membuktikan bahwa statistik bukan alat yang netral secara epistemologis.

Ilmiah Tanpa Statistik: Sebuah Kemungkinan Rasional

Menjadi ilmiah tidak selalu berarti kuantitatif. Sejak awal, ilmu berarti sistematik, rasional, dan dapat dikaji ulang. Banyak pendekatan kualitatif seperti etnografi, studi kasus, fenomenologi, hingga penelitian kritis tetap ilmiah sepanjang mengikuti logika sistematis dan memiliki dasar teoritis yang kuat.

Bent Flyvbjerg (Making Social Science Matter) menggarisbawahi pentingnya ilmu sosial kembali pada praktik kebijaksanaan praktis (phronesis). Yakni mengkaji nilai, makna, dan konteks tindakan manusia secara kontekstual dan historis. Ini merupakan bentuk keilmuan yang sesuai dengan kompleksitas manusia dan masyarakat.

Statistikisme: Warisan Penyimpangan Epistemik?

Bukannya memastikan positivisme, penelitian kuantitatif yang tidak kritis terhadap asumsi dasarnya justru mewarisi penyimpangan epistemik. Statistikisme menggiring ilmu sosial menjadi mekanistik, deterministik, dan antihumanistik. Ini berlawanan dengan Comte. Ia ingin menata masyarakat berdasarkan pengetahuan moral dan sosial, bukan kalkulasi kaku.

Habermas (Knowledge and Human Interests) menjelaskan bahwa ilmu sosial seharusnya tidak hanya bersandar pada pengetahuan teknis (technical interest) tetapi juga hermeneutik (practical interest) dan emansipatoris (emancipatory interest). Statistik hanya memenuhi yang pertama dan cenderung mengabaikan dua lainnya.

Menuju Ilmu Sosial Humanistik Berbasis Positivisme Comte

Untuk kembali ke semangat asli Comte, prinsip pengembangan ilmu sosial yang relevan dan patut menjadi perhatian dan pertimbangan mendasar.

a. Reintegrasi Dimensi Moral dan Historis
Ilmu sosial harus mengintegrasikan dimensi historis, moral, dan kultural dalam observasi sosial. Ini selaras dengan Comte yang percaya bahwa hukum sosial tidak lepas dari dinamika spiritual dan moral masyarakat.

b. Statistik sebagai Alat, Bukan Dogma
Kita harus menempatkan statistik sebagai alat bantu analisis, bukan sumber kebenaran absolut. Statistik berguna untuk pola, tetapi tidak memadai untuk makna.

c. Pendekatan Multimetode
Ilmu sosial sebaiknya mengembangkan model multimetode yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara komplementer. Ini bukan kompromi pragmatis, melainkan strategi epistemologis untuk menangkap kompleksitas sosial.

d. Tujuan Sosial Ilmu
Ilmu sosial bukan hanya untuk menjelaskan, tetapi untuk memperbaiki masyarakat. Positivisme Comte bersifat normatif. Ilmu seharusnya menjadi pemandu rekayasa sosial etis dan progresif.

Muhasabah

Ilmu sosial yang hanya mengandalkan statistik telah menyimpang dari semangat asli dan awal positivisme Comte. Statistikisme membungkam dimensi manusiawi dan melahirkan hukum-hukum masyarakat yang semu. Sudah saatnya ilmu sosial direhumanisasi; dengan menempatkan kembali statistik sebagai alat bantu, bukan sumber kebenaran. Kembalinya kita pada semangat positivisme holistik Comte adalah jalan menyelamatkan ilmu sosial dari penyempitan makna dan menuju masa depan lebih etis, bermakna, dan berdampak.

Dengan mempertimbangkan tantangan yang dihadapi oleh ilmu sosial modern, sangat penting untuk kembali kepada semangat asli positivisme Comte. Statistikisme, meskipun menawarkan alat analisis yang berguna, tidak boleh dijadikan satu-satunya pendekatan dalam memahami kompleksitas sosial. Ilmu sosial harus mengintegrasikan dimensi moral, historis, dan kultural untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang realitas manusia.

Melalui pengembangan model multimetode dan penekanan pada penelitian kualitatif, kita dapat menciptakan ilmu sosial yang lebih humanistik dan berdampak. Dengan demikian, ilmu sosial tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan masyarakat.

Saatnya untuk merehumanisasi ilmu sosial dan menempatkan kembali statistik dalam konteks yang sesuai, menjadikannya alat bantu untuk memahami, bukan sebagai tujuan akhir. Dengan langkah ini, kita dapat menempuh jalan menuju masa depan yang lebih etis, bermakna, dan progresif dalam kajian ilmu sosial.  (Non)

Catatan: Maximus Gorky Sembiring & Mohamad Pandu Ristiyono, Kedua Penulis adalah Dosen Universitas Terbuka, Tangerang Selatan

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan