
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Ketegangan sosial sering kali tak bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di tengah perbedaan latar belakang, nilai, budaya, bahkan kepentingan. Namun, konflik bukan akhir dari segalanya. Justru, ketika ditangani dengan benar, konflik bisa menjadi jalan menuju hubungan sosial yang lebih sehat dan dewasa.
Buku Pelayanan Sosial Remaja Putus Sekolah karya Sumarni, dkk. (2020) menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam menyelesaikan konflik sosial. Keterlibatan publik menjadi kunci dalam menjaga kohesi sosial dan mencegah perpecahan lebih dalam.
Berikut adalah lima pendekatan efektif untuk meredakan konflik sosial yang sering muncul di lingkungan masyarakat kita:
1. Toleransi: Pilar Utama Hidup Berdampingan
Saling menghargai perbedaan adalah fondasi dasar hidup damai di tengah masyarakat yang majemuk. Toleransi bukan hanya menerima perbedaan, tapi juga membuka ruang dialog dan kerja sama.
Di era digital yang penuh opini ini, sikap toleransi sangat krusial agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi permusuhan. Budaya saling serang di media sosial bisa dicegah jika toleransi dipraktikkan secara nyata dalam komunikasi kita sehari-hari.
2. Konsiliasi: Bertemu di Tengah Jalan
Ketika dua pihak berselisih, upaya konsiliasi bisa menjadi solusi. Ini melibatkan upaya mempertemukan pihak-pihak yang bertikai untuk merumuskan kesepakatan damai yang bisa diterima bersama.
Dalam praktiknya, konsiliasi sering diterapkan dalam konflik internal organisasi, kasus perundungan di sekolah, hingga perselisihan antar tetangga. Peran pemimpin informal, guru, atau tokoh masyarakat menjadi penting sebagai fasilitator yang adil.
3. Mediasi: Peran Pihak Ketiga yang Netral
Berbeda dengan konsiliasi, mediasi melibatkan pihak ketiga yang netral untuk memberikan saran atau jalan keluar. Dalam banyak kasus, kehadiran mediator membantu membuka komunikasi yang sebelumnya terputus total.
Namun, keberhasilan mediasi sangat bergantung pada netralitas mediator dan kesediaan kedua pihak untuk mendengarkan. Karena itu, pelatihan mediasi komunitas kini mulai banyak dilakukan di berbagai daerah.
4. Kompromi: Saling Mengalah untuk Saling Menang
Kompromi adalah jalan tengah yang mengharuskan masing-masing pihak untuk sedikit menurunkan ego dan ekspektasi mereka. Meski terdengar sederhana, praktik kompromi membutuhkan kedewasaan dan kesediaan untuk mengutamakan kepentingan bersama.
Kasus perceraian, konflik organisasi, bahkan perundingan antara warga dan pengembang perumahan banyak yang diselesaikan melalui kompromi.
5. Segregasi: Pemisahan Sebagai Solusi Terakhir
Dalam beberapa konflik antar kelompok terutama yang berlatar belakang etnis, agama, atau budaya segregasi atau pemisahan wilayah bisa menjadi langkah sementara untuk meredakan ketegangan.
Meski bukan solusi jangka panjang, segregasi bisa menjadi pilihan ketika konflik sudah terlalu panas dan sulit dikendalikan. Namun, hal ini tetap harus dibarengi dengan edukasi dan program rekonsiliasi agar segregasi tidak memperdalam jurang sosial.
Penutup: Konflik Bisa Jadi Titik Balik
Konflik sosial tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun, cara kita merespons konflik akan menentukan apakah ia menjadi pemecah atau pemersatu.
Dalam masyarakat yang inklusif dan dinamis, kemampuan menyelesaikan konflik secara damai adalah tanda kedewasaan kolektif. Kita tidak harus sepakat dalam segala hal, tapi kita bisa memilih untuk tetap menghargai satu sama lain.(*)