KPDI XVII, Perpustakaan Digital Indonesia Siap Bertransformasi di Era AI

7 hours ago 4

SHNet, Yogyakarta – Transformasi perpustakaan digital di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi.

Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pengetahuan yang menempatkan manusia sebagai pusat, melalui penguatan kesadaran, perilaku, interaksi, dan budaya informasi. Semangat inilah yang menjadi ruh penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII yang resmi dibuka di Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (4/8).

Mengusung tema “Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan”, konferensi ini menjadi wadah kolaborasi nasional yang mempertemukan pustakawan, akademisi, peneliti, praktisi teknologi informasi, pengembang sistem perpustakaan, hingga berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi perpustakaan digital Indonesia.

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Joko Santoso, menegaskan bahwa perpustakaan digital masa depan harus melampaui sekadar penyedia layanan berbasis teknologi. Perpustakaan, menurutnya, harus mampu menjadi fasilitator literasi kritis, mediator teknologi, sekaligus penggerak budaya informasi yang sehat, inklusif, dan adaptif.

“KPDI ke-17 memiliki nilai strategis sebagai ruang bertemunya gagasan, inovasi, dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem perpustakaan digital di Indonesia,” ujar Joko Santoso.

Pesan senada disampaikan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui sambutan Gubernur DIY yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Noviar Rahmad. Pemerintah menekankan bahwa perkembangan AI harus selalu diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai penjaga akal sehat publik dan ruang yang membimbing masyarakat dalam memahami informasi secara bertanggung jawab.

“AI boleh memberikan rekomendasi. Namun manusialah yang tetap memberikan pertimbangan. AI boleh membaca pola. Namun manusialah yang mampu membaca luka, harapan, kebutuhan, dan kemaslahatan sesama,” demikian pesan Gubernur DIY.

Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa AI merupakan irama baru yang bergerak sangat cepat, sementara pustakawan adalah penjaga makna yang memastikan teknologi dimanfaatkan secara bijaksana. Perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang menjembatani kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan sehingga informasi tidak hanya mudah diakses, tetapi juga menghasilkan kebijaksanaan.

Ketua Panitia KPDI XVII, Novy Diana Fauzie, menjelaskan bahwa tema konferensi dipilih sebagai respons atas perubahan besar yang dibawa AI terhadap cara masyarakat mencari, mengakses, mengelola, hingga menyebarluaskan informasi. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut perpustakaan terus beradaptasi melalui penguatan kolaborasi, inovasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

KPDI XVII merupakan hasil kolaborasi Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun ini menjadi tonggak penting karena UMY tercatat sebagai perguruan tinggi swasta pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia.

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, KPDI XVII menghadirkan rangkaian kegiatan yang lebih komprehensif. Selain seminar ilmiah, konferensi juga menyelenggarakan Call for Papers, Call for Posters, workshop berbasis praktik terbaik, klinik aplikasi dan perangkat lunak perpustakaan, hingga kompetisi portal website perpustakaan.

Konferensi turut menghadirkan narasumber internasional, yakni Mega Subramaniam dari University of Maryland dan Tom Rieger dari Rochester Institute of Technology, Amerika Serikat. Peserta juga memperoleh kesempatan mempublikasikan karya ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi Scopus melalui proses seleksi dan penelaahan.

Sebanyak 281 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti KPDI XVII. Mayoritas berasal dari perpustakaan perguruan tinggi, disusul perpustakaan khusus, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan berbagai jenis perpustakaan lainnya. Sepuluh provinsi dengan jumlah peserta terbanyak berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Banten, Papua Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan.

Selain menjadi forum pertukaran gagasan, KPDI XVII juga menghasilkan rekomendasi strategis bagi pengembangan perpustakaan digital nasional. Dalam kesempatan tersebut diumumkan pula bahwa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) akan menjadi tuan rumah KPDI XVIII pada 2027, sekaligus dilakukan pemilihan calon penyelenggara KPDI XIX tahun 2028. Konferensi juga memberikan penghargaan kepada pemakalah terbaik, poster ilmiah terbaik, serta portal website perpustakaan terbaik.

Melalui kolaborasi lintas institusi dan penguatan peran pustakawan di era kecerdasan buatan, KPDI XVII menegaskan bahwa masa depan perpustakaan digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem informasi yang cerdas, inklusif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan