Brawijaya Hospital Hadirkan Sederet Inovasi Medis Berbasis Teknologi

12 hours ago 10

SHNet, Jakarta – Brawijaya Hospital Group kembali menunjukkan komitmennya menghadirkan layanan kesehatan berstandar tinggi melalui sederet inovasi medis berbasis teknologi.

Mulai dari operasi jantung minim invasif tanpa membelah tulang dada, terapi ablasi sebagai standar emas penanganan aritmia, hingga layanan fertilitas modern melalui Benih IVF Center, seluruh inovasi tersebut dirancang untuk memberikan pengobatan yang lebih aman, pemulihan lebih cepat, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien.

Berbagai terobosan itu diperkenalkan dalam acara edukasi kesehatan bertajuk “Saving Time, Saving Organ, Saving Future” yang digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 50 perwakilan perusahaan asuransi dan mitra bisnis sebagai bagian dari upaya Brawijaya Hospital memperluas kolaborasi sekaligus memperkenalkan layanan unggulan yang kini semakin lengkap.

Chief Commercial Officer Brawijaya Hospital Group, drg. Hestiningsih, S.E., M.A.R.S., mengatakan inovasi menjadi kunci dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang semakin modern dan komprehensif.

“Brawijaya Hospital senantiasa meningkatkan mutu dan pelayanan dengan meluncurkan inovasi-inovasi terbaru di bidang kesehatan. Selain itu, kami juga akan terus berekspansi dengan berencana membuka beberapa rumah sakit di beberapa tempat,” ujarnya.

Operasi Jantung Lebih Modern, Pasien Pulih Lebih Cepat

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah layanan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) yang dikembangkan Brawijaya Hospital Taman Mini. Berbeda dengan operasi jantung konvensional, prosedur ini hanya membutuhkan sayatan kecil di sisi kanan dada tanpa harus membelah tulang dada

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Dr. dr. Ismail Dilawar, MARS, Sp.BTKV, Subsp.JD(K) menjelaskan teknik tersebut memberikan banyak keuntungan bagi pasien, mulai dari rasa nyeri yang lebih ringan, risiko infeksi lebih rendah, hingga masa rawat yang jauh lebih singkat.

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Dr. dr. Ismail Dilawar, MARS, Sp.BTKV, Subsp.JD(K)  (Ist)

“Pasien tidak lagi harus dibelah tulang dadanya. Kami hanya menggunakan sayatan kecil di sisi kanan dada, bahkan di bawah ketiak, dengan bantuan kamera. Operasi menjadi lebih kecil, pemulihan lebih cepat, pasien lebih cepat pulang dan kembali bekerja,” jelasnya.

Teknologi MICS kini dapat diterapkan untuk berbagai kasus seperti penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, hingga penyakit jantung bawaan.

Di sisi lain, Ismail mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan, yakni semakin banyak pasien penyakit jantung koroner berusia muda.

“Dulu pasien operasi bypass umumnya usia 60 tahun ke atas. Sekarang usia 33, 34 bahkan 38 tahun sudah ada yang menjalani operasi bypass. Salah satu penyebabnya adalah perubahan gaya hidup yang semakin kurang bergerak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa operasi maupun pemasangan ring bukan berarti penyakit jantung telah selesai. Pasien tetap harus menjaga pola makan, rutin berolahraga, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, serta berhenti merokok agar risiko serangan jantung tidak kembali.

Pasien tetap harus menjaga pola makan, rutin berolahraga, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, serta berhenti merokok agar risiko serangan jantung tidak kembali.

Ablasi Jadi Solusi Menyembuhkan Aritmia

Inovasi lainnya datang dari Brawijaya Hospital Saharjo yang menghadirkan layanan penanganan aritmia dengan teknologi ablasi berstandar internasional.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Simon Salim, Sp.PD-KKV, M.Kes., AIFO, FINASIM, FICA, FHRS, FACC menjelaskan bahwa aritmia merupakan gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan keluhan ringan hingga berujung pada henti jantung mendadak.

Menurutnya, jika pasien menginginkan kesembuhan, tindakan ablasi merupakan terapi yang paling efektif.

“Kalau targetnya adalah sembuh atau cure, maka golden standard-nya adalah ablasi. Obat hanya menekan, tetapi tidak menghilangkan sumber gangguannya,” ujarnya.

Simon juga mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi wearable seperti smartwatch sebagai alat deteksi dini gangguan irama jantung. Meski demikian, hasilnya tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG).

Ia juga meluruskan anggapan bahwa olahraga dapat memicu aritmia. “Belum ada bukti bahwa olahraga yang dilakukan dengan benar meningkatkan risiko aritmia. Sebaliknya, olahraga membantu menurunkan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner hingga aritmia,” katanya.

Diabetes Saat Hamil Bisa Ganggu Jantung Janin

Dalam sesi kesehatan ibu dan kandungan, dr. Med. Firman Santoso, Sp.OG, mengingatkan pentingnya menjaga kadar gula darah selama kehamilan.

Menurutnya, diabetes gestasional yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kelainan jantung bawaan, lahir dengan berat badan berlebih, hingga mengalami hipoglikemia setelah dilahirkan.

“Diabetes yang tidak terkontrol pada ibu hamil meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Selain itu bayi bisa lahir dengan berat badan berlebih dan mengalami hipoglikemia sesaat setelah lahir,” jelasnya.

Ia juga mengimbau ibu hamil tetap aktif bergerak, menjaga pola makan sehat, serta menghindari konsumsi makanan mentah yang berpotensi mengandung bakteri maupun parasit berbahaya.

Benih IVF Center Buka Harapan Baru bagi Pasangan

Tak hanya memperkuat layanan jantung, Brawijaya Hospital juga menghadirkan Benih IVF Center, pusat layanan fertilitas yang menggabungkan teknologi bayi tabung modern, pendekatan personal, serta didukung tenaga ahli berpengalaman.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas dr. Niken P. Pangastuti, Sp.OG, Subsp.FER, mengungkapkan Benih IVF Center mencatat tingkat keberhasilan hingga 66,7 persen pada pasien berusia 41–42 tahun melalui prosedur Frozen Embryo Transfer (FET) sejak 2024.

“Keberhasilan program bayi tabung menjadi fokus utama kami. Capaian ini menunjukkan komitmen kami dalam menghadirkan hasil terbaik bahkan untuk kelompok usia yang menantang,” ujarnya.

Selain program IVF, Benih IVF Center juga menyediakan layanan egg freezing atau pembekuan sel telur yang memungkinkan perempuan mempertahankan kualitas sel telur untuk digunakan di masa mendatang.

Melalui rangkaian inovasi tersebut, Brawijaya Hospital menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin modern, cepat, dan terintegrasi. Dengan dukungan teknologi mutakhir serta tenaga medis multidisiplin, rumah sakit ini berharap dapat memberikan solusi kesehatan yang lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan