
-- Jaga Stabilitas Harga Pangan
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Laju inflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) cukup terkendali. Hanya saja, tidak semua daerah yang Indeks Perkembangan Harga (IPH)-nya relatif stabil. Dari 17 kabupaten dan kota, dua daerah yang mengalami kenaikan IPH yakni Bombana dan Muna. Kondisi ini dipicu melonjaknya harga sejumlah komoditas. Gejolak harga ini mendapat perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sultra Asrun Lio menyoroti kenaikan IPH Bombana dan Muna yang menjadi perhatian nasional. Menurutnya, lonjakan harga yang signifikan terjadi di Bombana, terutama pada komoditas daging ayam dan bawang merah. Sementara di Muna, harga beras, cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan yang cukup tinggi.
“Kenaikan ini menjadi pertanyaan besar. Mengingat daerah sekitar seperti Konawe Selatan (Konsel) Kolaka dan Kendari, harga cenderung stabil atau bahkan mengalami penurunan. Kita perlu cross-check lebih lanjut. Bisa saja ada kesalahan dalam pencatatan atau penginputan data. Bisa juga faktor lain, seperti terganggunya distribusi pangan,” ujar Asrun pada Rapat Koordinasi (Rakor) Ketahanan Pangan, Rabu (26/2).
Saat ini lanjutnya, dugaan utama penyebab kenaikan harga di Bombana dan Muna adalah gangguan distribusi yang menyebabkan kelangkaan stok, sehingga berujung pada lonjakan harga. Oleh karena itu, pemerintah segera merumuskan langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pangan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri.
Sejumlah langkah yang dibahas dalam Rakor ini kata Asrun, antara lain subsidi transportasi pangan untuk mengurangi biaya distribusi, optimalisasi stok pangan melalui koordinasi antara Bulog dan Dinas Ketahanan Pangan, serta monitoring harga secara intensif oleh BPS guna memastikan akurasi laporan IPH. Di sisi lain, pemerintah akan mendorong sinergi dengan distributor, pedagang dan Balai POM guna mencegah spekulasi harga yang merugikan masyarakat.
“Seluruh pihak harus melakukan pemantauan dan pengawasan harga pangan di lapangan untuk memastikan stabilitas harga, terutama menjelang bulan Ramadan. Kita ingin memastikan masyarakat bisa menjalankan ibadah dengan tenang, tanpa khawatir akan lonjakan harga pangan,” ujar Jenderal ASN ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Ari Sismanto mengungkapkan inflasi Sultra berada di posisi ketiga terendah secara nasional dengan angka 0,39 persen Januari 2025. Sementara inflasi nasional tercatat 0,76 persen. Namun kenaikan IPH di Bombana menjadi perhatian utama. Pada minggu kedua Februari, daerah ini menempati peringkat kedua tertinggi IPH nasional dengan angka 4,98, sebelum turun ke peringkat tiga dengan angka 4,38 pada minggu ketiga.
“Untuk wilayah Sultra, setelah Bombana IPH tertinggi disusul oleh Muna dengan 1,46 kemudian Kolaka Timur berada di peringkat ketiga dengan IPH 0,39. Yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga di Bombana adalah daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Sementara di Muna, kenaikan lebih banyak disebabkan oleh kenaikan harga beras, cabai merah, dan cabai rawit,” jelasnya.
Untuk mengatasi lonjakan harga ini, pemerintah daerah mendorong kerja sama antar daerah, seperti yang telah dilakukan Muna dan Kolaka Timur dalam mendistribusikan beras. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan peningkatan produksi pangan sebagai solusi jangka panjang. Upaya ini mencakup sektor tanaman pangan maupun peternakan.
“Rakor ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan menjaga ketahanan pangan terutama menghadapi tantangan harga dan distribusi yang kerap terjadi menjelang hari-hari besar keagamaan. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak melakukan panic buying, mengingat pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga di pasaran,” pungkasnya. (b/rah)