David Suwarto: Sinemart Bangun Studio di Sentul untuk Efesiensi dan Tingkatkan Daya Saing

1 month ago 23

SHNet, Jakarta- Dirut Sinemart, David Suwarto mengungkapkan, studio dibangun secara efisien dengan hanya fasilitas yang dibutuhkan untuk meminimalisir biaya dan meningkatkan daya saing. Produksi sinetron dipusatkan di studio baru ini untuk efisiensi waktu dan biaya, dengan kesepakatan 5 jam siaran per hari dari Asia TV.

“Studio dirancang untuk memaksimalkan penggunaan ruang, dengan setiap bangunan syuting dapat memiliki berbagai tampilan untuk menghindari kesan repetitif. Penggunaan properti dan alat-alat disentralisasi di gudang untuk mengurangi biaya sewa dan pembelian,” ujar David Suwarto kepada 20-an  dosen Institut Media Digital Emtek yang mengunjungi studio alam di Sentul, akhir pekan ini.

Lebih lanjut David mengatakan, pembangunan set yang permanen mengurangi biaya sewa lokasi syuting yang mahal. Terdapat rencana pengembangan fasilitas pendukung seperti dormitory dan workshop, namun pembangunannya dilakukan bertahap sesuai kebutuhan. Konsep awal studio yang lebih mewah dan mencakup fasilitas wisata diabaikan demi efisiensi biaya. Fasad bangunan dan set syuting yang lebih megah dan permanen direncanakan untuk meningkatkan kualitas produksi dan daya saing.

Menjawab pertanyaan salah satu dosen tentang bagimana strategi produksi, David mengatakan, strategi produksi sinetron yang terbukti berhasil akan dipertahankan, sementara eksplorasi genre baru akan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari risiko kerugian.

“Perusahaan memiliki 5 penulis andalan yang mampu menghasilkan naskah dengan jumlah halaman yang signifikan setiap hari, dan sedang menjajaki untuk menambah 5 penulis lagi,” jawab David ketika ditanya berapa banyak Cinemart mempunyai penulis naskah.

Di lain sisi, penggunaan AI dalam penulisan naskah masih terbatas pada pengisian skenario, bukan pembuatan plot utama. Perusahaan fokus pada efisiensi dan pengurangan risiko, menghindari eksperimen yang berpotensi merugikan.

Dirut Sinemart, David Suwarto (kedua dari kanan ) foto bersama dengan Reektor IMDE, Totok Soefiyanto, Ed.D (kiri) dan para dosen Kajian Film dan Media IMDE.

Tantangan Industri Kreatif

Masih menjawab pertanyaan seorang dosen, David menjelaskan, industri kreatif di Indonesia menghadapi tantangan integritas dan inovasi yang terbalik. Acara seperti MasterChef Indonesia berbeda dengan versi luar negeri, menunjukkan perbedaan kualitas dan nilai. Ada kesulitan dalam menciptakan konten edukatif dan positif yang diterima masyarakat.

Rektor IMDE, Totok Amin Soefiyanto, Ed.D mengataka, knjungan para dosen IMDE ini untuk mengetahui secara langsung bagaimana sebuah produksi sinetron dan FTV dilakukan di satu tepat yang tergolong efektif dan efesien. Selain itu para dosen dapat mengetahuiberbagai sarana dan peralatan produksi di studio ini.

Usai presentase Dirut Cinemart Davis Suwarto tentang studio di Sentul dan bagaimana produksi dilakukan, para dosen berkeliling melihat fasilitas dan sarana yang ada di kawasan  studio seluas 20 hektare, namun baru dimanfaatkan sebagian saja sesuai kebutuhan .  (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan