Bullying di Sekitar Kita: Luka Tak Kasat Mata yang Harus Segera Dihentikan

3 weeks ago 20
Ilustrasi

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Di sekolah, di rumah, bahkan di layar ponsel bullying bisa muncul dari mana saja. Ia tak selalu datang dalam bentuk tamparan atau tendangan. Kadang, cukup lewat kata-kata yang menyakitkan, komentar di media sosial, atau ejekan yang terus diulang. Bullying kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental dan masa depan anak-anak kita.

Sayangnya, banyak orang masih menganggap remeh. Sebagian bahkan menilai, “Itu hanya bercanda.” Padahal, bagi korban, dampaknya bisa berkepanjangan bahkan mengubah seluruh hidup mereka.

Bullying Tak Lagi Soal Fisik

Dalam banyak kasus, bullying memang identik dengan kekerasan fisik. Namun bentuk lainnya yang lebih halus seperti bullying verbal dan siber (cyberbullying) jauh lebih sulit terdeteksi namun tak kalah menyakitkan. Menghina, mempermalukan di depan umum, menyebar gosip, hingga menyerang melalui media sosial, semuanya termasuk tindakan perundungan.

Tak hanya terjadi di lingkungan sekolah, bullying juga kerap hadir dalam keluarga. Pelaku bisa saja berasal dari lingkaran terdekat: orang tua, saudara kandung, atau bahkan kerabat. Korban pun sering kali memilih bungkam, berbohong, atau menyembunyikan luka batin mereka agar tidak makin disudutkan.

Efek Psikologis yang Serius

Korban bullying berisiko mengalami dampak jangka panjang, seperti:

  • Depresi, kecemasan, insomnia, dan keinginan menyakiti diri sendiri
  • Menurunnya prestasi akademik
  • Takut berinteraksi sosial
  • Ketergantungan pada obat-obatan
  • Bahkan keinginan untuk bunuh diri

Dalam kasus lain, korban bisa tumbuh menjadi pelaku. Mereka yang pernah disakiti bisa menyalurkan dendamnya kepada orang lain, menciptakan rantai kekerasan yang terus berlanjut.

Kenali Tanda-Tanda Anak Jadi Korban Bully

Sebagai orang tua atau guru, kepekaan terhadap perubahan sikap anak adalah hal yang krusial. Beberapa tanda umum yang patut diwaspadai:

  • Anak sering mengeluh sakit atau malas ke sekolah
  • Tiba-tiba menarik diri dari pergaulan
  • Barang pribadi hilang atau rusak
  • Sering tampak gelisah setelah menggunakan ponsel
  • Menunjukkan tanda stres berlebih atau luka fisik yang mencurigakan

Jika hal-hal ini terjadi, ajak anak bicara dari hati ke hati. Dengarkan tanpa menghakimi. Jangan buru-buru menyuruhnya “melawan balik,” tapi bantu ia membangun keberanian dan ketegasan untuk membela diri secara sehat.

Langkah Nyata untuk Menghentikan Bully

Menghentikan bullying bukan hanya tugas sekolah, tapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Dilansir dari alodokter, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Tanamkan nilai moral sejak dini. Anak yang dibesarkan dengan empati cenderung tidak menjadi pelaku bully.
  • Ajarkan anak bersikap asertif. Bukan agresif, tapi tegas dan tetap hormat.
  • Bina komunikasi yang terbuka. Anak perlu tahu bahwa mereka bisa bercerita tanpa takut dimarahi atau diabaikan.
  • Lapor ke pihak sekolah. Jika kasus terjadi di sekolah, orang tua berhak menuntut perlindungan untuk anaknya.
  • Berikan konseling. Baik kepada korban maupun pelaku, agar akar masalah bisa ditangani dengan tepat.

Jika pelakunya adalah anak Anda sendiri, hindari menyalahkan tanpa memahami latar belakangnya. Ajak berdiskusi dan arahkan mereka untuk mengerti konsekuensi dari perbuatannya. Peran orang tua sebagai teladan utama tidak bisa digantikan.

Perlu Gerakan Bersama

Bullying adalah masalah sistemik yang perlu pendekatan kolektif. Guru, orang tua, teman sebaya, bahkan kebijakan institusi harus bersinergi. Menciptakan lingkungan aman untuk anak bukan sekadar kewajiban moral, tapi investasi untuk masa depan generasi penerus.

Jika Anda mencurigai anak mengalami dampak serius dari bullying, jangan tunda untuk berkonsultasi ke psikolog anak. Tindakan kecil hari ini bisa menyelamatkan hidup mereka di masa depan.(*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan