Besok, Rukyat Hilal Serentak

1 month ago 38

--KH. Muslim: Sambut Ramadan dengan Gembira

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Bulan suci Ramadan 1446 Hijriah tinggal menghitung hari. Kepastian jatuhnya 1 Ramadan menunggu keputusan pemerintah berdasarkan rukyat hilal. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sultra, Drs. KH. Muslim., M.Si, menjelaskan kriteria penentuan awal Ramadan berdasarkan hilal, yaitu minimal 3 derajat.

"Insya Allah, tanggal 28 Februari 2025 (besok), akan dilakukan rukyat hilal serentak di beberapa titik di Indonesia. Hasil laporan dari berbagai wilayah akan menjadi dasar sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadan," ujar KH. Muslim dalam diskusi podcast Kendari Pos Channel yang dipandu Wakil Direktur Kendari Pos, Awal Nurjadin di Graha Pena, Rabu (26/2/2025).

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Sultra itu juga membahas metode penentuan awal Ramadan antara hisab dan rukyatul hilal, yang seringkali menimbulkan perbedaan pendapat di masyarakat. "Yang penting kita pahami metode pendekatan hisab yang dilakukan saudara kita Muhammadiyah, dan kita akan melaksanakan puasa ketika kita melihat hilal yang kita harapkan," jelasnya.

Menurut KH.Muslim, perbedaan hisab dan rukyat hanya soal perbedaan jam, bukan perbedaan nilai sah puasa. "Jangan dipermasalahkan perbedaan nisab, yang penting kita satukan tekad untuk memulai puasa bersama di tanggal 1 Ramadan," tuturnya.

KH. Muslim menjelaskan mengenai perbedaan waktu pelaksanaan ibadah puasa di berbagai wilayah Indonesia, yang disebabkan oleh perbedaan waktu azan.
Ia menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah suatu masalah, melainkan memiliki hikmah tersendiri. "Perbedaan waktu azan di Indonesia Timur, Tengah, dan Barat menunjukkan adanya keberkahan dalam perbedaan itu sendiri," katanya.

KH. Muslim mengajak seluruh umat Islam menyambut bulan Ramadan dengan penuh kegembiraan dan kesiapan fisik serta mental. Ia menekankan pentingnya persiapan rohani dan jasmani untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.

"Tahrib Ramadan, atau menyambut Ramadan, harus dilakukan dengan lapang dada, semangat tinggi dan bergembira. Siapa yang bergembira menyambut Ramadan, diharamkan jasadnya disentuh api neraka," ungkap KH. Muslim

Ia menjelaskan bentuk kegembiraan dalam menyambut Ramadan dapat berbeda-beda di setiap individu, namun semangat menyambut bulan suci ini adalah hal yang utama.
KH. Muslim menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menjalankan ibadah puasa, serta menghindari kesalahpahaman mengenai puasa tiga hari saja (awal, tengah, dan akhir Ramadan). "Sempurnakan puasamu dan laksanakan karena Allah SWT. Puasa selama 29 atau 30 hari, bukan hanya 3 hari. Setiap hari di bulan Ramadan adalah penting," tegasnya.

KH. Muslim juga mengajak masyarakat untuk bersyukur atas kesempatan bertemu Ramadan, bulan di mana amal ibadah dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, bahkan hingga 1000 kali lipat di malam Lailatul Qadar.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga kualitas ibadah dengan menahan diri dari emosi dan perkataan yang tidak baik. "Manfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya, puasa dengan khusyuk, dan jaga kualitas ibadah kita," pesannya.

Di akhir diskusi, KH. Muslim memberikan 3 imbauan kepada masyarakat. Pertama, menyambut Ramadan dengan meningkatkan kualitas kesehatan. Kedua, menjaga toleransi antar umat, baik yang berpuasa maupun tidak. Ketiga, memulai puasa bersama di tanggal 1 Ramadan, dengan memahami bahwa perbedaan hisab dan rukyat hanyalah soal pergeseran waktu.

Pantau Hilal di Pantai Bahari Kolaka

Sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Sultra, Muhammad Saleh, mengatakan pihaknya akan memantau hilal untuk menentukan awal Ramadan. Pemantauan dilakukan di Pantai Bahari, Kelurahan Anaiwoi, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, pada Jumat, 28 Februari 2025.

Lokasi pemantauan hilal dipilih dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk kondisi geografis dan visibilitas langit. Hasil pemantauan hilal akan menjadi pertimbangan penting dalam sidang Isbat yang menentukan dimulainya ibadah puasa bagi umat Islam di Sultra.

Tim pemantau hilal dari Kemenag Sultra terdiri dari para ahli astronomi dan agama. Mereka akan menggunakan peralatan canggih untuk mengamati posisi hilal setelah matahari terbenam. Data yang dikumpulkan akan diverifikasi dan dianalisis sebelum disampaikan ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan sidang Isbat.

Muhammad Saleh mengimbau masyarakat Sultra untuk bersabar dan menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadan.
"Mari kita menunggu hasil sidang isbat dan keputusan pemerintah. Ini sesuai dengan fatwa MUI Nomor 2 tahun 2004 tentang penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah," ujarnya.

Berdasarkan data hisab, ijtimak (konjungsi) bulan dan matahari diperkirakan terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025, sekira pukul 07.44 WIB. Prediksi astronomis menunjukkan potensi terlihatnya hilal, dengan ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan antara 3° 5,91’ hingga 4° 40,96’, dan sudut elongasi antara 4° 47,03’ hingga 6° 24,14’. (ags/b)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan