60 Tahun Pencarian: Indonesia Dimana Makam Chris Soumokil?

5 hours ago 6

Oleh: Anthon Saiya

Amsterdam-Tanggal 12 April 2026 menandai tepat enam dekade sejak eksekusi Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil, tokoh sentral dalam sejarah pergolakan di Maluku pasca pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT).

Masa 60 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun fragmen sejarah yang ditinggalkan mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT) ini tetap menjadi hutang sejarah Indonesia.

Selama 60 tahun, Nyonya Josina Soumokil-Taniwel mencari makam suaminya. Nyonya Josina sudah berusia sepuh tapi tak pernah lelah mencari, bertanya dimana makam suaminya. Pertanyaan ini sederhana tapi tiada yang bisa jawab kecuali militer Indonesia.

Bertahun-tahun Nyonya Josina bersama puteranya Thomas (Tommy) Soumokil tak lelah menanti kabar makam Chris Soumokil. Bahkan, Tommy Soumokil sudah meninggal pada tahun 2023. Tapi, Tommy sampai akhir hayatnya tidak pernah mengetahui makam ayahnya.

Lokasi pasti makam Chris Soumokil tetap menjadi misteri selama puluhan tahun dan menjadi titik emosional bagi keluarganya, termasuk istrinya, Josina Soumokil, yang terus memperjuangkan kejelasan sejarah hingga di usia sepuh saat ini.

Nyonya Soumokil pernah menyurati pemerintah Indonesia untuk menanyakan makam Chris Soumokil, tapi otoritas Indonesia membisu. Sejauh pertanyaan ini tidak terjawab, maka anak Maluku dari generasi ke generasi, dulu, kini dan masa depan akan selalu tanya dan bertanya. Sebab, selama 60 tahun terbukti warga keturunan Maluku di Belanda selalu menjaga memori dan pertanyaan: dimana makam Dr.Mr. Christian Robert Steven Soumokil?

Sejarah selalu memiliki dua sisi. Begitu juga kisah Dr.Chris Soumokil. Dia memiliki pendidikan hukum bergengsi pada masanya dari Leiden, Belanda.

Chris Soumokil merupakan generasi intelektual pribumi yang mengenyam pendidikan Barat. Kemudian, dari Belanda, Chris kembali ke Hindia Belanda sebagai jaksa. Kemudian, sejarah membelokkan arahnya sebagai politisi karena merupakan salah satu tokoh kunci NIT.

Sikap Chris untuk mendukung proklamasi RMS bukan tanpa dasar. Sebagai ahli hukum, Chris sangat memahami hak Maluku Selatan untuk menentukan nasib sendiri. Chris teguh dalam prinsip dan menolak tunduk karena memilih berjuang sampai akhir.

Sebelum ditangkap pada 2 Desember 1963, Chris menghabiskan 13 tahun di pegunungan Pulau Seram untuk bergerilya. Satu masa perlawanan yang panjang. Indonesia melekatkan stigma pemberontak, tapi belum tentu bagi Maluku.

​​Setelah melalui persidangan kontroversi karena berlangsung singkat dan tanpa pembelaan (pledoi) di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub), Soumokil divonis hukuman mati.

Tepat 60 tahun, 12 April 1966 pada era transisi Soekarno ke Soeharto, eksekusi dilakukan saat keremangan fajar di Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Peristiwa 60 tahun lalu ini akan terus mengusik anak-anak Maluku. Chris Soumokil menjalani eksekusi dengan kepala tegak dan tanpa penyesalan.

Kematiannya menandai melemahnya kepemimpinan formal RMS di Maluku tapi sekaligus merupakan momentum pemindahkan pusat pergerakan tersebut ke Belanda lewat pemerintahan darurat RMS yang masih eksis sampai saat ini.

Tapi kisah perjuangan Chris Soumokil tetap menjadi pengingat dan refleksi untuk selalu bertanya, Maluku kaya sumber daya alam, tapi miskin di atas kekayaannya. Jangan-jangan memang Soumokil yang benar.

Anthoni Saiya (ist)

Momentum

Bagi para sejarawan, momen 60 tahun ini adalah kesempatan untuk meninjau kembali arsip-arsip lama dengan perspektif yang lebih dingin dan objektif. Namun, sangat apresiasi adanya upaya anak-anak Maluku yang sedang menyiapkan perjalanan dan perjuangan Chris Soumokil dalam buku biografi. Semoga penulisan buku ini berjalan lancar dan menjadi kepedulian semua pihak. Sebab, hingga kini belum ada biografi Chris Soumokil yang detail dan lengkap.

Bagi lima generasi komunitas Maluku di Belanda, 12 April adalah hari berkabung sekaligus penghormatan. Bagi generasi ini, Maluku Selatan belum selesai. Fakta sejarah menunjukkan Maluku Selatan dipaksa tunduk di bawah laras senjata, bukan atas dasar kerelaan. Ingat, ada juga negara yang tercerai berai ratusan atau ribuan tahun tapi ketika masa kesadaran itu bangkit tiada yang bisa menghentikan ketika mereka kembali ke tanah leluhur.

Lebih dari itu, keberadaan beberapa ruas jalan Chris Soumokil dan Tugu Soumokil di Belanda bukan saja bentuk penghormatan, tapi saksi bisu bahwa meski sebuah gerakan politik dapat dipatahkan, namun memori kolektif sebuah bangsa akan tetap mencari ruang untuk bernapas, bahkan di tanah yang jauh dari asal-usulnya.

Selain itu, juga sebagai upaya memelihara memori kolektif bahwa pernah ada pendahulu Maluku yang melihat Maluku bukan sebagai suku atau sub suku, tapi merupakan sebuah Bangsa yang berhak menentukan nasibnya sendiri dan bukan diserahkan ke bangsa lain yang melahirkan ironi miskin di atas kekayaan alam yang melimpah.

Kalau ada generasi Maluku yang mencerca perjuangan Maluku, silakan cerca sepuasnya. Tapi, sebelum mencerca sebaiknya duduk tenang dengan hembusan angin pantai dan merenung, berkat apa yang tidak ada di Maluku, mulai era rempah, minyak, gas, emas dan pandanglah luas lautan dengan kandungan kekayaan ikan yang melimpah, tapi Maluku miskin di atas semua kekayaan dengan penduduk sekitar beberapa juta jiwa.
Setelah merenung, silakan lanjut mencerca kalau memang bahagia dengan kemiskinan di atas sumber daya alamnya.Mena Moria.(*)

Penulis, Anthony Saija. Institute for Strategic Studies Caribbean Curacao.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan