Pj Kades Lakapera, Alimudin
Kendaripos.co.id -- Pemerintah Desa Lakapera, Kabupaten Buton Tengah, mulai menata pembangunan dari kebutuhan paling mendasar masyarakat. Persoalan air bersih yang selama ini menjadi keluhan utama warga kini ditargetkan selesai sebelum desa melangkah ke program penguatan ekonomi.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Lakapera, Alimudin mengatakan bahwa program penyediaan air minum melalui Pansimas dan PSEW telah rampung dibangun dan segera diserahkan kepada masyarakat. Program yang didukung anggaran sekitar Rp1 miliar itu saat ini sudah melayani 74 sambungan rumah di Dusun Lampungkura dan Dusun Balikakuni.
Menurutnya, keberadaan air bersih menjadi fondasi pembangunan desa. Karena itu pemerintah desa memilih memprioritaskan layanan dasar dibanding pembangunan fisik lain yang belum mendesak.
“Masalah terbesar masyarakat di sini memang air. Target kami tahun 2026 persoalan air bersih di Lakapera harus tuntas, termasuk penambahan sekitar 100 sambungan rumah lagi di wilayah yang masih kesulitan,” kata Alimudin, Rabu (11/2).
Ia menegaskan setelah kebutuhan dasar terpenuhi, barulah desa mendorong sektor ekonomi. Struktur mata pencaharian masyarakat Lakapera didominasi petani, sehingga arah kebijakan pembangunan diarahkan pada peningkatan pendapatan warga.
Sekitar 80 persen penduduk berprofesi sebagai petani.
Pemerintah desa kini mendorong pengembangan jagung kuning sebagai komoditas unggulan baru. Kurang lebih 10 hektare lahan telah ditanami dan sebagian petani mulai memasuki masa panen. Alimudin juga menjelaskan, jagung dipilih karena memiliki pasar yang jelas. Di wilayah kecamatan, usaha peternakan ayam berkembang dan membutuhkan pasokan pakan berbahan jagung secara terus-menerus.
“Yang kami kejar bukan hanya bangunan fisik, tetapi penghasilan masyarakat. Jagung punya pasar pasti karena kebutuhan pakan ternak tinggi, sehingga petani tidak kesulitan menjual hasilnya,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah desa juga mendorong peremajaan tanaman jambu yang sudah tua dan tidak lagi produktif. Selama masa tanam ulang, petani diarahkan menanam jagung sebagai tanaman sela agar tetap memperoleh pemasukan sambil menunggu tanaman utama berproduksi kembali.


















































