
--4.524 Kasus, 20 Pasien Meregang Nyawa
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman. Kondisi cuaca saat ini sangat mendukung pengembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Tak heran, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) gencar melakukan langkah strategis guna mencegah penyebaran penyakit DBD. Apalagi, kasus DBD melonjak tajam pada awal tahun 2024 lalu.
Kepala Dinkes Sultra Hj Usnia mengatakan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang perlu menjadi perhatian terutama dalam penanganan DBD. Sebagai antisipasi, pihaknya telah melakukan berbagai intervensi sejak awal tahun. Naik dalam hal penanganan pasien maupun upaya pencegahan DBD
“Penyebaran DBD hanya bisa dicegah jika ada peran aktif dari semua pihak, termasuk masyarakat. Kita harus fokus mencegah pengembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai penyebab utama penyakit ini,” jelas Hj Usnia kemarin.
Dalam upaya menekan penyebaran DBD, Dinkes Sultra menggalakkan pola hidup bersih sehat (PHBS) dan menggalakan 3M Plus. Gerakan 3M plus meliputi Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah air dan Mendaur ulang barang bekas. Plus adalah upaya lain seperti menggunakan obat nyamuk, memasang kawat anti nyamuk dan menjaga ventilasi rumah tetap bersih.
"Jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala DBD, seperti demam tinggi, nyeri otot dan ruam kulit, segera bawa pasien ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Di sisi lain, Dinkes bisa melakukan fogging di lingkungan pasien DBD," ujarnya mengingatkan.
Saat ini, Dinkes Sultra terus memperkuat koordinasi dengan kabupaten dan kota guna meningkatkan efektivitas penanganan kasus DBD. Setiap daerah diimbau untuk lebih responsif dalam menangani laporan masyarakat terkait penyebaran DBD dan segera melakukan tindakan pencegahan
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak lengah terhadap ancaman DBD, khususnya di tengah musim penghujan seperti sekarang. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah kunci utama dalam mencegah penyakit ini. Melalui langkah-langkah proaktif yang kita lakukan bersama dapat meminimalisir dampak negatif dari penyebaran DBD," harapnya
Selain penanganan langsung, pihaknya juga fokus pada program edukasi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya DBD. Sosialisasi mengenai PHBS dan gerakan 3M Plus dilakukan secara masif, terutama di daerah-daerah yang memiliki angka kasus DBD tinggi.
Sepanjang 2024 lanjutnya, kasus DBD terbilang tinggi. Secara keseluruhan, tercatat 4.524 kasus, dan 20 pasien diantaranya meninggal dunia. Kasus meninggal tertinggi di Kota Kendari dengan 13 pasien. Kota Kendari sendiri tercatat 1.899 DBD. Konawe Selatan (Konsel) dengan kasus tertinggi kedua. Dari laporan yang masuk, ada 656 kasus dengan 4 kasus meninggal dunia (lengkap lihat grafis).(b/rah)
KASUS DBD SEPANJANG 2024
- Kota Kendari , 1.899 DBD, 13 Pasien Meninggal Dunia
- Konawe Selatan, 656 kasus, 4 Pasien Meninggal Dunia
- Kolaka, 427 Kasus
- Konawe, 296 kasus, 1 Pasien meninggal dunia
- Kolaka Timur, 207 kasus
- Muna 175 kasus
- Buton Utara 134 kasus
- Wakatobi 120 kasus
- Kota Baubau 118 kasus
- Kolaka Utara 98 kasus
- Buton 89 kasus
- Bombana 72 kasus
- Konawe Kepulauan 71 kasus
- Buton Selatan, 50 kasus,1 Pasien meninggal dunia
- Muna Barat 47 kasus
- Buton Tengah 39 kasus
- Konawe Utara, 26 kasus, 1 Pasien meninggal dunia