
--Kasus Meningkat, Dinkes Gencar Screnning
KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Penyakit kusta, atau lepra, merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyerang kulit, saraf tepi, saluran pernapasan, dan mata. Jika tidak ditangani dengan tepat, kusta berisiko menyebabkan kerusakan serius pada jaringan tubuh yang terinfeksi, termasuk kecacatan permanen. Meski begitu, dengan pengobatan yang tepat, penyakit ini dapat disembuhkan sepenuhnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kendari Ellfi mengungkapkan kasus kusta di Kota Kendari mengalami peningkatan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data, jumlah kasus pada tahun 2024 tercatat sebanyak 25 kasus, naik dari 21 kasus yang tercatat pada tahun 2023.
“Jumlah kasus memang meningkat, tapi semua penderita berhasil ditangani dengan pengobatan yang baik. Dari 25 kasus yang ditemukan, tidak ada satu pun yang berujung pada kecacatan,” ungkapnya kemarin.
Gejala awal kusta sambungnya, sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Salah satu tanda utama adalah munculnya bercak putih atau merah pada kulit. Bercak ini biasanya tidak terasa, namun bisa mati rasa. Ia menegaskan pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
“Jika menemukan gejala seperti itu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pengobatan dini sangat penting untuk mencegah penularan dan mempercepat pemulihan,” jelasnya.
Pengobatan kusta kata dia, membutuhkan waktu yang bervariasi antara 6 bulan hingga 2 tahun, tergantung pada tingkat keparahan infeksi. Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit penderita, percikan ludah, atau dahak saat penderita batuk atau bersin. Oleh karena itu, pencegahan menjadi salah satu fokus utama Dinas Kesehatan Kendari.
Sebagai upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kendari telah menggencarkan screening kesehatan, terutama di sekolahsekolah dasar. Langkah ini diambil karena anakanak lebih rentan terhadap penyakit ini akibat perilaku kebersihan yang kurang terjaga dibandingkan dengan orang dewasa.
“Anak-anak seringkali mengabaikan gejala awal penyakit, ditambah kurangnya pengawasan dari orang tua. Kegiatan skrining ini akan kami masifkan agar deteksi dini dapat dilakukan. Diharapkan melalui pendekatan yang proaktif, masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan kulit dan kebersihan,” tutupnya. (b/iky)